Rabu, 11 Mei 2016
Kutunggu kau di pelaminanabnanti 10 C
Haiii guysss... gimana menurut kalian.. makin seru gak??
Lanjut lagi ya.....
Author prov..
Hari ini Rama senang banget mengingat bentar lagi MISInya bakalan berhasil. Nyatanya Pahmi sudah bisa mendekati Mita. Tepatnya setelah kejadian dikantin itu. Rama akuin cara Pahmi dekatin Mita waktu itu memang sangat pas. Mita saat itu pasti menganggap Pahmi sebagai super hero.
@ restoran
Tiba2 ponsel Rama berbunyi, dan ternyata ada pesan masuk di BBMnya. Pas dia buka, ternyata itu pesan dari pahmi yang memberitahukan kalau dia pengen ngajakin Mita dan Sisil main ke restoran keluarga mereka.
Rama yang juga ikut bantu2 disana, langsung panik dan buru2 ngumpet ke dapur. Dari sana dia mengintip Pahmi dengan manisnya melayani kedua cewek cantik itu.
"Wah, hebat juga ya si Pahmi, sampai bisa dekatin Mita." gumam Rama.
Sekitar 30 menit, akhirnya Mita dan Sisil pergi dari restoran. Mereka pamit kepada Pahmi.
Weisss hebat juga lu, udah bisa dekatin si Mita." Kata Rama setelah keluar dari tempat persembunyiannya.
Saat ini dia sudah duduk di samping Rama yang sedang malamun.
"Eh, kakak, baru nongol aja. Habis ngumpet dimana?" Jawab pahmi berusaha senyum.
Yah, sebuah senyum yang di paksakan.
"tadi gua ngumpet di dapur. Btw, lu kok bisa jalan ama mereka? Dua2nya lagi." Komen Rama seolah tidak mau tahi dengan apa yang di rasakan oleh sang adik.
"Itu tadi gua nyamperin mereka di butik muslimah, langganan mamah." Jawab pahmi memelas.
Melihat itu, Rama menjadi heran dengan sikap sang adik.
"Btw, kenapa lu, kok jadi malah gak bersemangat gitu. Bukannya lu senang bisa dekatin Mita, itu kan berarti MISI kita berhasil dong bro" kata gua begitu melihat Pahmi kurang bersemangat.
Akhir2 ini, gua merasa ada yang aneh sama pahmi.
"Gua takut kak, kalau sampe ketahuan sama Mita dan nyakitin hatinya." Jawab Pahmi sedih.
Tanpa sadar, ternyata Pahmi sudah bermain api sama Mita dan membuatnya mulai takut kehilangan gadis itu.
mendengar ucapan sang adik, jelas saja Rama tidak ingin Pahmi sakit hati, sama kayak dia dulu yang telah begitu jauh mencintai wanita yang jelas-jelas tidak mencintainya. Bahkan wanita itu tega bernesra-mesraan di depannya waktu itu.
Membayangkannya saja, membuat Rama merasa emosi.
Apalagi rama tahu jika Mita juga pasti tidak akan nerima Pahmi kalau sampe Pahmi ngajakin dia buat pacaran.
Bukan karena mita cewek yang jahat seperti laura, tapi karena Rama tahu tipa wanita yang tidak mau yang namanya pacaran. Melainkan dirinya hanya menginginkan seorang suami, yang halal di mata hukum dan agama.
Lantas, yang menjadi pertanyaan, apakah Mita mau menikah di usia mudah?
Tentu saja jawabannya tidak. Karena gadis itu tipikal yang menjunjung tinggi akan pentingnya pendidikan.
Saat ini Rama merasa dilema.
@Rumah..
Rama prov...
"Lu harus melupakan perasaan lu terhadap Mita" kataku terhadap pahmi.
"Memangnya kenapa kak? Apa karena kakak juga suka sama dia?"
"Bukan karena itu dek, tapi gua gak mau nanti lu sakit hati karena cinta lu nantinya bertepuk sebelah tangan."
"Kenapa kakak bisa seyakin itu Haaa!!"
"Karena gua tau kalau dia itu tipe cewek yang memegang komitmennya."
"Terus kalau sudah tahu seperti itu, kenapa kakak menyuruh aku buat dekatin dia? Apakah ini yang kakak mau? Kalau aku bisa jatuh cinta sama dia, tapi akhirnya biar merasakan sakit hati, seperti kakak dulu? Iya kan?"
Gua hanya diam, tidak bisa berkomentar apa lagi. Gua merasa sangat bodoh, karena telah menjerumusin adik kesayangan gua untuk sakit hati karena cinta.
Gua yakin, kalau pahmi benaran cinta pada Mita, bahkan gua bisa melihat ada butiran air mata keluar dari mata sayunya itu.
"Dek, gua minta maaf. Gua udah bikin lu jadi seperti ini, tapi gua janji kalau lu memang benar2 suka sama dia, gua bakalan bantuin lu buat dapatin Mita." Kataku padanya.
Yah, kali ini gua bakalan berusaha membuat Mita bisa di miliki Pahmi. Gimanapun caranya.
Bersambung.....
Bagian 13
Author prov..
Mita baru saja selesai sholat magrib, yang hanya dilakukan seorang diri di dalam kamarnya. Tidak seperti biasanya ketika mamah dan papahnya bisa ontime tiba di rumah seperti sekarang, dia pasti akan selalu melakukan sholat berjamaah di musholah pribadi di lantai dasar rumahnya itu, yg memang disediain untuk para tamu dan keluarga besar wijaya pastinya.
Itu semua karena kejadian siang tadi. Jadinya sekarang ini Mita kurang bersemangat menjalani aktivitasnya. Berbeda dari biasanya yang selalu hidup penuh keceriaan.
Mita kembali tersungkur di atas tempat tidurnya. dia seolah lupa, kalu ujian semester masih harus hadapinya. Sepertinya kagalauan yang ia rasakan membuat mita ingin segera bertemu pahmi, dan meminta penjelasan atas kejadian ini semua pada darinya.
"Pokoknya besok gua bakalan ngomong sama pahmi" gumam Mita geram.
Ketika mita sedang sibuk membayangkan hari esok, tiba2 seseorang mengetok pintu kamar mita.
"Non ini bibi bawain non makan malam" ternyata bi inem pembantunya sedang membawakan mita makanan.
"Iya bi, bentar" jawab mita memelas dengan suara serak khas orang habis nangis.
Pintu pun membuka pintu dan membiarkan bi Inem masuk ke dalam kamarnya.
"Non gak kenapa-napa kan?" Tanya bi inem khawatir.
Sejak kejadian siang tadi, bi inem tau kalau Mita bakalan malas buat turun ke bawah. Makanya bi inem berinisiatif mengantarkan makan malam untuknya.
"Inggak kok bi, cuman masih kesal aja soal tadi sore." Jawabku seadanya.
"Kalau boleh bibi tahu, memangnya cewek yang gak sopan itu siapa sih? Temannya non Mita?"
"Dia itu kakak kelas aku disekolah bi, aku juga gak tahu kenapa dia sampe tau rumah ini." Jelasku
"Terus kenapa dia bisa marah2 gitu sama non? Padahal kan non setahu aku gak pernah ada musuh kan selama ini."
"Katanya aku sudah dekatin cowok incarannya dia, padahal cowok itu sendiri gak pernah suka sama dia. Dan bibi tau gak siapa cowok yang di bilang ama dia itu?"
"Siapa memangnya non?"
"Si Pahmi, cowok yang waktu itu pernah main ke sini." Jawabku menjelaskan.
"Walah walah, kalau gitu sih, berarti memang dianya aja yang ngarap buat dapatin Pahmi yang sebebarnya cuman naksir non." Jawab bi Inem sok bijak.
"Bibi bisa aja." Responku kurang bersemangat.
Entah kenapa menyebut namanya saja, hati gua merasa sakit.
Bi Inem juga belum tau, kalau ternyata Pahmi yang sudah membuat Mita sakit saat ini.bapalagi mengingat dia jadi bahan taruhan. Mita belum siap menceritakan secara gamlang.
Biarpun mita sering curhat tentang semua masalahnya pada bi inem, karena bi inem sudah bekerja dirumahnya sejak ia masih kecil sampe ia sekarang menjadi besar. Mita gak mau kalau bi inem ikutan sedih dengan kabar yang telah di terimanya saat ini.
"Gua sampe gak habis fikir, kenapa Pahmi sampai tega mainin gua kayak gini, apalagi di jadiin bahan taruhan. Rasanya gua seperti barang murahan yang tidak berguna." Batin Mita.
Saat ini ia kembali di tinggal seorang diri, karena barusan mamah memanggil bi inem menuju dapur.
"Tapi buat apa? Dan dia taruhan sama siapa? Apa ini ada hubungannya sama kak Rama juga?" lagi-lagi otak mita masih belum terima atas yang diteminya. Belum lagi sikap Pahmi yang terlihat sangat tulus dengannya.
***
Pukul 06.00 wib, gua pun akhirnya telah siap2 pergi ke sekolah. Kali ini, gua gak berniat mengemudi mobil seorang diri, makanya gua minta tolong sama bang panji, supir pribadi papahku gua minta diantarin dia ke sekolah.
@ gerbang sekolah
"Selamat pagi non, tumben diantar?" Tanya pak wawan satpam sekolah.
"Iya nih pak, lagi kurang enak badan, Jadinya kurang nyaman kalau nyetir sendiri"
Pak wawan sudah kenal dengan keseharian mita yang selalu gembira, merasa aneh dengan tingkah laku gadis itu hari ini.
Tapi sebagai satpam, dia sama sekali tidak mengurusi akan hal itu. Jadinya pak wawan cuman diam dan gak berani berkomentar apa-apa lagi.
***
mita prov..
Setelah pukul 10.00 wib, di dalam kelas. sejak pagi tadi, gua sengaja gak ketemu pahmi. Begitu pun dengan kak Rama, gua sama sekali gak bicara denganya selama ujian berlangsung. sampai akhirnya gua merasa mantap untuk bertemu dengan pahmi dan meminta penjelasannya tentang kenapa dia sampai membuat gua jadi bahan taruhannya dan apa motivasinya sampai tega ngelakuin ini semua terhadap gua.
Sekarsng gua tengah menuju halaman belakang sekolah, dimana gua meminta pahmi menemuiku. Tadi gua mengabarinya lewat pesan singlat di BBM 10 menitan tadi.
Setibanya disana, gua melihat pahmi tengah berdiri sedirian. Gua lihat dia sedikit gelisa menunggu kedatangan gua yang sedang bersandar di tiang teras belakang sekolah itu.
"Ada apa mith, kok tumben tiba2 kamu minta ketemuan?" Kata pahmi penasaran dengan gadis cantik di depannya itu.
Walaupun matanya seperti sedikit sembab, tapi di mata pahmi gadis itu tetap terlihat sempurna.
Bersambung.....
***************************
Haiii... haiii... jangan lupa komentarnya ya.
Mita baru saja selesai sholat magrib, yang hanya dilakukan seorang diri di dalam kamarnya. Tidak seperti biasanya ketika mamah dan papahnya bisa ontime tiba di rumah seperti sekarang, dia pasti akan selalu melakukan sholat berjamaah di musholah pribadi di lantai dasar rumahnya itu, yg memang disediain untuk para tamu dan keluarga besar wijaya pastinya.
Itu semua karena kejadian siang tadi. Jadinya sekarang ini Mita kurang bersemangat menjalani aktivitasnya. Berbeda dari biasanya yang selalu hidup penuh keceriaan.
Mita kembali tersungkur di atas tempat tidurnya. dia seolah lupa, kalu ujian semester masih harus hadapinya. Sepertinya kagalauan yang ia rasakan membuat mita ingin segera bertemu pahmi, dan meminta penjelasan atas kejadian ini semua pada darinya.
"Pokoknya besok gua bakalan ngomong sama pahmi" gumam Mita geram.
Ketika mita sedang sibuk membayangkan hari esok, tiba2 seseorang mengetok pintu kamar mita.
"Non ini bibi bawain non makan malam" ternyata bi inem pembantunya sedang membawakan mita makanan.
"Iya bi, bentar" jawab mita memelas dengan suara serak khas orang habis nangis.
Pintu pun membuka pintu dan membiarkan bi Inem masuk ke dalam kamarnya.
"Non gak kenapa-napa kan?" Tanya bi inem khawatir.
Sejak kejadian siang tadi, bi inem tau kalau Mita bakalan malas buat turun ke bawah. Makanya bi inem berinisiatif mengantarkan makan malam untuknya.
"Inggak kok bi, cuman masih kesal aja soal tadi sore." Jawabku seadanya.
"Kalau boleh bibi tahu, memangnya cewek yang gak sopan itu siapa sih? Temannya non Mita?"
"Dia itu kakak kelas aku disekolah bi, aku juga gak tahu kenapa dia sampe tau rumah ini." Jelasku
"Terus kenapa dia bisa marah2 gitu sama non? Padahal kan non setahu aku gak pernah ada musuh kan selama ini."
"Katanya aku sudah dekatin cowok incarannya dia, padahal cowok itu sendiri gak pernah suka sama dia. Dan bibi tau gak siapa cowok yang di bilang ama dia itu?"
"Siapa memangnya non?"
"Si Pahmi, cowok yang waktu itu pernah main ke sini." Jawabku menjelaskan.
"Walah walah, kalau gitu sih, berarti memang dianya aja yang ngarap buat dapatin Pahmi yang sebebarnya cuman naksir non." Jawab bi Inem sok bijak.
"Bibi bisa aja." Responku kurang bersemangat.
Entah kenapa menyebut namanya saja, hati gua merasa sakit.
Bi Inem juga belum tau, kalau ternyata Pahmi yang sudah membuat Mita sakit saat ini.bapalagi mengingat dia jadi bahan taruhan. Mita belum siap menceritakan secara gamlang.
Biarpun mita sering curhat tentang semua masalahnya pada bi inem, karena bi inem sudah bekerja dirumahnya sejak ia masih kecil sampe ia sekarang menjadi besar. Mita gak mau kalau bi inem ikutan sedih dengan kabar yang telah di terimanya saat ini.
"Gua sampe gak habis fikir, kenapa Pahmi sampai tega mainin gua kayak gini, apalagi di jadiin bahan taruhan. Rasanya gua seperti barang murahan yang tidak berguna." Batin Mita.
Saat ini ia kembali di tinggal seorang diri, karena barusan mamah memanggil bi inem menuju dapur.
"Tapi buat apa? Dan dia taruhan sama siapa? Apa ini ada hubungannya sama kak Rama juga?" lagi-lagi otak mita masih belum terima atas yang diteminya. Belum lagi sikap Pahmi yang terlihat sangat tulus dengannya.
***
Pukul 06.00 wib, gua pun akhirnya telah siap2 pergi ke sekolah. Kali ini, gua gak berniat mengemudi mobil seorang diri, makanya gua minta tolong sama bang panji, supir pribadi papahku gua minta diantarin dia ke sekolah.
@ gerbang sekolah
"Selamat pagi non, tumben diantar?" Tanya pak wawan satpam sekolah.
"Iya nih pak, lagi kurang enak badan, Jadinya kurang nyaman kalau nyetir sendiri"
Pak wawan sudah kenal dengan keseharian mita yang selalu gembira, merasa aneh dengan tingkah laku gadis itu hari ini.
Tapi sebagai satpam, dia sama sekali tidak mengurusi akan hal itu. Jadinya pak wawan cuman diam dan gak berani berkomentar apa-apa lagi.
***
mita prov..
Setelah pukul 10.00 wib, di dalam kelas. sejak pagi tadi, gua sengaja gak ketemu pahmi. Begitu pun dengan kak Rama, gua sama sekali gak bicara denganya selama ujian berlangsung. sampai akhirnya gua merasa mantap untuk bertemu dengan pahmi dan meminta penjelasannya tentang kenapa dia sampai membuat gua jadi bahan taruhannya dan apa motivasinya sampai tega ngelakuin ini semua terhadap gua.
Sekarsng gua tengah menuju halaman belakang sekolah, dimana gua meminta pahmi menemuiku. Tadi gua mengabarinya lewat pesan singlat di BBM 10 menitan tadi.
Setibanya disana, gua melihat pahmi tengah berdiri sedirian. Gua lihat dia sedikit gelisa menunggu kedatangan gua yang sedang bersandar di tiang teras belakang sekolah itu.
"Ada apa mith, kok tumben tiba2 kamu minta ketemuan?" Kata pahmi penasaran dengan gadis cantik di depannya itu.
Walaupun matanya seperti sedikit sembab, tapi di mata pahmi gadis itu tetap terlihat sempurna.
Bersambung.....
***************************
Haiii... haiii... jangan lupa komentarnya ya.
Haiii... haiii... udah mendekatin ending nih.. gua harap jangan jadi pembaca misterius ya, soalnya gua butuh komenbkalian.
****************************************
Mita prov..
Tidak terasa sudah tiga hari ujian sekolah berlanjut. Isu yang mengganjal selama hari pertama ujian lenyap begitu saja. Seperti halnya kedekatan gua bersama kak Rama dan Pahmi yang semakin hari semakin akrab. Semenjak gua tahu kak rama itu kakaknya Pahmi, gua pun semakin menemukan kemiripan diantara mereka.
"Yah, Senyum devil yang menyeramkan itu" fikirku.
***
"Mit, lu habis dari mana?" Tanya Sisil.
"Habis dari kantin sama Pahmi dan kak Rama juga" jawabku datar.
"Lu gak ketemu sama pak kepala sekolah?."
"Memangnya ada apa? Ada kabar penting ya?."
"Iya. Tadi pak kepsek bilang ke gua, jika selesai jam ujian nanti, kita bertiga diminta buat menghadap beliau" jawab Sisil menjelaskan.
"Ooh, pasti mau ngomongin soal masalah olimpiade bulan depan ya??"
"Yupsssss.." jawab Sisil singkat.
***
Bulan depan kebetulan ada lomba olimpiade tingkat nasional, dan yang terpilih mewakili sekolah, diantaranya gua, Pahmi dan Sisil.
Sebagai murid baru, Pahmi yang terkenal cerdas memang diberi kesempatan untuk menggantikan Tiara yang menurut gua tidak ada apa2 sebagai juara dua umum di sekolah. Dan kebijakan ini karena kepala sekolah, yang mendapat laporan dari pak Sapto, selaku guru matematika, katanya Pahmi selalu mendapat nilai 100 di mata ajar matematika berhak mengikuti olimpiade tingkat nasional tahun ini.
***
Setelah ujian selesai, kami bertiga pun menuju ruangan kepsek.
@ruang kepsek.
"Assalamualaikum, pak.??." kami bertiga serentak menyapa pak kepsek dari depan pintu, sudah mirip paduan suara sekolah saja.
"Waalaikum salam, oh iya kalian sudah datang rupanya, ayo silahkan masuk." Jawab pak kepala sekolah ramah.
Di usianya yang sekitar 45 tahun pak Hariyanto masih terlihat gagah dan ganteng.
Gak salah memang kalau pak hariyanto di juluki teacher keep smile.
Biasanya kepala sekolah itu, terkenal galak, dan sangar. Tapi tidak dengan yang satu ini, namun walaupun seperti itu pak hariyanto juga guru yang bijaksana.
"Jadi persiapan kalian sudah sampai dimana?" Kata pak hariyanto memecahkan ketegangan kami disana.
"Masih nyampe di blok M pak, shoping." Jawabku ngasal.
"Kamu ini mit, taunya shoping mulu." Kritik pak hariyanto.
"Hehahaha.., iyalah pak, namanya juga cewek. Kalau ke ring rinjukan itu kerjaan cowok." Jawabku lagi.
Pak hariyanto cuman geleng-geleng kepala saja.
"Tapi, setidaknya bapak bangga juga sih sama perubahan kamu belakangan ini"
"Maksud bapak perubahan soal apa?" Tanyaku bingung
"Perubahan soal kalau kamu sudah gak pernah lagi telat ke sekolah. Seinggaknya itu laporan yang saya terima dari pak Wawan.
Sementara gua cuman menggarut kepala gua yang gak gatal setelah mendengar ucapan pak hariyanto barusan.
"Tapi ini gak ada hubungannya sama gosib yang beredar di luaran sana kan? Soal kedekatan pahmi dengan kamu??"
"Nyeeeet..."
Rasanya lebih baik gua di suru bersihin kandang kuda selama seminggu dari pada harus mati kutu di godain pak kepala sekolah yang ternyata juga raja gosib sekolah.
Gosibnya sih gak masalah, yang jadi masalah adalah kenapa harus ada Pahmi disamping gua. Pasti saat ini dia senang ngelihat gua gak bisa berkutik kayak gini.
"Eheeeemmm," Pahmi mengehem di samping gua.
Tuh kan, apa lagi maksudnya pahmi barusan. Keselak biji salak kali ya"
"Kenap lu? Keselak batu?"
"Uuummm, inggak juga. Cuman tenggorokan gua kerasa gatal aja." Balas pahmi.
"Btw, ada masalah apa ya pak, sampai kita dipanggil kesini?" Tiba2 Sisil memecahkan ke kakuan gua.
Untung ada lu Sil, kalau inggak mungkin gua terkena serangan jantung juga kali ya. Batinku.
"Oh, anu.! Jadi bapak manggil kalian kesini karena mau ngasih materi tambahan buat bekal kalian belajar bareng di waktu jam di luar sekolah. Dan tadi ibu rani nitipin ini ke bapak." Kata pak hariyanto sambil memberikan satu jilid materi tambahan.
"Satu lagi, kalau untuk sementara ini kalian akan dibimbing sama pak Sapto, karena berhubung bu Rani satu minggu kedepan akan ada pelatihan ke luar kota." Lanjutnya.
"Apa???" Respon kami serentak kaget.
"Memangnya kenapa? Kok kelihatannya kalian bertiga kurang senang sama pak sapto ya??" Kata pak hariyanto aneh.
Bersambung....
****************************************
Mita prov..
Tidak terasa sudah tiga hari ujian sekolah berlanjut. Isu yang mengganjal selama hari pertama ujian lenyap begitu saja. Seperti halnya kedekatan gua bersama kak Rama dan Pahmi yang semakin hari semakin akrab. Semenjak gua tahu kak rama itu kakaknya Pahmi, gua pun semakin menemukan kemiripan diantara mereka.
"Yah, Senyum devil yang menyeramkan itu" fikirku.
***
"Mit, lu habis dari mana?" Tanya Sisil.
"Habis dari kantin sama Pahmi dan kak Rama juga" jawabku datar.
"Lu gak ketemu sama pak kepala sekolah?."
"Memangnya ada apa? Ada kabar penting ya?."
"Iya. Tadi pak kepsek bilang ke gua, jika selesai jam ujian nanti, kita bertiga diminta buat menghadap beliau" jawab Sisil menjelaskan.
"Ooh, pasti mau ngomongin soal masalah olimpiade bulan depan ya??"
"Yupsssss.." jawab Sisil singkat.
***
Bulan depan kebetulan ada lomba olimpiade tingkat nasional, dan yang terpilih mewakili sekolah, diantaranya gua, Pahmi dan Sisil.
Sebagai murid baru, Pahmi yang terkenal cerdas memang diberi kesempatan untuk menggantikan Tiara yang menurut gua tidak ada apa2 sebagai juara dua umum di sekolah. Dan kebijakan ini karena kepala sekolah, yang mendapat laporan dari pak Sapto, selaku guru matematika, katanya Pahmi selalu mendapat nilai 100 di mata ajar matematika berhak mengikuti olimpiade tingkat nasional tahun ini.
***
Setelah ujian selesai, kami bertiga pun menuju ruangan kepsek.
@ruang kepsek.
"Assalamualaikum, pak.??." kami bertiga serentak menyapa pak kepsek dari depan pintu, sudah mirip paduan suara sekolah saja.
"Waalaikum salam, oh iya kalian sudah datang rupanya, ayo silahkan masuk." Jawab pak kepala sekolah ramah.
Di usianya yang sekitar 45 tahun pak Hariyanto masih terlihat gagah dan ganteng.
Gak salah memang kalau pak hariyanto di juluki teacher keep smile.
Biasanya kepala sekolah itu, terkenal galak, dan sangar. Tapi tidak dengan yang satu ini, namun walaupun seperti itu pak hariyanto juga guru yang bijaksana.
"Jadi persiapan kalian sudah sampai dimana?" Kata pak hariyanto memecahkan ketegangan kami disana.
"Masih nyampe di blok M pak, shoping." Jawabku ngasal.
"Kamu ini mit, taunya shoping mulu." Kritik pak hariyanto.
"Hehahaha.., iyalah pak, namanya juga cewek. Kalau ke ring rinjukan itu kerjaan cowok." Jawabku lagi.
Pak hariyanto cuman geleng-geleng kepala saja.
"Tapi, setidaknya bapak bangga juga sih sama perubahan kamu belakangan ini"
"Maksud bapak perubahan soal apa?" Tanyaku bingung
"Perubahan soal kalau kamu sudah gak pernah lagi telat ke sekolah. Seinggaknya itu laporan yang saya terima dari pak Wawan.
Sementara gua cuman menggarut kepala gua yang gak gatal setelah mendengar ucapan pak hariyanto barusan.
"Tapi ini gak ada hubungannya sama gosib yang beredar di luaran sana kan? Soal kedekatan pahmi dengan kamu??"
"Nyeeeet..."
Rasanya lebih baik gua di suru bersihin kandang kuda selama seminggu dari pada harus mati kutu di godain pak kepala sekolah yang ternyata juga raja gosib sekolah.
Gosibnya sih gak masalah, yang jadi masalah adalah kenapa harus ada Pahmi disamping gua. Pasti saat ini dia senang ngelihat gua gak bisa berkutik kayak gini.
"Eheeeemmm," Pahmi mengehem di samping gua.
Tuh kan, apa lagi maksudnya pahmi barusan. Keselak biji salak kali ya"
"Kenap lu? Keselak batu?"
"Uuummm, inggak juga. Cuman tenggorokan gua kerasa gatal aja." Balas pahmi.
"Btw, ada masalah apa ya pak, sampai kita dipanggil kesini?" Tiba2 Sisil memecahkan ke kakuan gua.
Untung ada lu Sil, kalau inggak mungkin gua terkena serangan jantung juga kali ya. Batinku.
"Oh, anu.! Jadi bapak manggil kalian kesini karena mau ngasih materi tambahan buat bekal kalian belajar bareng di waktu jam di luar sekolah. Dan tadi ibu rani nitipin ini ke bapak." Kata pak hariyanto sambil memberikan satu jilid materi tambahan.
"Satu lagi, kalau untuk sementara ini kalian akan dibimbing sama pak Sapto, karena berhubung bu Rani satu minggu kedepan akan ada pelatihan ke luar kota." Lanjutnya.
"Apa???" Respon kami serentak kaget.
"Memangnya kenapa? Kok kelihatannya kalian bertiga kurang senang sama pak sapto ya??" Kata pak hariyanto aneh.
Bersambung....
Kutunggu kau di pelaminan nanti 10 b
Jangan lupa komen ya guyyssss.. sorry buat cerpen gajebo ini. Hehahaaa
*****************************************
***
@Prov Rama***
Kebetulan masa tugas papah di jawa sudah habis, dan papah balik lagi ke jakarta untuk menetap bersama kami.
Tentu saja gua sangat senang karena dengan begitu, adik gua Pahmi tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di sana.
Tepat hari ini, Pahmi dan papah baru saja tiba di rumah.
"Weisssss, makin keren aja lu sekarang bro" respon gua begitu melihat adek gua satu-satunya yang saat ini sedang berdiri di dep.
Walaupun pahmi umurnya lebih mudah satu tahun dari gua, tapi postur badannya sama kayak gua.
Pahmi memang tumbuh sebagai pria yang tinggi, putih, ganteng, rapih, pintar dan juga jago main basket.
Secara keseluruhan gua dan dia hampir sama. Yang membedakan gua dengannya hanya:
1. pahmi anaknya taat beragama, sementara gua inggak terlalu.
2. Pahmi anak yang patuh sama keluarga, sementara gua tidak, dan
3. gua pernah terkena kasus hukum, dan gua harap Pahmi jangan sampe ngalamin hal itu, karena sebagai kakak, jelas saja gua sangat sayang sama dia.
Walaupun begitu, perbedaan tidak membuat gua untuk merasa iri, atau berusaha untuk berubah menjadi sepertinya kan? Begitu pun gua, yang tidak bakalan pernah memaksa Pahmi untuk menjadi orang lain. Lagian sejauh ini, kami sudah merasa cukup nyaman dengan sikap kami.
"gak salah memang bro, kalau di jawa lu terkenal sebagai cowok playboy." Candaku.
"Ah kakak bisa aja, lagian aku ganteng kan karena ngikutin papah sama kakak. Masa, kalian ganteng aku sendiri yang jelek. Gak mungkin kan?" Jawab Pahmi.
***
Mendengar guyonan Pahmi, aku mamah dan papah serentak tertawa.
Yah, beginilah keluarga kecil hermawan kalau sedang berkumpul. Terus terang, sudah lama gua gak merasakan seperti ini. Apalagi semenjak papah tugas di jawa, dan Pahmi memilih ikut dengan papah, jelas membuat gua kesepian selama ini.
@kamar Pahmi.
"Pahmi, lu tahu kan kalau kakak ini seperti sekarang karena siapa?"
"Iya aku tahu" jawab pami
"Terus kamu mau kan nerima taruhan kakak, buat si Mita yang kakak ceritain itu jatuh cinta sama lu?"
"Emng Mita itu orangnya gimana sih? Terus kenapa harus dia yang aku dekatin? Apa dia juga sudah jahat sama kakak?" tanya Pahmi beruntun.
"Bukan sudah pernah nyakitin, atau dia sudah jahat sama gua. Cuman dia pernah gua ajakin pacaran, tapi dia gak mau pacaran. Jadinya"
"Jadinya dia nolak kakak?" Potong Pahmi gak percaya.
Dia gak percaya kalau masih ada cewek yang berani nolak kakaknya yang terpopuler di SMAnya itu.
"Tapi intinya sih bukan itu. Karena walaupun gua di tolak sama dia, gua cukup terima asalannya. Dimana waktu itu dia gak mau pacaran karena dia masih pokus buat belajar." lanjut ku menjelaskan.
"Nah, tapi jangan salahkan gua, kalau alasannya barusan ternyata telah memancing nyali gua buat menggeser gelar juara umumnya itu." Ujar Rama lagi dengan seringai nakalnya.
"Gua pengen liat lu hancur dan sakit karena cinta lu akan di permainkan, Mita.! Dan saat itu, lu akan tau kalau cintamu itu lah yang telah merusaknya."
"Terus apa yang harus aku lakuin buat seorang cewek sehebat dia?" Tanya Pahmi kemudian.
"Lu cukup buat dia jatuh cinta sama lu." Jawabku puas dan singkat.
"Terus waktunya sampai kapan?"
"Gua kasih waktu sampai ujian semester depan. Karena saat itu, gua bisa lihat dia menangis karena gelar juaranya itu gak bisa dia pegang lagi, melainkan pindah ketangan lu. Hahahaheheha"
@Author prov
Rama kesenangan dengan rencana gilanya itu. Tanpa memikirkan dampak yang akan di rasakan sang adik yang disayanginya kedepan.
***
Rama prov..
Hari ini, Pahmi resmi sebagai murid baru disekolah gua. Ketampananya membuat dia banyak di taksir sama cewek2. Termasuk Laura mantan gua yang saat ini gua benci. Tapi Pahmi tidak tertarik dan kejebak dengan tampang sok alim yang dimiliki gadis sepertinya.
@ rumah
"Pahmi, gimana? Sudah ada perkembangan belum.!" Saat ini gua menemui pahmi sedang berayun di ayunan taman belakang rumahku.
"Belum kak, soalnya cewek yang kakak bilang itu memang beda sama cewek lainnya."
"Yah, masa cowok playboy kayak lu itu gak bisa dapatin dia?" Pancingku.
"Ya elah, sabar dulu dong kak, baru juga hari pertama sekolah?" Jawab Pahmi gak mau kalah.
Gua paling senang kalau melihat Pahmi seperti ini, apalagi dia itu tipe cowok yang gak suka di remehin sama siapa pun.
"Oke deh, kalau gitu gua tunggu kabar selanjutnya dari lu oke." Jawabku sambil pergi ninggalin Pahmi.
***
Gua semakin senang begitu melihat Pahmi telah mulai terbuai dan ikut kepermainan yang gua buat untuk ngejatuhin si Mita.
"Hehahaha, gua pengen lihat sampe berapa lama cewek sombong itu menolak Pahmi." Gumamku.
Bersambung....
*************
Jangan lupa komennya kakaaaaakkkkk.....
*****************************************
***
@Prov Rama***
Kebetulan masa tugas papah di jawa sudah habis, dan papah balik lagi ke jakarta untuk menetap bersama kami.
Tentu saja gua sangat senang karena dengan begitu, adik gua Pahmi tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di sana.
Tepat hari ini, Pahmi dan papah baru saja tiba di rumah.
"Weisssss, makin keren aja lu sekarang bro" respon gua begitu melihat adek gua satu-satunya yang saat ini sedang berdiri di dep.
Walaupun pahmi umurnya lebih mudah satu tahun dari gua, tapi postur badannya sama kayak gua.
Pahmi memang tumbuh sebagai pria yang tinggi, putih, ganteng, rapih, pintar dan juga jago main basket.
Secara keseluruhan gua dan dia hampir sama. Yang membedakan gua dengannya hanya:
1. pahmi anaknya taat beragama, sementara gua inggak terlalu.
2. Pahmi anak yang patuh sama keluarga, sementara gua tidak, dan
3. gua pernah terkena kasus hukum, dan gua harap Pahmi jangan sampe ngalamin hal itu, karena sebagai kakak, jelas saja gua sangat sayang sama dia.
Walaupun begitu, perbedaan tidak membuat gua untuk merasa iri, atau berusaha untuk berubah menjadi sepertinya kan? Begitu pun gua, yang tidak bakalan pernah memaksa Pahmi untuk menjadi orang lain. Lagian sejauh ini, kami sudah merasa cukup nyaman dengan sikap kami.
"gak salah memang bro, kalau di jawa lu terkenal sebagai cowok playboy." Candaku.
"Ah kakak bisa aja, lagian aku ganteng kan karena ngikutin papah sama kakak. Masa, kalian ganteng aku sendiri yang jelek. Gak mungkin kan?" Jawab Pahmi.
***
Mendengar guyonan Pahmi, aku mamah dan papah serentak tertawa.
Yah, beginilah keluarga kecil hermawan kalau sedang berkumpul. Terus terang, sudah lama gua gak merasakan seperti ini. Apalagi semenjak papah tugas di jawa, dan Pahmi memilih ikut dengan papah, jelas membuat gua kesepian selama ini.
@kamar Pahmi.
"Pahmi, lu tahu kan kalau kakak ini seperti sekarang karena siapa?"
"Iya aku tahu" jawab pami
"Terus kamu mau kan nerima taruhan kakak, buat si Mita yang kakak ceritain itu jatuh cinta sama lu?"
"Emng Mita itu orangnya gimana sih? Terus kenapa harus dia yang aku dekatin? Apa dia juga sudah jahat sama kakak?" tanya Pahmi beruntun.
"Bukan sudah pernah nyakitin, atau dia sudah jahat sama gua. Cuman dia pernah gua ajakin pacaran, tapi dia gak mau pacaran. Jadinya"
"Jadinya dia nolak kakak?" Potong Pahmi gak percaya.
Dia gak percaya kalau masih ada cewek yang berani nolak kakaknya yang terpopuler di SMAnya itu.
"Tapi intinya sih bukan itu. Karena walaupun gua di tolak sama dia, gua cukup terima asalannya. Dimana waktu itu dia gak mau pacaran karena dia masih pokus buat belajar." lanjut ku menjelaskan.
"Nah, tapi jangan salahkan gua, kalau alasannya barusan ternyata telah memancing nyali gua buat menggeser gelar juara umumnya itu." Ujar Rama lagi dengan seringai nakalnya.
"Gua pengen liat lu hancur dan sakit karena cinta lu akan di permainkan, Mita.! Dan saat itu, lu akan tau kalau cintamu itu lah yang telah merusaknya."
"Terus apa yang harus aku lakuin buat seorang cewek sehebat dia?" Tanya Pahmi kemudian.
"Lu cukup buat dia jatuh cinta sama lu." Jawabku puas dan singkat.
"Terus waktunya sampai kapan?"
"Gua kasih waktu sampai ujian semester depan. Karena saat itu, gua bisa lihat dia menangis karena gelar juaranya itu gak bisa dia pegang lagi, melainkan pindah ketangan lu. Hahahaheheha"
@Author prov
Rama kesenangan dengan rencana gilanya itu. Tanpa memikirkan dampak yang akan di rasakan sang adik yang disayanginya kedepan.
***
Rama prov..
Hari ini, Pahmi resmi sebagai murid baru disekolah gua. Ketampananya membuat dia banyak di taksir sama cewek2. Termasuk Laura mantan gua yang saat ini gua benci. Tapi Pahmi tidak tertarik dan kejebak dengan tampang sok alim yang dimiliki gadis sepertinya.
@ rumah
"Pahmi, gimana? Sudah ada perkembangan belum.!" Saat ini gua menemui pahmi sedang berayun di ayunan taman belakang rumahku.
"Belum kak, soalnya cewek yang kakak bilang itu memang beda sama cewek lainnya."
"Yah, masa cowok playboy kayak lu itu gak bisa dapatin dia?" Pancingku.
"Ya elah, sabar dulu dong kak, baru juga hari pertama sekolah?" Jawab Pahmi gak mau kalah.
Gua paling senang kalau melihat Pahmi seperti ini, apalagi dia itu tipe cowok yang gak suka di remehin sama siapa pun.
"Oke deh, kalau gitu gua tunggu kabar selanjutnya dari lu oke." Jawabku sambil pergi ninggalin Pahmi.
***
Gua semakin senang begitu melihat Pahmi telah mulai terbuai dan ikut kepermainan yang gua buat untuk ngejatuhin si Mita.
"Hehahaha, gua pengen lihat sampe berapa lama cewek sombong itu menolak Pahmi." Gumamku.
Bersambung....
*************
Jangan lupa komennya kakaaaaakkkkk.....
Kutunggu kau di pelaminan nanti 10 a
Jangan sampe bosan bacanya ya...
lanjut aja deh...
*****************************************
Setelah kejadian di kantin beberapa hari lalu, Mita menjadi lebih ramah samaku. Sebagai seorang pangeran yang sedang jatuh cinta terhadap seorang putri cantik, gua merasa sangat senang saat ini.
"Pahmi, bagaimana perkembangan soal si Mita? Apa lu udah bisa ngajak dia ngobrol? Setelah apa yang lu lakuin buat bantuin di di kantin kemaren?" Tanya kak Rama yang tiba2 duduk di sampingku.
Gua yang sedang asyik menonton TV,
"Eeeitsss, ralat. sebenarnya sih, gua gak konsen nonton, karena gua sedang ngebayangin cewek pujaan hati gua. Siapa lagi kalau bukan Mita."
Tapi, kesenangan gua harus terputus karena kedatangan kak Rama.
"Sekarang ini sih Mita sudah mulai baik sama aku kak, terus akhir-akhir ini juga aku sudah sering ngobrol sama dia." Jelasku menyakinkan.
"Bagus kalau gitu." Jawab kak rama singkat.
Nampak jelas ada rasa kepuasan tergores dimatanya.
Untung aja aku gak keceblosan ke kak Rama, kalau aku sebenarnya juga sudah jatuh cinta ke Mita. Kalau sampai kak Rama tahu, dia pasti bakalan marah besar.
Soalnya aku tahu, kalau kak rama pernah naksir dan pengen berubah menjadi anak baik demi Mita. Tapi karena Mita nolak dia, jadinya dia gak jadi tobat deh sampe sekarang. (Alias tetap jadi anak berandalan di sekolah.)
***
Saat ini aku sedang belajar di dalam kamar seorang diri. Gak tau kenapa, aku merasa susah banget buat menghapal buku yang aku baca. Tidak seperti biasanya.
"Ayo dong, otakku... jangan cuman mikirin Mita terusss.." gumamku.
Aku pun berbaring ke tempat tidur sambil memandang langit-langit kamarku. gak tau kenapa aku sangat berharap kalau Mita juga bisa merasakan apa yang yang gua pikirin saat ini.
Gua pun mengambil sebuah gitar kesayanganku yang berada di pojok kamarku.
Sambil mulai memetik senar gitar membentuk sebuah nada, tiba2 suara ponselku berdering.
"Sisil"
gumamku setelah membaca nama panggilan masuk di layar ponselku itu.
"Halo kenapa sil?" Jawabku kurang semangat begitu menangkat panggilan telpon darinya.
"Ihhh, kok kamu sekarang gak pernah balas bbm dari aku lagi sih?" Jawab penelpon di seberang sana dengan gaya sok imut.
Yang jelas, membanyangkannya saja, gua sampai mau muntah saat itu juga.
"Oh, sorry. Soalnya aku sedang sibuk akhir2 ini." bohongku.
Sementara di sebrang sana tetap bicara gak jelas.
"Kalau boleh tahu, kamu dapat nomor aku dari mana?" Kataku tude poin.
Karena gua paling gak gampang bagi nomor ke orang lain, merasa tidak pernah membagi nomorku ke siapa pun di sekolah kecuali pak kepala sekolah. Karena pak kepala sekolah beberapa hari lalu, meminta nomorku agar beliau bisa menelpon aku kalau lagi ada keperluan penting manyangkut perlombaan olimpiade yang akan di adakan bulan depan.
"Dari pak kepala sekolah." Jawab Sisil polos.
"Loh kok bisa?" Komenku kaget.
Sangging kagetnya gua hampir syok dan ngebayangin Sisil seorang gadis gila, sampai nekat minta nomor ke guru tertinggi di sekolahku itu. Hanya untuk bisa menelponku.
(Oh, lupakan pikiran ngaur itu.)
"Iya, soalnya kemaren kan pak kepsek manggil aku ke kantor buat ngomongin soal olimpiade bulan depan. Dan dia ngasih aku nomor kamu, katanya biar aku bisa gampang hubungin kamu kalau aku, Mita sama kamu pengen belajar bareng." Jawab Sisil panjang menjelaskan.
Sudah mirip seperti kereta api saja.
"Terus kalau gitu, sekarang kamu nelpon aku buat apa?"
"Karena aku kangen sama kamu" jawab disebrang sana.
"Lah, kan kita satu kelas. Ngapain juga kangen2nan. Lagian aku dah bilang sama kamu, kalau aku itu gak pernah suka sama kamu, karena sejak dulu memang aku sukanya cuman buat Mita doang." Jawabku jujur.
Di sebrang sana malah menangis membuat gua makin gak ngerti dengan apa yang dibicarakannya.
"Kalau gitu udah dulu ya Sil, gua ngantuk banget nih, pengen tidur."
"Tuuut...tuuut...tuttt.." Gua langsung memutus telpon setelah gak tahan lagi mendengar ocehan Sisil.
***
Beberapa hari ini, aku memang sengaja menghindar dari Sisil. Apalagi setelah aku terang-terangan menolak pengakuannya yang suka samaku. Sampai sekarang Sisil masih tidak terima, karena aku telah menolaknya. Kata dia baru kali ini ada cowok yang berani menolaknya seperti ini.
"Dasar cewek gila. Sampe segitunya apa buat dapatin aku" batinku kesal.
Bersambung....
lanjut aja deh...
*****************************************
Setelah kejadian di kantin beberapa hari lalu, Mita menjadi lebih ramah samaku. Sebagai seorang pangeran yang sedang jatuh cinta terhadap seorang putri cantik, gua merasa sangat senang saat ini.
"Pahmi, bagaimana perkembangan soal si Mita? Apa lu udah bisa ngajak dia ngobrol? Setelah apa yang lu lakuin buat bantuin di di kantin kemaren?" Tanya kak Rama yang tiba2 duduk di sampingku.
Gua yang sedang asyik menonton TV,
"Eeeitsss, ralat. sebenarnya sih, gua gak konsen nonton, karena gua sedang ngebayangin cewek pujaan hati gua. Siapa lagi kalau bukan Mita."
Tapi, kesenangan gua harus terputus karena kedatangan kak Rama.
"Sekarang ini sih Mita sudah mulai baik sama aku kak, terus akhir-akhir ini juga aku sudah sering ngobrol sama dia." Jelasku menyakinkan.
"Bagus kalau gitu." Jawab kak rama singkat.
Nampak jelas ada rasa kepuasan tergores dimatanya.
Untung aja aku gak keceblosan ke kak Rama, kalau aku sebenarnya juga sudah jatuh cinta ke Mita. Kalau sampai kak Rama tahu, dia pasti bakalan marah besar.
Soalnya aku tahu, kalau kak rama pernah naksir dan pengen berubah menjadi anak baik demi Mita. Tapi karena Mita nolak dia, jadinya dia gak jadi tobat deh sampe sekarang. (Alias tetap jadi anak berandalan di sekolah.)
***
Saat ini aku sedang belajar di dalam kamar seorang diri. Gak tau kenapa, aku merasa susah banget buat menghapal buku yang aku baca. Tidak seperti biasanya.
"Ayo dong, otakku... jangan cuman mikirin Mita terusss.." gumamku.
Aku pun berbaring ke tempat tidur sambil memandang langit-langit kamarku. gak tau kenapa aku sangat berharap kalau Mita juga bisa merasakan apa yang yang gua pikirin saat ini.
Gua pun mengambil sebuah gitar kesayanganku yang berada di pojok kamarku.
Sambil mulai memetik senar gitar membentuk sebuah nada, tiba2 suara ponselku berdering.
"Sisil"
gumamku setelah membaca nama panggilan masuk di layar ponselku itu.
"Halo kenapa sil?" Jawabku kurang semangat begitu menangkat panggilan telpon darinya.
"Ihhh, kok kamu sekarang gak pernah balas bbm dari aku lagi sih?" Jawab penelpon di seberang sana dengan gaya sok imut.
Yang jelas, membanyangkannya saja, gua sampai mau muntah saat itu juga.
"Oh, sorry. Soalnya aku sedang sibuk akhir2 ini." bohongku.
Sementara di sebrang sana tetap bicara gak jelas.
"Kalau boleh tahu, kamu dapat nomor aku dari mana?" Kataku tude poin.
Karena gua paling gak gampang bagi nomor ke orang lain, merasa tidak pernah membagi nomorku ke siapa pun di sekolah kecuali pak kepala sekolah. Karena pak kepala sekolah beberapa hari lalu, meminta nomorku agar beliau bisa menelpon aku kalau lagi ada keperluan penting manyangkut perlombaan olimpiade yang akan di adakan bulan depan.
"Dari pak kepala sekolah." Jawab Sisil polos.
"Loh kok bisa?" Komenku kaget.
Sangging kagetnya gua hampir syok dan ngebayangin Sisil seorang gadis gila, sampai nekat minta nomor ke guru tertinggi di sekolahku itu. Hanya untuk bisa menelponku.
(Oh, lupakan pikiran ngaur itu.)
"Iya, soalnya kemaren kan pak kepsek manggil aku ke kantor buat ngomongin soal olimpiade bulan depan. Dan dia ngasih aku nomor kamu, katanya biar aku bisa gampang hubungin kamu kalau aku, Mita sama kamu pengen belajar bareng." Jawab Sisil panjang menjelaskan.
Sudah mirip seperti kereta api saja.
"Terus kalau gitu, sekarang kamu nelpon aku buat apa?"
"Karena aku kangen sama kamu" jawab disebrang sana.
"Lah, kan kita satu kelas. Ngapain juga kangen2nan. Lagian aku dah bilang sama kamu, kalau aku itu gak pernah suka sama kamu, karena sejak dulu memang aku sukanya cuman buat Mita doang." Jawabku jujur.
Di sebrang sana malah menangis membuat gua makin gak ngerti dengan apa yang dibicarakannya.
"Kalau gitu udah dulu ya Sil, gua ngantuk banget nih, pengen tidur."
"Tuuut...tuuut...tuttt.." Gua langsung memutus telpon setelah gak tahan lagi mendengar ocehan Sisil.
***
Beberapa hari ini, aku memang sengaja menghindar dari Sisil. Apalagi setelah aku terang-terangan menolak pengakuannya yang suka samaku. Sampai sekarang Sisil masih tidak terima, karena aku telah menolaknya. Kata dia baru kali ini ada cowok yang berani menolaknya seperti ini.
"Dasar cewek gila. Sampe segitunya apa buat dapatin aku" batinku kesal.
Bersambung....
Kutunggu kau di palaminan nanti. 10
@Prov Pahmi
***
Semenjak aku ke jakarta rasanya hidup ku saat ini seperti berwarna. apalagi semenjak mengenal Luna Sasmita atau teman yang lain akrab memanggilnya Mita.
Dia adalah sosok wanita cantik, pintar, soleh namun sedikit aneh. Apalagi setelah aku membaca profil facebooknya yang diam2 aku buka lewat jejaring milik kak Rama yang tidak lain kakak kandungku sendiri.
Awalnya aku gak nyangka kalau akan menemukan sosok wanita seperti itu di jakarta. Bahkan di jawa di tempat sekolahku dulu pun bisa di bilang tidak ada cewek seperti itu.
Mita anak orang yang kaya abis. Tapi dia tidak sombong sama siapapun kecuali dengan cowok ganteng dan cowok populer.
"Aneh bukan??"
Kalau kata teman dekatnya bernama Sisil, dia itu tipe cewek yang anti cowok. Katanya sih biar bisa jadi miss jomblo dan ngalahin RICIS. Seorang wanita cantik yang lagi buming2nya di sebuah jejaring sosial, (Instagram.)
"Sumpah, aneh banget tuh cewek."
Selain itu, dia juga tidak mau pacaran bahkan belum pernah pacaran sama sekali. Soalnya, dia maunya langsung menikah seperti yang di perintahkan oleh allah SWT.
"Ini nih, yang gua cari selama ini. Kapan lagi bisa dapat cewek soleha seperti mita di dunia ini, cukup jarang bukan??"
***
Mita sosok cewek yang gak tau namanya "jaim." Tidak seperti cewek lain yang selalu berusaha sempurna di depan cowok ganteng seperti gua. Bahkan, Mita setiap hari selalu gua lihat tidak pernah pake make up, tapi dia tetap cantik dan manis.
Ketika pertama melihat mita, rasanya aku ingin sekali mengenal dia lebih dekat dari teman2 cewek lain yang ada di sekolah. Namun, setiap aku berusaha mendekatinya, dia malah selalu berusaha menghindar dariku.
***
"Dek, lu jangan lupa ya, buat Mita jatuh cinta sama lu." kata kak Rama terhadapku.
Yah, hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku. dan aku mendapat tantangan untuk dekatin Mita karena aku sedang taruhan sama kak Rama.
Aku hampir bingung harus bagaimana biar biasa mengenal Mita lebih dekat lagi sampai akhirnya Sisil sahabatnya yang sebenarnya tidak kalah cantik dengan Mita, juga mentaksirku, seolah memberikan solusi untukku.
"Emng gak heran sih, kalau cewek2 banyak yang mengejar aku, sampai mereka pengen banget jadi pacarku. Cuman tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuat aku balik untuk mencintai mereka.
***
Sampai akhirnya muncul ide gila untuk manfaatin sisil agar aku bisa dekat dengan Mita yang tidak lain adalah sahabatnya.
Sangat gampang memang untuk menakhlukkan wanita seperti Sisil, sampe ide gilaku pun berjalan mulus tanpa halangan sedikit pun.
Gak kayak kartu internetan yang sering aku pakai, yang lolanya minta ampun.
***
sekitar satu bulan lebih, aku modusin Sisil, dan berlahan aku bisa ngobrol dengan Mita.
"Walaupun masih jauh dari harapan sih"
Tapi jujur, aku semakin penasaran dan semakin tertarik untuk mengenal dia lebih dekat.
Setiap jam istirahat, aku selalu mencoba mengajak Mita ke kantin, dan setiap itu juga, ajakanku selalu di tolak olehnya.
"Lihat aja Mit, aku bakalan bisa buat dapatin kamu." Ancamku.
Aku semakin merasa senang dengan sikap cueknya itu. Dan entah kenapa perasaan aku semakin lama semakin sayang sama dia.
Memang sejak awal, ketika ketemu Mita, aku sudah melupakan taruhanku dengan kak Rama buat dekatin mita hanya semata-mata sebuah motor gede. Tapi saat ini, aku pengen dapatin dia karena aku baru sadar kalau aku telah jauh jatuh mencintainya.
@Tiga bulan berikutnya...
Akhirnya nasib baik berpihak padaku. Setelah kejadian di kantin yang menimpanya hari ini, aku memberikan jaket kesayanganku untuk menutupi roknya.
Saat melihat wajah lugunya, ketika sedang menahan malu. Ingin rasanya aku mencubit pipih mulusnya yang berubah menjadi merah mudah itu. Dan mencium bibirnya yang seksi dengan gemas.
Tapi tentu saja gua gak berani karena wanita yang ada di depanku saat ini adalah wanita spesial dihatiku.
Rasanya kali ini aku seakan tak berdaya di depan perempuan. dan baru Mita yang bikin gua bisa seperti saat ini, dimana gua bisa menghargai yang namanya perempuan selain orang tuaku.
Bersambung...
***
Semenjak aku ke jakarta rasanya hidup ku saat ini seperti berwarna. apalagi semenjak mengenal Luna Sasmita atau teman yang lain akrab memanggilnya Mita.
Dia adalah sosok wanita cantik, pintar, soleh namun sedikit aneh. Apalagi setelah aku membaca profil facebooknya yang diam2 aku buka lewat jejaring milik kak Rama yang tidak lain kakak kandungku sendiri.
Awalnya aku gak nyangka kalau akan menemukan sosok wanita seperti itu di jakarta. Bahkan di jawa di tempat sekolahku dulu pun bisa di bilang tidak ada cewek seperti itu.
Mita anak orang yang kaya abis. Tapi dia tidak sombong sama siapapun kecuali dengan cowok ganteng dan cowok populer.
"Aneh bukan??"
Kalau kata teman dekatnya bernama Sisil, dia itu tipe cewek yang anti cowok. Katanya sih biar bisa jadi miss jomblo dan ngalahin RICIS. Seorang wanita cantik yang lagi buming2nya di sebuah jejaring sosial, (Instagram.)
"Sumpah, aneh banget tuh cewek."
Selain itu, dia juga tidak mau pacaran bahkan belum pernah pacaran sama sekali. Soalnya, dia maunya langsung menikah seperti yang di perintahkan oleh allah SWT.
"Ini nih, yang gua cari selama ini. Kapan lagi bisa dapat cewek soleha seperti mita di dunia ini, cukup jarang bukan??"
***
Mita sosok cewek yang gak tau namanya "jaim." Tidak seperti cewek lain yang selalu berusaha sempurna di depan cowok ganteng seperti gua. Bahkan, Mita setiap hari selalu gua lihat tidak pernah pake make up, tapi dia tetap cantik dan manis.
Ketika pertama melihat mita, rasanya aku ingin sekali mengenal dia lebih dekat dari teman2 cewek lain yang ada di sekolah. Namun, setiap aku berusaha mendekatinya, dia malah selalu berusaha menghindar dariku.
***
"Dek, lu jangan lupa ya, buat Mita jatuh cinta sama lu." kata kak Rama terhadapku.
Yah, hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku. dan aku mendapat tantangan untuk dekatin Mita karena aku sedang taruhan sama kak Rama.
Aku hampir bingung harus bagaimana biar biasa mengenal Mita lebih dekat lagi sampai akhirnya Sisil sahabatnya yang sebenarnya tidak kalah cantik dengan Mita, juga mentaksirku, seolah memberikan solusi untukku.
"Emng gak heran sih, kalau cewek2 banyak yang mengejar aku, sampai mereka pengen banget jadi pacarku. Cuman tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuat aku balik untuk mencintai mereka.
***
Sampai akhirnya muncul ide gila untuk manfaatin sisil agar aku bisa dekat dengan Mita yang tidak lain adalah sahabatnya.
Sangat gampang memang untuk menakhlukkan wanita seperti Sisil, sampe ide gilaku pun berjalan mulus tanpa halangan sedikit pun.
Gak kayak kartu internetan yang sering aku pakai, yang lolanya minta ampun.
***
sekitar satu bulan lebih, aku modusin Sisil, dan berlahan aku bisa ngobrol dengan Mita.
"Walaupun masih jauh dari harapan sih"
Tapi jujur, aku semakin penasaran dan semakin tertarik untuk mengenal dia lebih dekat.
Setiap jam istirahat, aku selalu mencoba mengajak Mita ke kantin, dan setiap itu juga, ajakanku selalu di tolak olehnya.
"Lihat aja Mit, aku bakalan bisa buat dapatin kamu." Ancamku.
Aku semakin merasa senang dengan sikap cueknya itu. Dan entah kenapa perasaan aku semakin lama semakin sayang sama dia.
Memang sejak awal, ketika ketemu Mita, aku sudah melupakan taruhanku dengan kak Rama buat dekatin mita hanya semata-mata sebuah motor gede. Tapi saat ini, aku pengen dapatin dia karena aku baru sadar kalau aku telah jauh jatuh mencintainya.
@Tiga bulan berikutnya...
Akhirnya nasib baik berpihak padaku. Setelah kejadian di kantin yang menimpanya hari ini, aku memberikan jaket kesayanganku untuk menutupi roknya.
Saat melihat wajah lugunya, ketika sedang menahan malu. Ingin rasanya aku mencubit pipih mulusnya yang berubah menjadi merah mudah itu. Dan mencium bibirnya yang seksi dengan gemas.
Tapi tentu saja gua gak berani karena wanita yang ada di depanku saat ini adalah wanita spesial dihatiku.
Rasanya kali ini aku seakan tak berdaya di depan perempuan. dan baru Mita yang bikin gua bisa seperti saat ini, dimana gua bisa menghargai yang namanya perempuan selain orang tuaku.
Bersambung...
Selasa, 10 Mei 2016
Kutunggu kau di palaminan nanti 9
Sorry.. kalau jelek... 😂😂😂😂
lanjut lagi ya...
****************************************
@mita prov**
Mungkin karena dia sudah kelas tiga kali ya, makanya dia lebih serius ngadapin ujian kali ini. Apalagi dia kan pintar, cuman malas aja belajar, dan lebih memilih ikut teman2 berandalan (satu gengnya) itu keluyuran gak jelas.
***
Sebelumnya, gua juga udah pernah dengar soal kak Rama yg pernah menghebohkan berita di kalangan anak remaja.
Flasback On..
Dua tahun lalu. Pemenang OSN fisika+matematika, yang tidak lain anak pejabat tinggi TNI, telah terjerat kasus hukum karena tertangkap sedang berpesta minuman keras dan mengkonsumsi obat2 tan terlarang di sebuah kost-kosan di jakarta.
Dengar2, jika bukan karena dia pernah banggain nama sekolah di tingkat nasional, sejak berita yang menimpanya itu, kak Rama pasti sudah dikeluarin pihak sekolah.
Tapi, nasib baik masih menolongnya, setelah kepsek bersedia membantu dia, walaupun dengan konsikuensi, dia gak boleh berada di kelas unggulan yang notabennya siswa berkebribadian baik, dan contoh teladan sekolah.
Dan yang lebih parahnya lagi, kata orang-orang, kak Rama berubah liar sampe terjerat hukum seperti itu karena cinta pertamanya bernama Laura, yang saat ini pemegang gelar juara umum diangkatannya itu telah memainkan perasannya.
Flasbak off..
***
"Laura?" Batinku
Dia wanita tercantik di kelas tiga, dan juga baik. tapi kenapa kak Laura berani ngecewain kak Rama?
"Woii.. ngelamun aja, kerjain tuh soal lu, bentar lagi waktu ujian mau habis lho?" Kata kak rama mengagetkanku.
"Udah selesai kali kak" jawabku santai.
"Nyeeet.. cepat amat lu kelarnya?" Kata kak rama terheran2. Gua hanya nyengir sambil nunjukkin wajah lugu gua.
Entah ada yang salah sama tingkah gua atau inggak, yang jelas kak Rama yang tadinya ikut senyum berubah murung dan diam.
"Lu kenapa kak??" Kataku mencoba bertanya sama kak Rama.
"Inggak kenapa-napa kok, cuman agak pusing aja ngerjain soal ini." Jawab kak Rama.
Gua yakin kalau kak rama saat ini sedang berbohong. soalnya dari tadi, dia terlihat sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun waktu menjawab soal ujiannya.
"Mitha, Rama, kalau kalian sudah selesai kalian boleh keluar sekarang" tiba2 guru pengawas bernama bu yanti menegor gua sama kak Rama.
***
Tak terasa ujian pun sudah selesai. Gua yang keluar duluan setelah di usir bu Yanti, (sebenarnya sih kak Rama juga.) sedang duduk dikursi taman sekolah seorang diri.
"Mit, aku mau ngomong sama kamu" kata Pahmi yang tengah berdiri di sampingku.
"Sebenarnya lu mau bicara apa sih, sampai gak sabaran seperti ini" ucapku heran.
Namun Pahmi gak menjawab pertanyaan gua sama sekali, dia hanya diam.
"tuh kan, orang gua nanya tapi lu malah diam. Kalau gitu gua gak mau ah. Apalagi kalau urusannya gak penting." Setelah itu, gua pun pergi ninggalin pahmi namun...
"Ini masalah yang di mading, dan buat aku itu masalah penting" kata Pahmi dengan wajah serius.
Mendengar itu, gua pun langsung menghentikan langkahku.
"Yaudah, kalau gitu gua mau deh ngomong sama lu."
***
Saat ini pahmi mengajak gua ke sebuah taman di belakang gedung sekolah yang terlihat sepi. Alasannya biar gak ada orang lain yang dengar soal yang di bicarakan Pahmi terhadapku.
Gua dan pahmi pun sedang duduk disebuah kursi di bawah pohon pelindung yang cukup rindang.
"Lu sebenarnya mau ngomong apa sih?" ulangku yang penasaran apa maksudnya sampai mengajak gua bicara berdua seperti ini.
"Sebelumnya aku mau minta maaf kalau usah buat kamu sakit hati. awalnya memang aku cuman diajak taruhan sama kak Rama, kakak kandungku sendiri."
Kata pahmi panjang lebar berusaha menjelaskan semua kejadian hari ini ke gua, yang sebenarnya gua gak tau apa2 pun jadi bingung.
"Maksud lu apa sih? Terus taruhan yang lu maksud itu apa?"
"Jadi kamu belum tau soal masalah di mading Itu?" Kata Pahmi merasa legah.
Yang gua jawab cuman gelengan kepala.
"Syukurlah kalau gitu" gumam Pahmi.
"Maksud lu?"
" gak kenapa2 kok, hehahaa.." jawab pahmi nyengir.
Gua pun diam memperhatikan tingkah aneh Pahmi.
"Tapi lu benaran kakak adek sama kak Rama?" Tanya gua kemudian.
"Iya, tapi gua mohon kamu jangan kasih tau siapa2 ya. Karena cuman kamu yang tau ini soal ini.
Bersambung....
lanjut lagi ya...
****************************************
@mita prov**
Mungkin karena dia sudah kelas tiga kali ya, makanya dia lebih serius ngadapin ujian kali ini. Apalagi dia kan pintar, cuman malas aja belajar, dan lebih memilih ikut teman2 berandalan (satu gengnya) itu keluyuran gak jelas.
***
Sebelumnya, gua juga udah pernah dengar soal kak Rama yg pernah menghebohkan berita di kalangan anak remaja.
Flasback On..
Dua tahun lalu. Pemenang OSN fisika+matematika, yang tidak lain anak pejabat tinggi TNI, telah terjerat kasus hukum karena tertangkap sedang berpesta minuman keras dan mengkonsumsi obat2 tan terlarang di sebuah kost-kosan di jakarta.
Dengar2, jika bukan karena dia pernah banggain nama sekolah di tingkat nasional, sejak berita yang menimpanya itu, kak Rama pasti sudah dikeluarin pihak sekolah.
Tapi, nasib baik masih menolongnya, setelah kepsek bersedia membantu dia, walaupun dengan konsikuensi, dia gak boleh berada di kelas unggulan yang notabennya siswa berkebribadian baik, dan contoh teladan sekolah.
Dan yang lebih parahnya lagi, kata orang-orang, kak Rama berubah liar sampe terjerat hukum seperti itu karena cinta pertamanya bernama Laura, yang saat ini pemegang gelar juara umum diangkatannya itu telah memainkan perasannya.
Flasbak off..
***
"Laura?" Batinku
Dia wanita tercantik di kelas tiga, dan juga baik. tapi kenapa kak Laura berani ngecewain kak Rama?
"Woii.. ngelamun aja, kerjain tuh soal lu, bentar lagi waktu ujian mau habis lho?" Kata kak rama mengagetkanku.
"Udah selesai kali kak" jawabku santai.
"Nyeeet.. cepat amat lu kelarnya?" Kata kak rama terheran2. Gua hanya nyengir sambil nunjukkin wajah lugu gua.
Entah ada yang salah sama tingkah gua atau inggak, yang jelas kak Rama yang tadinya ikut senyum berubah murung dan diam.
"Lu kenapa kak??" Kataku mencoba bertanya sama kak Rama.
"Inggak kenapa-napa kok, cuman agak pusing aja ngerjain soal ini." Jawab kak Rama.
Gua yakin kalau kak rama saat ini sedang berbohong. soalnya dari tadi, dia terlihat sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun waktu menjawab soal ujiannya.
"Mitha, Rama, kalau kalian sudah selesai kalian boleh keluar sekarang" tiba2 guru pengawas bernama bu yanti menegor gua sama kak Rama.
***
Tak terasa ujian pun sudah selesai. Gua yang keluar duluan setelah di usir bu Yanti, (sebenarnya sih kak Rama juga.) sedang duduk dikursi taman sekolah seorang diri.
"Mit, aku mau ngomong sama kamu" kata Pahmi yang tengah berdiri di sampingku.
"Sebenarnya lu mau bicara apa sih, sampai gak sabaran seperti ini" ucapku heran.
Namun Pahmi gak menjawab pertanyaan gua sama sekali, dia hanya diam.
"tuh kan, orang gua nanya tapi lu malah diam. Kalau gitu gua gak mau ah. Apalagi kalau urusannya gak penting." Setelah itu, gua pun pergi ninggalin pahmi namun...
"Ini masalah yang di mading, dan buat aku itu masalah penting" kata Pahmi dengan wajah serius.
Mendengar itu, gua pun langsung menghentikan langkahku.
"Yaudah, kalau gitu gua mau deh ngomong sama lu."
***
Saat ini pahmi mengajak gua ke sebuah taman di belakang gedung sekolah yang terlihat sepi. Alasannya biar gak ada orang lain yang dengar soal yang di bicarakan Pahmi terhadapku.
Gua dan pahmi pun sedang duduk disebuah kursi di bawah pohon pelindung yang cukup rindang.
"Lu sebenarnya mau ngomong apa sih?" ulangku yang penasaran apa maksudnya sampai mengajak gua bicara berdua seperti ini.
"Sebelumnya aku mau minta maaf kalau usah buat kamu sakit hati. awalnya memang aku cuman diajak taruhan sama kak Rama, kakak kandungku sendiri."
Kata pahmi panjang lebar berusaha menjelaskan semua kejadian hari ini ke gua, yang sebenarnya gua gak tau apa2 pun jadi bingung.
"Maksud lu apa sih? Terus taruhan yang lu maksud itu apa?"
"Jadi kamu belum tau soal masalah di mading Itu?" Kata Pahmi merasa legah.
Yang gua jawab cuman gelengan kepala.
"Syukurlah kalau gitu" gumam Pahmi.
"Maksud lu?"
" gak kenapa2 kok, hehahaa.." jawab pahmi nyengir.
Gua pun diam memperhatikan tingkah aneh Pahmi.
"Tapi lu benaran kakak adek sama kak Rama?" Tanya gua kemudian.
"Iya, tapi gua mohon kamu jangan kasih tau siapa2 ya. Karena cuman kamu yang tau ini soal ini.
Bersambung....
Kutunggu kau di pelaminan nanti 8
Ahhhh.... lanjutttt...
Semangat kakaaaaaakkk hehahaa
*****************************************
@Mita prov**
Senin pagi sewaktu bell sekolah belum berbunyi, gua datang pagi2 seperti janjiku sabtu itu.
"Selamat pagi pak Wawan?" Sapaku menghampiri pak wawan yang sedang berjaga di postnya.
"Nah, gitu dong non, setiap hari selalu datang pagi."
"Iya pak, kali ini aku bakalan datang pagi terus, sekalian buktiin kalau aku juga anak yang disiplin" Kata gua sambil tersenyum.
Pak Wawan hanya bisa tertawa dan mangguk2 senang dengan perubahan sikapku.
"Yaudah pak, kalau gitu aku pamit dulu ya.!" paparku sambil meninggalkan pak Wawan yang lagi bertugas itu, menuju ruangan ujian sedikit berlari ala dora ketika sedang mencari harta karun.
(Berhasil, berhasil, iyeee.!)😁😁😁
***
Sebelum tiba di kelas, gua melewati mading sekolah. Disana anak2 sedang berkumpul dan heboh dengan gosib yang beredar pagi ini.
"Sungguh malangnya nasib siswa yang menimpa gosib sekolah yang tidak mengenakkan itu."
Tapi entah kenapa perasaan gua tiba2 berubah tidak enak. Belum lagi mereka yang serempak melirik ke arah gua prihatin.
Kok ngeliatin gua seperti itu sih? Gua sih tau, kalau gua itu cantik. Tapi biasa aja kali. (Persi narsis anak ABG.)
Tanpa mempedulikan mereka, gua pun terus berjalan melewati mading.
"Mit, lu belum liat mading kan hari ini?" Kata Sisil sambil menarik tangan gua menjauh dari kerumunan anak2 disana.
"Memangnya ada berita apaan sih, kok sepertinya lu khawatir banget kalau gua kesana." Protes gua sedikit curiga dengan perlakuan sisil yang beda.
"Inggak kenapa2 sih. Oh iya, gua baru ingat kalau gua belum belajar nih semalam. Gua mau lu ajarin gua dong rumus fisika yang di ajarin ibu leli minggu lalu." Lanjut sisil seolah ngalihin pembicaraan kami.
"Lah tumben-tumbenan sisil mau minta diajarin sama gua, biasanya kalau masalah fisika kan, dia juga jago. Apalagi dia itu yang merupakan siswa terpintar ketiga di angkatanku, alias juara tiga umum. Gak mungkin banget" fikirku sedikit curiga. Tapi walaupun begitu, gua memilih untuk menurut saja dengannya. Soalnya gak lucu kan, pagi-pagi gini gua sama sisil sudah berantam.
***
Akhirnya kami pun menuju ruangan ujian kami. Kebetulan ruanganku dan sisil sama, cuman tempat duduk sisil sedikit terpisah jauh dariku, yang berada di belakang paling pojok ruangan. Tidak seperti tempat dudukku yang berada dibarisan kedua paling depan.
Gua sih gak masalah, selagi masih satu ruangan dengannya. Lagian walaupun dia dekat dengan gua, kita kan gak bakalan saling nyontek juga kok, walaupun yaaa, ngintip ecek2 bisa juga sih??? Hehahahahahaha...
"Inggak deng becanda"
Belum juga sekitar 10 menit gua dan sisil berada di dalam kelas, tiba2 Pahmi datang masuk keruangan kami.
"Mit, boleh aku ajak bicara sebantar?"
Baru juga pahmi ingin mengajakku keluar, bell tanda masuk sekolah pun sudah berbunyi.
"Aduh, udah bell nih, gimana kalau habis ujian saja." Saranku.
"Yaudah" jawabnya kecewa.
Sebenarnya ada apa hari ini? Mading, sikap sisil yang sedikit aneh, terus sama ajakan Pahmi yang terlihat lain dari biasanya. Apakah ini semua ada hubungannya dengan omongan kak Rama kemaren??
Gua teringat sama omongan kak Rama sabtu kemaren, yang membuat gua tanda tanya besar.
"Tapi apa???" Fikirku.
***
"pagi anak2, seperti biasa sebelum ...."
Lamunanku tersedar setalah seorang guru pengawas, seperti biasa memberikan aturan main sebelum ujian dimulai.
Dan kak Rama dengan cueknya baru saja masuk dan duduk disebelahku.
Sebelumnya dia memberikan sebuah senyuman nakal dan kata2 yang menurut gua gak penting untuk di ucapkan.
"Semangat ujian ya dedek cantik, semoga kamu jadi juara sekolah lagi."
Kata kak rama sok imut
"Yuuu, please deh. Ngomongnya jangan sok imut-imutin gitu. Gak malu apa sama muka." Batinku kesal.
***
Ujian pertama hari ini adalah ujian fisika. Ujian yang kebanyakan orang sangat susah untuk dipecahkan. Tapi tidak bagi gua, yang sangat menyukai pelajaran ini. Gua pun mulai menggores2 kan ujung pulpen gua, sambil mengingat rumus yang semalam gua pelajari.
Begitu pun dengan kak Rama, yang saat ini duduk di sampingku. Kali ini dia nampak serius dalam menjawab soal ujian yang ada di tangannya.
Bersambung.....
Tinggal dikit lagi nih....
Semangat kakaaaaaakkk hehahaa
*****************************************
@Mita prov**
Senin pagi sewaktu bell sekolah belum berbunyi, gua datang pagi2 seperti janjiku sabtu itu.
"Selamat pagi pak Wawan?" Sapaku menghampiri pak wawan yang sedang berjaga di postnya.
"Nah, gitu dong non, setiap hari selalu datang pagi."
"Iya pak, kali ini aku bakalan datang pagi terus, sekalian buktiin kalau aku juga anak yang disiplin" Kata gua sambil tersenyum.
Pak Wawan hanya bisa tertawa dan mangguk2 senang dengan perubahan sikapku.
"Yaudah pak, kalau gitu aku pamit dulu ya.!" paparku sambil meninggalkan pak Wawan yang lagi bertugas itu, menuju ruangan ujian sedikit berlari ala dora ketika sedang mencari harta karun.
(Berhasil, berhasil, iyeee.!)😁😁😁
***
Sebelum tiba di kelas, gua melewati mading sekolah. Disana anak2 sedang berkumpul dan heboh dengan gosib yang beredar pagi ini.
"Sungguh malangnya nasib siswa yang menimpa gosib sekolah yang tidak mengenakkan itu."
Tapi entah kenapa perasaan gua tiba2 berubah tidak enak. Belum lagi mereka yang serempak melirik ke arah gua prihatin.
Kok ngeliatin gua seperti itu sih? Gua sih tau, kalau gua itu cantik. Tapi biasa aja kali. (Persi narsis anak ABG.)
Tanpa mempedulikan mereka, gua pun terus berjalan melewati mading.
"Mit, lu belum liat mading kan hari ini?" Kata Sisil sambil menarik tangan gua menjauh dari kerumunan anak2 disana.
"Memangnya ada berita apaan sih, kok sepertinya lu khawatir banget kalau gua kesana." Protes gua sedikit curiga dengan perlakuan sisil yang beda.
"Inggak kenapa2 sih. Oh iya, gua baru ingat kalau gua belum belajar nih semalam. Gua mau lu ajarin gua dong rumus fisika yang di ajarin ibu leli minggu lalu." Lanjut sisil seolah ngalihin pembicaraan kami.
"Lah tumben-tumbenan sisil mau minta diajarin sama gua, biasanya kalau masalah fisika kan, dia juga jago. Apalagi dia itu yang merupakan siswa terpintar ketiga di angkatanku, alias juara tiga umum. Gak mungkin banget" fikirku sedikit curiga. Tapi walaupun begitu, gua memilih untuk menurut saja dengannya. Soalnya gak lucu kan, pagi-pagi gini gua sama sisil sudah berantam.
***
Akhirnya kami pun menuju ruangan ujian kami. Kebetulan ruanganku dan sisil sama, cuman tempat duduk sisil sedikit terpisah jauh dariku, yang berada di belakang paling pojok ruangan. Tidak seperti tempat dudukku yang berada dibarisan kedua paling depan.
Gua sih gak masalah, selagi masih satu ruangan dengannya. Lagian walaupun dia dekat dengan gua, kita kan gak bakalan saling nyontek juga kok, walaupun yaaa, ngintip ecek2 bisa juga sih??? Hehahahahahaha...
"Inggak deng becanda"
Belum juga sekitar 10 menit gua dan sisil berada di dalam kelas, tiba2 Pahmi datang masuk keruangan kami.
"Mit, boleh aku ajak bicara sebantar?"
Baru juga pahmi ingin mengajakku keluar, bell tanda masuk sekolah pun sudah berbunyi.
"Aduh, udah bell nih, gimana kalau habis ujian saja." Saranku.
"Yaudah" jawabnya kecewa.
Sebenarnya ada apa hari ini? Mading, sikap sisil yang sedikit aneh, terus sama ajakan Pahmi yang terlihat lain dari biasanya. Apakah ini semua ada hubungannya dengan omongan kak Rama kemaren??
Gua teringat sama omongan kak Rama sabtu kemaren, yang membuat gua tanda tanya besar.
"Tapi apa???" Fikirku.
***
"pagi anak2, seperti biasa sebelum ...."
Lamunanku tersedar setalah seorang guru pengawas, seperti biasa memberikan aturan main sebelum ujian dimulai.
Dan kak Rama dengan cueknya baru saja masuk dan duduk disebelahku.
Sebelumnya dia memberikan sebuah senyuman nakal dan kata2 yang menurut gua gak penting untuk di ucapkan.
"Semangat ujian ya dedek cantik, semoga kamu jadi juara sekolah lagi."
Kata kak rama sok imut
"Yuuu, please deh. Ngomongnya jangan sok imut-imutin gitu. Gak malu apa sama muka." Batinku kesal.
***
Ujian pertama hari ini adalah ujian fisika. Ujian yang kebanyakan orang sangat susah untuk dipecahkan. Tapi tidak bagi gua, yang sangat menyukai pelajaran ini. Gua pun mulai menggores2 kan ujung pulpen gua, sambil mengingat rumus yang semalam gua pelajari.
Begitu pun dengan kak Rama, yang saat ini duduk di sampingku. Kali ini dia nampak serius dalam menjawab soal ujian yang ada di tangannya.
Bersambung.....
Tinggal dikit lagi nih....
Kutunggu kau di palaminan nanti 7
Yeeeeee.. lanjut lagi ya...
****************************************
"Apa? Pahmi suka sama bau parfum gue??"
***
Hari ini gua masih gak percaya kalau tadi sebelum gua ninggalin pahmi di koridor toilet sekolah, dia mengucapkan terima kasih karena jaket miliknya gua nyemprotin parfum kesukaan gue.
Rasanya senang banget dapat pujian kayak gitu darinya. Padahal tadinya, gua cuman iseng nyemprotin parfum gua ke jaketnya sebelum gua masukin tuh jaket ke dalam tas gua.
"Woiii, kenapa lu?? Kok senyum2 sendiri."
Kata Sisil mirip jelangkung yang tiba2 nongol di depan gua.
"Inggak kenapa2 kok, gua senang aja karena hari ini gua dapat uang tambahan dari nyokap" ucapku bohong.
"Yee, kirain ada apaan. Oh iya, lu dah tau belum kita satu ruangan sama kelas mana?" Lanjut Sisil.
"Belum, emangnya sama kelas apa?" Tanyaku sok antusias
"Sama kelas XII-IPA 5." Jawab Sisil memalas. Sama kayak gua yang gak bersemangat sama sekali setelah menerima kabar buruk itu.
***
Hari ini kebetulan adalah jadwal pembagian kelas untuk ujian semester di SMA gua. Dan kebetulan semester kali ini, kelas gua di satuin sama kelas XII-IPA 5 yang terkenal sangat buruk. Apalagi kelas tersebut adalah kelas yang motabennya dari anak2 kalangan atas (anak-anak orang kaya.) Jadinya kakak-kakak senior yang belajar di sana adalah siswa/i yang lebih mementingkan popularitas daripada pendidikan. Tidak salah kalau Miska salah satunya siswa yang derada di kelas itu.
Selain itu kelas XII-IPA 5 juga terkenal sebagai siswa pemegang rekor nilai rata2 terendah setelah XII-IPS 5, di angkatannya. Jadi tidak heran kalau gua waktu itu pernah di panggil bu leli sebagai pengajar mata ajar fisika buat membantu mereka untuk ngerjain soal yang menurut gua tidak terlalu susah dikalangan kelas tiga seperti mereka.
***
Sebenarnya ada satu siswa yang merupakan seorang mantan pemegang juara umum di angkatannya, karena perilakunya yang minim, dia di pindahin ke kelas yang sangat di hindari oleh guru2 sekolah gua ini. Siapa lagi kalau bukan kak Rama.
Tapi saat itu kak Rama lebih memilih cabut untuk main basket dilapangan dari pada belajar di dalam kelas.
"Dasar kak Rama, sekolah sudah kayak miliknya aja. Untung gua gak mau jadi pacarnya dulu. Kalau sampe kejadian, ih, gak tau lagi deh nasib gua kayak apa."
Batinku, geli setelah mengingat ulah kak Rama satu tahun lalu yang selalu gangguin dan ngajakin gua pacaran.
***
Setibanya di ruang 7, (nama ruangan gua menjalani ujian.)
Gua pun menuju meja yang ada di barisan ke dua dari depan ruangan itu.
"Loh, kok kak Rama duduk di sebelah gua sih?". Gumamku bingung, begitu melihat photo kak Rama berada di pojok kanan meja ujian gua.
"Memangnya kenapa, Gak suka?" Jawab seseorang yang tak lain adalah kak Rama sendiri yang saat ini sedang berdiri di belakangku.
"Eh kak Rama, maaf kak, aku gak bermak."
"Gak apa2 kok, lagian wajar aja lagi, siswi secantik dan terkenal seperti lu itu gak tau nama asli gua. Makanya lu agak bingung gitu kan kalau nama lu yang dari L, bisa satu meja dengan gua yang lu taunya berinisial dari R" jawabnya setelah memutus omonganku. Dan saat ini kak Rama dengan senyuman devilnya.
Sebuah senyuman yang menurut gua kurang bersahabat, dan mengingatkanku pada senyum seseorang.
"Tapi siapa ya..." ucapku dalam hati, seolah mengingat2 senuman itu. Tapi apa boleh buat, karena gua tidak bisa mengingat sama sekali.
Sekarang ini dia tengah memandang gua dengan sedikit horor. Dan jujur, membuat gua sedikit risih dan takut.
"Lu gak usah takut gitu kali LUNA SASMITA. tapi, sebelumnya gua kasih tahu dulu kali ya nama lengkap gua biar kita sama2 adil."
"Nih, perkenalkan nama gua, Lingga Rama" Kata kak Rama yang seolah bisa membaca pikiranku. Dengan gaya sok kerennya yang memuakkan itu.
"Oh iya, lu sekarang dekat sama Pahmi ya, gak heran juga sih kalau seorang Pahmi yang gak jauh kerennya sama gua bisa nakhlukin cewek secantik kamu. Dan gua yakin, misi dia pasti berhasil."
"Misi? Maksud kakak misi apaan ya??" Tanyaku sedikit bingung dengan maksud kak Rama.
Manun kak rama hanya nyengir kuda. Sebuah senyuman yang tidak bisa gua tebak maksudnya apa, tapi yang jelas, senyumannya itu membuat gua merasa tidak nyaman sama sekali.
Tanpa mempedulikan kebingungan gua, kak Rama pun langsung pergi ninggalin gua, yang sedang terdiam seorang diri di dalam kelas.
Bersambung....
****************************************
"Apa? Pahmi suka sama bau parfum gue??"
***
Hari ini gua masih gak percaya kalau tadi sebelum gua ninggalin pahmi di koridor toilet sekolah, dia mengucapkan terima kasih karena jaket miliknya gua nyemprotin parfum kesukaan gue.
Rasanya senang banget dapat pujian kayak gitu darinya. Padahal tadinya, gua cuman iseng nyemprotin parfum gua ke jaketnya sebelum gua masukin tuh jaket ke dalam tas gua.
"Woiii, kenapa lu?? Kok senyum2 sendiri."
Kata Sisil mirip jelangkung yang tiba2 nongol di depan gua.
"Inggak kenapa2 kok, gua senang aja karena hari ini gua dapat uang tambahan dari nyokap" ucapku bohong.
"Yee, kirain ada apaan. Oh iya, lu dah tau belum kita satu ruangan sama kelas mana?" Lanjut Sisil.
"Belum, emangnya sama kelas apa?" Tanyaku sok antusias
"Sama kelas XII-IPA 5." Jawab Sisil memalas. Sama kayak gua yang gak bersemangat sama sekali setelah menerima kabar buruk itu.
***
Hari ini kebetulan adalah jadwal pembagian kelas untuk ujian semester di SMA gua. Dan kebetulan semester kali ini, kelas gua di satuin sama kelas XII-IPA 5 yang terkenal sangat buruk. Apalagi kelas tersebut adalah kelas yang motabennya dari anak2 kalangan atas (anak-anak orang kaya.) Jadinya kakak-kakak senior yang belajar di sana adalah siswa/i yang lebih mementingkan popularitas daripada pendidikan. Tidak salah kalau Miska salah satunya siswa yang derada di kelas itu.
Selain itu kelas XII-IPA 5 juga terkenal sebagai siswa pemegang rekor nilai rata2 terendah setelah XII-IPS 5, di angkatannya. Jadi tidak heran kalau gua waktu itu pernah di panggil bu leli sebagai pengajar mata ajar fisika buat membantu mereka untuk ngerjain soal yang menurut gua tidak terlalu susah dikalangan kelas tiga seperti mereka.
***
Sebenarnya ada satu siswa yang merupakan seorang mantan pemegang juara umum di angkatannya, karena perilakunya yang minim, dia di pindahin ke kelas yang sangat di hindari oleh guru2 sekolah gua ini. Siapa lagi kalau bukan kak Rama.
Tapi saat itu kak Rama lebih memilih cabut untuk main basket dilapangan dari pada belajar di dalam kelas.
"Dasar kak Rama, sekolah sudah kayak miliknya aja. Untung gua gak mau jadi pacarnya dulu. Kalau sampe kejadian, ih, gak tau lagi deh nasib gua kayak apa."
Batinku, geli setelah mengingat ulah kak Rama satu tahun lalu yang selalu gangguin dan ngajakin gua pacaran.
***
Setibanya di ruang 7, (nama ruangan gua menjalani ujian.)
Gua pun menuju meja yang ada di barisan ke dua dari depan ruangan itu.
"Loh, kok kak Rama duduk di sebelah gua sih?". Gumamku bingung, begitu melihat photo kak Rama berada di pojok kanan meja ujian gua.
"Memangnya kenapa, Gak suka?" Jawab seseorang yang tak lain adalah kak Rama sendiri yang saat ini sedang berdiri di belakangku.
"Eh kak Rama, maaf kak, aku gak bermak."
"Gak apa2 kok, lagian wajar aja lagi, siswi secantik dan terkenal seperti lu itu gak tau nama asli gua. Makanya lu agak bingung gitu kan kalau nama lu yang dari L, bisa satu meja dengan gua yang lu taunya berinisial dari R" jawabnya setelah memutus omonganku. Dan saat ini kak Rama dengan senyuman devilnya.
Sebuah senyuman yang menurut gua kurang bersahabat, dan mengingatkanku pada senyum seseorang.
"Tapi siapa ya..." ucapku dalam hati, seolah mengingat2 senuman itu. Tapi apa boleh buat, karena gua tidak bisa mengingat sama sekali.
Sekarang ini dia tengah memandang gua dengan sedikit horor. Dan jujur, membuat gua sedikit risih dan takut.
"Lu gak usah takut gitu kali LUNA SASMITA. tapi, sebelumnya gua kasih tahu dulu kali ya nama lengkap gua biar kita sama2 adil."
"Nih, perkenalkan nama gua, Lingga Rama" Kata kak Rama yang seolah bisa membaca pikiranku. Dengan gaya sok kerennya yang memuakkan itu.
"Oh iya, lu sekarang dekat sama Pahmi ya, gak heran juga sih kalau seorang Pahmi yang gak jauh kerennya sama gua bisa nakhlukin cewek secantik kamu. Dan gua yakin, misi dia pasti berhasil."
"Misi? Maksud kakak misi apaan ya??" Tanyaku sedikit bingung dengan maksud kak Rama.
Manun kak rama hanya nyengir kuda. Sebuah senyuman yang tidak bisa gua tebak maksudnya apa, tapi yang jelas, senyumannya itu membuat gua merasa tidak nyaman sama sekali.
Tanpa mempedulikan kebingungan gua, kak Rama pun langsung pergi ninggalin gua, yang sedang terdiam seorang diri di dalam kelas.
Bersambung....
Kutunggu kamu di palaminan nanti 6
Lanjut lagiii....
Semangat mambaca ya....
******************************************
Hari yang cerah seiring udara dingin dibalik sang pacar mulai menampakkan senyumannya menyambut.
Aku masih saja menarik selimut tebalku, padahal AC di kamarku sudah kumatikan, namun dingin yang kurasakan seolah menusuk tulang yang dibaluti tubuh mungilku ini.
Mungkin ini akibat hujan tengah malam tadi. Jadi aku masih terbuai oleh kehangatan selimut dan kelembutan bantal yang menempel ditubuhku.
***
"Non, non Mitha, sudah pukul 06.00 pagi lho non. Non gak berangkat ke sekolah??" Panggil bi inem pembantu yang bekerja dirumahku.
Mendengar suara bu Inem, gua langsung terbangun dari tempat tidur dengan sempoyongan karena di kejar waktu.
Gua memang sering kesiangan atau bahkan telat nyampe ke sekolah. Tapi please tuhan tidak untuk kali ini, soalnya guru piket hari ini adalah pak Sapto. Sudah berapa kali gua telat di jam piketnya, bisa2 gua kena tegor dan mendapat surat pernyataan.
"Ooooh Noooo...!"
Tuh kan, lagi2 gua lebay.
***
Singkat cerita, ternyata tuhan sedang sibuk, jadinya gua pun telat juga sampai ke sekolah karena Saat ini gerbang sekolah sudah tergembok.
Lagi-lagi gua harus memakai jurus pemikat paling jitu untuk pak Wawan selaku satpam sekolah kami.
"Pak ganteng, tolong bukain pintu gerbangnya dong?"
"Aduh non, bukannya bapak gak mau buka, tapi kali ini bapak gak bisa" jawab pak Wawan memalas.
"Udahlah pak, please bantu aku, aku bakalan beliin bapak bakso deh, sebanyak yang bapak mau. Suer deh ✌" tawarku sedikit cengiran.
Kali ini, demi terhindar dari pak Sapto gak apa2 deh ngeluarin banyak uang jajan buat pak Wawan. Lagian dia kan sering bantuin gua kalau lagi telat.
"Gak usah repot2 buat beliin pak wawan bakso. Karena saya bakalan panggil orang tua kamu ke sini. Teriak suara macan (upps, sorry maksud gua suara pak Sapto). Tiba2 yang keluar dari dalam pos satpam.
"Nyeeet.." gua sampe menelan ludah begitu melihat pak Sapto dengan wajah sangarnya.
Apa gua bilang, guru yang satu ini memang niat banget kalau lagi kerja. Padahal ruginya apa coba cuman biarin gua masuk ke kelas. Toh, gua juga gak bakalan lapor ke kepsek juga kok.
Tapi ya sudahlah, mungkin sudah tabiat guru yang satu ini, senang melihat gua menderita. Tapi bukan sisil namanya jika tidak mencoba, karena gua masih belum kehilangan akal.
Seinggaknya kalau berekting sedih, pak Sapto bisa dibiarin gua lolos dari surat panggilan orang tua, yang sangat memalukan itu.
Dan al hasil tuhan masih saja sibuk. Jadinya gua harus menerima surat panggilan untuk orang tua gua setelah berbagai macam hukuman yang gua terima.
Setelah semuanya usai, gua diam2 kabur ke kelas. Sebelumnya gua ke toilet sekolah, membasuh tangan gua yang bau sampah ini.
"Mit, kamu dari mana aja kok bisa kesiangan ke sekolah?" Panggil Pahmi yang juga baru keluar dari dalam toilet.
"Anuuuu, gua tadi habis ada masalah sama mobil gua, makanya gua tumbenan banget telat."
"Oooh, gitu ya. Tapi bukannya memang kamu dah kebiasaan telat?"
Ucapannya barusan membuat gua mingkam.
Emang benar sih, dan yang lebih parahnya lagi, kalau dia sudah tau kalau gua ini sering telat ke sekolah.
"terus maksudnya apaan coba barusan? Apalagi dengan cara dia melihat gua tadi, seolah ngeremehin gua banget. Sumpah gak bisa terima. Dan mulai hari ini gua bakalan janji, dan buktiin ke dia kalau gua gak akan kesiangan lagi" janji Mita.
***
@author prov.
Saat ini, Mita Membeku ditempatnya. Sementara Pahmi meninggalkannya dengan senyum devil, seolah puas ngerjain gadis pujaannya itu.
Namun, sebelum pahmi menjauh dari Mita, gadis itu memanggilnya.
"Pahmi, tunggu!"
"Iya, kenapa?" Kata pahmi menoleh ke arah Mita.
"Gua.., gua cuman mau balikin jaket yang lu kasih pinjam ke gua. Nih" ucapnya lagi sambil ngulurin jaket berwana biru.
"Lu gak usah khawatir, soalnya jaket lu sudah gua cuci bersih kok, sebelumnya makasih ya." Lanjutnya.
Saat berduaan seperti ini, Mita berusaha tenang agar tidak terlihat kaku, didepannya.
Gak lucu kan kalau dia sampe tau jika Mita sedang gerogi saat ini.
Belum lagi detak jantung Mita, semakin gak karuan. Akhirnya gadis itu langsung buru2 pergi ninggalin Pahmi disana.
Bersambung...
Semangat mambaca ya....
******************************************
Hari yang cerah seiring udara dingin dibalik sang pacar mulai menampakkan senyumannya menyambut.
Aku masih saja menarik selimut tebalku, padahal AC di kamarku sudah kumatikan, namun dingin yang kurasakan seolah menusuk tulang yang dibaluti tubuh mungilku ini.
Mungkin ini akibat hujan tengah malam tadi. Jadi aku masih terbuai oleh kehangatan selimut dan kelembutan bantal yang menempel ditubuhku.
***
"Non, non Mitha, sudah pukul 06.00 pagi lho non. Non gak berangkat ke sekolah??" Panggil bi inem pembantu yang bekerja dirumahku.
Mendengar suara bu Inem, gua langsung terbangun dari tempat tidur dengan sempoyongan karena di kejar waktu.
Gua memang sering kesiangan atau bahkan telat nyampe ke sekolah. Tapi please tuhan tidak untuk kali ini, soalnya guru piket hari ini adalah pak Sapto. Sudah berapa kali gua telat di jam piketnya, bisa2 gua kena tegor dan mendapat surat pernyataan.
"Ooooh Noooo...!"
Tuh kan, lagi2 gua lebay.
***
Singkat cerita, ternyata tuhan sedang sibuk, jadinya gua pun telat juga sampai ke sekolah karena Saat ini gerbang sekolah sudah tergembok.
Lagi-lagi gua harus memakai jurus pemikat paling jitu untuk pak Wawan selaku satpam sekolah kami.
"Pak ganteng, tolong bukain pintu gerbangnya dong?"
"Aduh non, bukannya bapak gak mau buka, tapi kali ini bapak gak bisa" jawab pak Wawan memalas.
"Udahlah pak, please bantu aku, aku bakalan beliin bapak bakso deh, sebanyak yang bapak mau. Suer deh ✌" tawarku sedikit cengiran.
Kali ini, demi terhindar dari pak Sapto gak apa2 deh ngeluarin banyak uang jajan buat pak Wawan. Lagian dia kan sering bantuin gua kalau lagi telat.
"Gak usah repot2 buat beliin pak wawan bakso. Karena saya bakalan panggil orang tua kamu ke sini. Teriak suara macan (upps, sorry maksud gua suara pak Sapto). Tiba2 yang keluar dari dalam pos satpam.
"Nyeeet.." gua sampe menelan ludah begitu melihat pak Sapto dengan wajah sangarnya.
Apa gua bilang, guru yang satu ini memang niat banget kalau lagi kerja. Padahal ruginya apa coba cuman biarin gua masuk ke kelas. Toh, gua juga gak bakalan lapor ke kepsek juga kok.
Tapi ya sudahlah, mungkin sudah tabiat guru yang satu ini, senang melihat gua menderita. Tapi bukan sisil namanya jika tidak mencoba, karena gua masih belum kehilangan akal.
Seinggaknya kalau berekting sedih, pak Sapto bisa dibiarin gua lolos dari surat panggilan orang tua, yang sangat memalukan itu.
Dan al hasil tuhan masih saja sibuk. Jadinya gua harus menerima surat panggilan untuk orang tua gua setelah berbagai macam hukuman yang gua terima.
Setelah semuanya usai, gua diam2 kabur ke kelas. Sebelumnya gua ke toilet sekolah, membasuh tangan gua yang bau sampah ini.
"Mit, kamu dari mana aja kok bisa kesiangan ke sekolah?" Panggil Pahmi yang juga baru keluar dari dalam toilet.
"Anuuuu, gua tadi habis ada masalah sama mobil gua, makanya gua tumbenan banget telat."
"Oooh, gitu ya. Tapi bukannya memang kamu dah kebiasaan telat?"
Ucapannya barusan membuat gua mingkam.
Emang benar sih, dan yang lebih parahnya lagi, kalau dia sudah tau kalau gua ini sering telat ke sekolah.
"terus maksudnya apaan coba barusan? Apalagi dengan cara dia melihat gua tadi, seolah ngeremehin gua banget. Sumpah gak bisa terima. Dan mulai hari ini gua bakalan janji, dan buktiin ke dia kalau gua gak akan kesiangan lagi" janji Mita.
***
@author prov.
Saat ini, Mita Membeku ditempatnya. Sementara Pahmi meninggalkannya dengan senyum devil, seolah puas ngerjain gadis pujaannya itu.
Namun, sebelum pahmi menjauh dari Mita, gadis itu memanggilnya.
"Pahmi, tunggu!"
"Iya, kenapa?" Kata pahmi menoleh ke arah Mita.
"Gua.., gua cuman mau balikin jaket yang lu kasih pinjam ke gua. Nih" ucapnya lagi sambil ngulurin jaket berwana biru.
"Lu gak usah khawatir, soalnya jaket lu sudah gua cuci bersih kok, sebelumnya makasih ya." Lanjutnya.
Saat berduaan seperti ini, Mita berusaha tenang agar tidak terlihat kaku, didepannya.
Gak lucu kan kalau dia sampe tau jika Mita sedang gerogi saat ini.
Belum lagi detak jantung Mita, semakin gak karuan. Akhirnya gadis itu langsung buru2 pergi ninggalin Pahmi disana.
Bersambung...
Kutunggu kau di pelaminan nanti 5
Seturunnya dari kamarku barusan. Gua langsung ke dapur karena tenggorokan gua terara mulai retak kekeringan.
"Sawah kali ah..." hehahaaa
Dan sehabis dari dapur tadinya gua langsung kembali ke kamar untuk mengambil Iphone Milikku.
Sebelum itu, gua masih sempat melirik ruang tamu. Tampak jelas disana mamah dan papah lagi asyik bernesraan. Layaknya dua remaja sedang di landa cinta (alias bernostalgia gitu deh, mengingat masa2 pacaran mereka dulu.) Intinya gua merasa iri melihat mereka yang bermesra-mesraan seperti itu.
"Mereka gak mirikin aku apa, yang lagi menjomlo" batinku.
"Daripada gua terus terbawa emosi, mendingan gua menuju kamar untuk membuka aplikasi FB, twitter, BBM ataupun aplikasih lainnya. Daripada gua jadi kambing congek gini." Batin Mita lagi.
@Author prov*
Akhirnya Mita berlahan melangkahkan kakinya meniki tangga menuju kamarnya. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara, karena takut mengganggu mamah dan paphnya. Namun suara pria paru baya, terpaksa menghentikannya.
"Mit, kamu kesini dulu nak." Panggil papahnya.
Yah.., akhirnya saat ini Mita tengah duduk di tengah mamah dan papahnya. Tanpa Raffa disana.
Mingkin dia memilih untuk duluan masuk ke dalam kamarnya dan asyik bermain game online di komputer miliknya.
Dan gua rasa, alasan itu pasti membuat Raffa kenapa jam segini memilih untuk tidur pada saturday night hari ini, lebih cepat dari biasanya.
"ada apaan pah, mah" jawabku setelah duduk ditengah mamah dan papah.
"inggak kenapa2 kok nak, kita hanya kangen aja pengen ngobrol sama kamu. Lagian akhir2 ini papah sama mamah kan sering sibuk, sampe gak ada waktu banyak buat ngobrol sama kalian." Jawab papah.
Gua memang harus akuin apa yang di bilang papah barusan. Akhir2 ini papah dan mamah sedikit lebih sibuk dengan kerjaan mereka. Sampai gua dan Raffa merasa kurang di perhatiin seperti ini.
Gua sih masih bisa maklum, Tapi Raffa yang masih kecil seperti itu apakah mau mengerti dengan kondisi keluarga gue sekarang? Jawabannya hanya "maybe" Karena gua sendiri tidak tahu dengan perubahan sikap adik gua saat ini.
"Oh iya Mit, umur kamu kan sekarang sudah 16 tahun, kamu sudah punya pacar belum?"
Pertanyaan Mamah barusan membuat jantung gua kaget seketika.
"Apa maksud mamah menanyakan hal itu..? Fikirku.
Apakah mamah, bisa membaca perubahan sikap gua akhir2 ini ya? Batinku sedikit parno dan menganggap mamah musuh buyutnya mama lauren, yang bisa membanca jalan fikiran dan hidup seseorang. (Uuppsss sorry gua lebay.)
"Kok mamah nanya gitu?" Kataku mencoba tetap tenang.
"Karena tadi adik kamu cerita sama papah dan mamah, sewaktu dia lagi bangunin kamu, Katanya kamu lagi ngigo manggil2 namanya siapa tuh pah.."
"pahmi ma." Jelas papahku.
"Iya sih Pahmi. Kalau boleh tahu, Pahmi itu siapa sih nak?" Tanya mamah memperjelas.
"Tuhan... benar2 nih si Raffa, comelnya minta ampun. Gumalku dalam hati.
Sekarang gua benar2 merasa terjepit dengan pertanyaan yang keluar dari papah dan mamah. Mirip tersangka maling jemuran saja, yang sedang di introgasi sama pak polisi.
"Lah kok malah maling jemuran sih??"
Ya.., Mau maling apapun, tapi yang namanya penjahat kan kalau lagi di introgasi sama polisi tetap saja bikin bulu kuduk ini bangun.
"Pahmi? Oh itu sih, mah pah cuman teman sekolah aja kok pah mah." Jawabku sedikit gelagapan.
Rasanya wajah gua tiba2 memanas sangging gak tau mau ngomong apa lagi di depan bonyok gua.
"Papah sama mamah sih tidak melarang kamu buat dekat sama teman lelaki kamu, apalagi papah sama mamah juga dulu pernah muda. Asal kamu bisa jaga diri dan hijab yang kamu pakai aja. Dalam arti kalau wanita muslimah itu harus bisa menjaga batasannya antara mukhrim dan tidak mukhrimnya." Kata papahku dengan nasehat bijak persi beliau.
lagi-lagi gua hanya diam, namun sedikit legah setelah dengarin nasehat papah.
Setidaknya beliau inggak marah setelah mengetahui kalau gua habis mimpiin pahmi yang kedengarannya sangat tidak wajar untuk gua mimpikan karena dia bukan siapa2 gua.
"Ya, tuhan... apakah gua benar2 jatuh cinta sama pahmi yang seharusnya belum pantas aku cintai? Kalau benar, berdosahkah aku ini karena membuat allah cemburu??
Bersambung....
"Sawah kali ah..." hehahaaa
Dan sehabis dari dapur tadinya gua langsung kembali ke kamar untuk mengambil Iphone Milikku.
Sebelum itu, gua masih sempat melirik ruang tamu. Tampak jelas disana mamah dan papah lagi asyik bernesraan. Layaknya dua remaja sedang di landa cinta (alias bernostalgia gitu deh, mengingat masa2 pacaran mereka dulu.) Intinya gua merasa iri melihat mereka yang bermesra-mesraan seperti itu.
"Mereka gak mirikin aku apa, yang lagi menjomlo" batinku.
"Daripada gua terus terbawa emosi, mendingan gua menuju kamar untuk membuka aplikasi FB, twitter, BBM ataupun aplikasih lainnya. Daripada gua jadi kambing congek gini." Batin Mita lagi.
@Author prov*
Akhirnya Mita berlahan melangkahkan kakinya meniki tangga menuju kamarnya. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara, karena takut mengganggu mamah dan paphnya. Namun suara pria paru baya, terpaksa menghentikannya.
"Mit, kamu kesini dulu nak." Panggil papahnya.
Yah.., akhirnya saat ini Mita tengah duduk di tengah mamah dan papahnya. Tanpa Raffa disana.
Mingkin dia memilih untuk duluan masuk ke dalam kamarnya dan asyik bermain game online di komputer miliknya.
Dan gua rasa, alasan itu pasti membuat Raffa kenapa jam segini memilih untuk tidur pada saturday night hari ini, lebih cepat dari biasanya.
"ada apaan pah, mah" jawabku setelah duduk ditengah mamah dan papah.
"inggak kenapa2 kok nak, kita hanya kangen aja pengen ngobrol sama kamu. Lagian akhir2 ini papah sama mamah kan sering sibuk, sampe gak ada waktu banyak buat ngobrol sama kalian." Jawab papah.
Gua memang harus akuin apa yang di bilang papah barusan. Akhir2 ini papah dan mamah sedikit lebih sibuk dengan kerjaan mereka. Sampai gua dan Raffa merasa kurang di perhatiin seperti ini.
Gua sih masih bisa maklum, Tapi Raffa yang masih kecil seperti itu apakah mau mengerti dengan kondisi keluarga gue sekarang? Jawabannya hanya "maybe" Karena gua sendiri tidak tahu dengan perubahan sikap adik gua saat ini.
"Oh iya Mit, umur kamu kan sekarang sudah 16 tahun, kamu sudah punya pacar belum?"
Pertanyaan Mamah barusan membuat jantung gua kaget seketika.
"Apa maksud mamah menanyakan hal itu..? Fikirku.
Apakah mamah, bisa membaca perubahan sikap gua akhir2 ini ya? Batinku sedikit parno dan menganggap mamah musuh buyutnya mama lauren, yang bisa membanca jalan fikiran dan hidup seseorang. (Uuppsss sorry gua lebay.)
"Kok mamah nanya gitu?" Kataku mencoba tetap tenang.
"Karena tadi adik kamu cerita sama papah dan mamah, sewaktu dia lagi bangunin kamu, Katanya kamu lagi ngigo manggil2 namanya siapa tuh pah.."
"pahmi ma." Jelas papahku.
"Iya sih Pahmi. Kalau boleh tahu, Pahmi itu siapa sih nak?" Tanya mamah memperjelas.
"Tuhan... benar2 nih si Raffa, comelnya minta ampun. Gumalku dalam hati.
Sekarang gua benar2 merasa terjepit dengan pertanyaan yang keluar dari papah dan mamah. Mirip tersangka maling jemuran saja, yang sedang di introgasi sama pak polisi.
"Lah kok malah maling jemuran sih??"
Ya.., Mau maling apapun, tapi yang namanya penjahat kan kalau lagi di introgasi sama polisi tetap saja bikin bulu kuduk ini bangun.
"Pahmi? Oh itu sih, mah pah cuman teman sekolah aja kok pah mah." Jawabku sedikit gelagapan.
Rasanya wajah gua tiba2 memanas sangging gak tau mau ngomong apa lagi di depan bonyok gua.
"Papah sama mamah sih tidak melarang kamu buat dekat sama teman lelaki kamu, apalagi papah sama mamah juga dulu pernah muda. Asal kamu bisa jaga diri dan hijab yang kamu pakai aja. Dalam arti kalau wanita muslimah itu harus bisa menjaga batasannya antara mukhrim dan tidak mukhrimnya." Kata papahku dengan nasehat bijak persi beliau.
lagi-lagi gua hanya diam, namun sedikit legah setelah dengarin nasehat papah.
Setidaknya beliau inggak marah setelah mengetahui kalau gua habis mimpiin pahmi yang kedengarannya sangat tidak wajar untuk gua mimpikan karena dia bukan siapa2 gua.
"Ya, tuhan... apakah gua benar2 jatuh cinta sama pahmi yang seharusnya belum pantas aku cintai? Kalau benar, berdosahkah aku ini karena membuat allah cemburu??
Bersambung....
Kutunggu kau di palaminan nanti 4
Lanjut lagi ahh...
****************************************
Di Mall ini memang terdapat beberapa restoran untuk tempat pengunjung menikmati berbagai macam kuliner yang ada di lantai lima.
Makanya gua menganggap pertemuan kami memang cuman kebetulan. Tidak seperti Sisil yang ketakutan akan bayang2 cerita kanibal, pembunuh berdarah dingin yang sering kita tonton di DVD kamarku.
(Sisil Lebay😝😝)
"Kasihan si Sisil, kayaknya dia harus ketemu sama nyokap gua dulu deh, buat konsultasi masalah psikologinya itu."
Apa mungkin ini karena cinta Sisil yang bertepuk sebelah tangan terhadap Pahmi? Makanya sekarang berubah menjadi seorang hatters si
Pahmi dan menganggapnya seorang penjahat karena telah membuatnya broken heart untuk pertama kalinya?
"Gak tau lah. Biar Sisil, Pahmi dan tuhan aja yg tahu."
Tidak sepertiku yang sekarang ini, lebih sering mikirin Pahmi. Saat ini Hanya komitmen dan gengsi saja yang nguatin gua untuk tidak jatuh kepelukanya. Apalagi setelah gua tahu selera gua dan Pahmi itu banyak kesamaan.
Kemudian cara dia memuji gua sewaktu sedang memilihkan baju yang cocok buarku. Jujur membuatku seakan terbang, hingga langit ke tujuh pake baling2 bambunya doraemon.
(Doeaemon marah.. "woiiii.., kenapa nama gua dibawa2" 😈😈 upss..)
***
"Kakaaak.., banguuun!!" Teriak Raffa."
"Taii lu ya" kata gua kesal setelah telinga gua berhasil berdengung, dengan teriakan suara cemprengnya itu.
Bukannya minta maaf, tapi Raffa malah ketawa karena merasa puas sudah bisa membuatku marah.
"Dasar anak ini, selalu saja bikin gue kesal." batinku
Raffa adalah adik cowok gua satu-satunya. Saat ini dia sedang duduk di kelas dua SMP.
Aku dan Raffa hanya dua bersaudara. Sebagai anak sulung, gua sih sangat sayang sama dia. Tapi, sejak SMP ini sikap Raffa berubah jadi jail, tidak seperti waktu dia SD dulu yang terkenal sangat manis.
Nyokap sih bisa maklum dengan sikap Raffa, karena selain wataknya yang lembut, mamah juga seorang dokter spesialis jiwa.
Sementara papah. Setiap harinya kan sibuk ngurusin perusahaan, mana tau menahu akan hal itu. Apalagi Raffa anak cowok satu-satunya yg akan jadi penerusnya.
"Raffa, Raffa.! Mau jadi apa sih kamu dek, kok masih kecil aja sudah seperti ini" Gumamku setelah Raffa ninggalin gua kembali sendirian di dalam kamar.
***
Gua melirik ke arah jam wekker di atas meja lampu di samping tempat tidur gua. Ternyata saat ini sudah pukul 20.00 wib.
"Huuammm, masih ngantuk." Gumamku sambil menguap.
Akibat kecapean habis jalan ke Mall bersama sisil tadi siang, gua sampe ketiduran. Untung saja gua masih datang bulan, jadinya gua lagi gak sholat yang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang muslimah.
***
Gua bangun dari tempat tidurku, lalu mencuci muka di wastapel yang ada di samping pintu kamar mandiku. Setelah itu gua turun ke bawah menghampiri papah, mamah dan Raffa yang sedang asyik menonton acara ini talk show pavorit mereka.
Aku tahu, kalau mamah dan papah suka banget sama a'a sule dan kak andre kalau lagi tampil di TV. kata mereka, kak andre dan a'a sule, contoh salah satu pelawak yang cerdas.
***
"Kamu baru bangun nak?" Tanya papah lembut, penuh kebapaan setelah melihat gua sedang turun dari tangga.
"Iya pah," jawabku sekenanya.
Papahku bernama Herlambang Wijaya.
Dia seorang penghusaha sukses dan terkenal senusantara ini.
Papahku orangnya sangat baik, dan dia tipe lelaki romantis.
Gak salah memang, kalau mamah yang jadi primadona si kampusnya dulu, sampai terpikat dengan sosok papah yang pendiam dan super cuek.
"itu sih cerita mamah waktu itu."
Dan gua, gak pengen nyeritain itu semua ke kalian.
Jangan tanya kenapa. Soalnya gua juga gak tau kenapa.
Yang jelas gua malas, apalagi gak penting juga ngomongin masa pacaran orang tua dulu. bukannya kebapa ya, soalnya selain kalian takut ngiri nantiya, disini kan gua cuman mengangkat cerita tentang masa pacaran gua sama pahmi.
@author marah..
"Woiiii, ayo lanjutin.... kok malah curcol segala sih."
Oke lupakan soal yang gak jelas itu. Sekarang kita lanjutin aja lagi ceritanya.
Tapi sorry.. di pertemuan berikutnya tapi. Hehahahahahaaa....
Bersambung...
****************************************
Di Mall ini memang terdapat beberapa restoran untuk tempat pengunjung menikmati berbagai macam kuliner yang ada di lantai lima.
Makanya gua menganggap pertemuan kami memang cuman kebetulan. Tidak seperti Sisil yang ketakutan akan bayang2 cerita kanibal, pembunuh berdarah dingin yang sering kita tonton di DVD kamarku.
(Sisil Lebay😝😝)
"Kasihan si Sisil, kayaknya dia harus ketemu sama nyokap gua dulu deh, buat konsultasi masalah psikologinya itu."
Apa mungkin ini karena cinta Sisil yang bertepuk sebelah tangan terhadap Pahmi? Makanya sekarang berubah menjadi seorang hatters si
Pahmi dan menganggapnya seorang penjahat karena telah membuatnya broken heart untuk pertama kalinya?
"Gak tau lah. Biar Sisil, Pahmi dan tuhan aja yg tahu."
Tidak sepertiku yang sekarang ini, lebih sering mikirin Pahmi. Saat ini Hanya komitmen dan gengsi saja yang nguatin gua untuk tidak jatuh kepelukanya. Apalagi setelah gua tahu selera gua dan Pahmi itu banyak kesamaan.
Kemudian cara dia memuji gua sewaktu sedang memilihkan baju yang cocok buarku. Jujur membuatku seakan terbang, hingga langit ke tujuh pake baling2 bambunya doraemon.
(Doeaemon marah.. "woiiii.., kenapa nama gua dibawa2" 😈😈 upss..)
***
"Kakaaak.., banguuun!!" Teriak Raffa."
"Taii lu ya" kata gua kesal setelah telinga gua berhasil berdengung, dengan teriakan suara cemprengnya itu.
Bukannya minta maaf, tapi Raffa malah ketawa karena merasa puas sudah bisa membuatku marah.
"Dasar anak ini, selalu saja bikin gue kesal." batinku
Raffa adalah adik cowok gua satu-satunya. Saat ini dia sedang duduk di kelas dua SMP.
Aku dan Raffa hanya dua bersaudara. Sebagai anak sulung, gua sih sangat sayang sama dia. Tapi, sejak SMP ini sikap Raffa berubah jadi jail, tidak seperti waktu dia SD dulu yang terkenal sangat manis.
Nyokap sih bisa maklum dengan sikap Raffa, karena selain wataknya yang lembut, mamah juga seorang dokter spesialis jiwa.
Sementara papah. Setiap harinya kan sibuk ngurusin perusahaan, mana tau menahu akan hal itu. Apalagi Raffa anak cowok satu-satunya yg akan jadi penerusnya.
"Raffa, Raffa.! Mau jadi apa sih kamu dek, kok masih kecil aja sudah seperti ini" Gumamku setelah Raffa ninggalin gua kembali sendirian di dalam kamar.
***
Gua melirik ke arah jam wekker di atas meja lampu di samping tempat tidur gua. Ternyata saat ini sudah pukul 20.00 wib.
"Huuammm, masih ngantuk." Gumamku sambil menguap.
Akibat kecapean habis jalan ke Mall bersama sisil tadi siang, gua sampe ketiduran. Untung saja gua masih datang bulan, jadinya gua lagi gak sholat yang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang muslimah.
***
Gua bangun dari tempat tidurku, lalu mencuci muka di wastapel yang ada di samping pintu kamar mandiku. Setelah itu gua turun ke bawah menghampiri papah, mamah dan Raffa yang sedang asyik menonton acara ini talk show pavorit mereka.
Aku tahu, kalau mamah dan papah suka banget sama a'a sule dan kak andre kalau lagi tampil di TV. kata mereka, kak andre dan a'a sule, contoh salah satu pelawak yang cerdas.
***
"Kamu baru bangun nak?" Tanya papah lembut, penuh kebapaan setelah melihat gua sedang turun dari tangga.
"Iya pah," jawabku sekenanya.
Papahku bernama Herlambang Wijaya.
Dia seorang penghusaha sukses dan terkenal senusantara ini.
Papahku orangnya sangat baik, dan dia tipe lelaki romantis.
Gak salah memang, kalau mamah yang jadi primadona si kampusnya dulu, sampai terpikat dengan sosok papah yang pendiam dan super cuek.
"itu sih cerita mamah waktu itu."
Dan gua, gak pengen nyeritain itu semua ke kalian.
Jangan tanya kenapa. Soalnya gua juga gak tau kenapa.
Yang jelas gua malas, apalagi gak penting juga ngomongin masa pacaran orang tua dulu. bukannya kebapa ya, soalnya selain kalian takut ngiri nantiya, disini kan gua cuman mengangkat cerita tentang masa pacaran gua sama pahmi.
@author marah..
"Woiiii, ayo lanjutin.... kok malah curcol segala sih."
Oke lupakan soal yang gak jelas itu. Sekarang kita lanjutin aja lagi ceritanya.
Tapi sorry.. di pertemuan berikutnya tapi. Hehahahahahaaa....
Bersambung...
Kutunggu kau di pelaminan nanti 3
Lanjut lagi ya....
sorry kalau cerpennya gajebo. Hehahaaa
******************************************
"Maksudnya Sisil apa ya?"
Gumal gue dalam hati yang bingung begitu mengingat perkataan Sisil di dalam toilet sekolah beberapa hari lalu.
Flasback on
"Lu mungkin gak bisa liat kalau Pahmi suka sama lu. Tapi, gua bisa tau kalau dia sudah jatuh cinta sama lu"
Flasback off
***
Sehabis kejadian yang gua alami di kantin beberapa hari yang lalu, gua mengajak Sisil ke tolilet sekolah buat meriksa keadaan rok gua.
Disana gua sangat kaget setelah mendengar ucapan Sisil yang menyatakan kalau Pahmi naksir sama gua.
Jujur, ini pertama kalinya gua merasa gerogi di depan cowok, dan kalau di liat2, pahmi itu kayaknya memang benar-benar tulus, beda sama cowok lain. Dan gue sejak awal sudah merasa nyaman sama dia.
"Apa mungkin gua sudah salah telah menganggap dia sebagai musuh gua. Padahalkan selama ini, dia sangat baik sama gue."
Sekarang gue jadi merasa bersalah karena selama ini gue kurang ramah ke Pahmi.
"Ya tuhan, kenapa jadi begini sih" Batinku
***
Sepulang sekolah, gua mencoba belajar sekedar mengulang pelajaran gue diayunan dekat kolam renang yang ada di bekalang rumah.
Mengingat tinggal seminggu lagi, ujian semester di sekolah akan segera dimulai.
Tapi entah kenapa, sudah kurang lebih 20 menit mengobrak abrik buku paket fisika gue, satu pun tidak ada yang menempel di otak gua ini.
"Kenapa sih gua susah banget konsentrasi?" Hujatku.
Jujur gua sangat benci dengan moment2 seperti yang gua alami beberapa minggu ini. Seperti dek dekanlah, senyum2 sendirilah, berbunga2 lah, jatuh cin..
"What..?? apa gua sedang jatuh cinta??"
"Tidak.! Ini tidak boleh terjadi." Tegasku.
***
Merasa takut stess sama apa yg gua alami akhir-akhir ini, gua pun langsung nelpon Sisil. Seperti biasa, walaupun Sisil terkadang nyebelin tapi dia selalu setia nemanin dan dengarin curhatan gua.
Kebetulan Sisil juga lagi gak ngapa2in, makanya sehabis telponan sama dia, kami pun langsung janjian di tempat biasa di sebuah mall daerah Jakarta selatan yang tidak terlalu ramai untuk sore hari seperti saat ini.
Tanpa pikir panjang, setibanya ditempat butik muslimah langganan gua. Gua pun langsung belanja busana muslim tebaru.
Biasanya kalau sudah shoping seperti ini, gua sedikit bisa hilangin suntuk yang mumet di otak gua. Bahkan saking semangatnya, gua jadi gak sadar udah milih banyak baju, dan mencobanya disalah satu kamar ganti. Harga baju per pasang sebenarnya tidak terlalu mahal, cuman karena gua masih pelajar, jadinya gua harus hemat.
Setelah gua coba semua baju yang gua pilih, gua merasa suka dan merasa pas di badan gua. lagi lagi bukannya senang, gua malah jadi bingung. Sebagai sahabat, Sisil ikut membantu gua memilih baju mana yang harus gua ambil. tapi entah kenapa gua gak setuju sama pilihan dia, sampai dia kesal sama gua.
"Udah, ah.! Gua gak tau lagi mau bilang apa, selain kata gua yang ini."
"Apa?"
"lu beli aja tuh semua baju."
"Ya, kali baju sebanyak ini gua beli. Nanti kalau mamah sama papah gua nanyain gimana? Mereka bisa marah besar sama gua."
"Terus mau gimana lagi Kalau gak kayak gitu. Lu mau kita sampai kapan di dalam butik ini. Sekarang udah hampir mau magrib lho Mit." Kata sisil geram sambil menoleh ke arloji miliknya.
Aku hanya bisa terdiam melihat Sisil mulai ceramah kayak mamah dedeh persi gagal.
Sampai akhirnya seseorang datang menghampiri kami.
"Perlu aku bantuin gak?" kata si empunya suara.
"Pahmi?" Bisik gua kaget yang merasa sudah pamiliar dengan suara itu.
Dia tengah berjalan mendekat ke arahku sambil mengecek beberapa baju yang ada di tanganku.
"Kok lu bisa ada disini?" Tanya Sisil yang sama2 kaget sepertiku.
"Emangnya kenapa? Bukannya mall ini tempat umum ya?" Jawab pahmi ketus.
"Bukan begitu Pahmi maksudnya Sisil, mungkin karena kebetulan aja kali ya, kita bisa ketemuan disini. Jadinya Sisil agak kaget gitu." Ucapku berusaha nengahin.
"Itu tadi karena aku habis bantu-bantu di restoran mamah aku di lantai 5. Dan ini tadi rencananya pengen pulang. eh, kebetulan aku lewat dan malah ngeliat kalian berdua lagi belanja. Yaudah, aku samparin aja deh."
"Ooh, gitu ya.! Jawabku dengan mulut berbentuk O.
Bersambung.....
sorry kalau cerpennya gajebo. Hehahaaa
******************************************
"Maksudnya Sisil apa ya?"
Gumal gue dalam hati yang bingung begitu mengingat perkataan Sisil di dalam toilet sekolah beberapa hari lalu.
Flasback on
"Lu mungkin gak bisa liat kalau Pahmi suka sama lu. Tapi, gua bisa tau kalau dia sudah jatuh cinta sama lu"
Flasback off
***
Sehabis kejadian yang gua alami di kantin beberapa hari yang lalu, gua mengajak Sisil ke tolilet sekolah buat meriksa keadaan rok gua.
Disana gua sangat kaget setelah mendengar ucapan Sisil yang menyatakan kalau Pahmi naksir sama gua.
Jujur, ini pertama kalinya gua merasa gerogi di depan cowok, dan kalau di liat2, pahmi itu kayaknya memang benar-benar tulus, beda sama cowok lain. Dan gue sejak awal sudah merasa nyaman sama dia.
"Apa mungkin gua sudah salah telah menganggap dia sebagai musuh gua. Padahalkan selama ini, dia sangat baik sama gue."
Sekarang gue jadi merasa bersalah karena selama ini gue kurang ramah ke Pahmi.
"Ya tuhan, kenapa jadi begini sih" Batinku
***
Sepulang sekolah, gua mencoba belajar sekedar mengulang pelajaran gue diayunan dekat kolam renang yang ada di bekalang rumah.
Mengingat tinggal seminggu lagi, ujian semester di sekolah akan segera dimulai.
Tapi entah kenapa, sudah kurang lebih 20 menit mengobrak abrik buku paket fisika gue, satu pun tidak ada yang menempel di otak gua ini.
"Kenapa sih gua susah banget konsentrasi?" Hujatku.
Jujur gua sangat benci dengan moment2 seperti yang gua alami beberapa minggu ini. Seperti dek dekanlah, senyum2 sendirilah, berbunga2 lah, jatuh cin..
"What..?? apa gua sedang jatuh cinta??"
"Tidak.! Ini tidak boleh terjadi." Tegasku.
***
Merasa takut stess sama apa yg gua alami akhir-akhir ini, gua pun langsung nelpon Sisil. Seperti biasa, walaupun Sisil terkadang nyebelin tapi dia selalu setia nemanin dan dengarin curhatan gua.
Kebetulan Sisil juga lagi gak ngapa2in, makanya sehabis telponan sama dia, kami pun langsung janjian di tempat biasa di sebuah mall daerah Jakarta selatan yang tidak terlalu ramai untuk sore hari seperti saat ini.
Tanpa pikir panjang, setibanya ditempat butik muslimah langganan gua. Gua pun langsung belanja busana muslim tebaru.
Biasanya kalau sudah shoping seperti ini, gua sedikit bisa hilangin suntuk yang mumet di otak gua. Bahkan saking semangatnya, gua jadi gak sadar udah milih banyak baju, dan mencobanya disalah satu kamar ganti. Harga baju per pasang sebenarnya tidak terlalu mahal, cuman karena gua masih pelajar, jadinya gua harus hemat.
Setelah gua coba semua baju yang gua pilih, gua merasa suka dan merasa pas di badan gua. lagi lagi bukannya senang, gua malah jadi bingung. Sebagai sahabat, Sisil ikut membantu gua memilih baju mana yang harus gua ambil. tapi entah kenapa gua gak setuju sama pilihan dia, sampai dia kesal sama gua.
"Udah, ah.! Gua gak tau lagi mau bilang apa, selain kata gua yang ini."
"Apa?"
"lu beli aja tuh semua baju."
"Ya, kali baju sebanyak ini gua beli. Nanti kalau mamah sama papah gua nanyain gimana? Mereka bisa marah besar sama gua."
"Terus mau gimana lagi Kalau gak kayak gitu. Lu mau kita sampai kapan di dalam butik ini. Sekarang udah hampir mau magrib lho Mit." Kata sisil geram sambil menoleh ke arloji miliknya.
Aku hanya bisa terdiam melihat Sisil mulai ceramah kayak mamah dedeh persi gagal.
Sampai akhirnya seseorang datang menghampiri kami.
"Perlu aku bantuin gak?" kata si empunya suara.
"Pahmi?" Bisik gua kaget yang merasa sudah pamiliar dengan suara itu.
Dia tengah berjalan mendekat ke arahku sambil mengecek beberapa baju yang ada di tanganku.
"Kok lu bisa ada disini?" Tanya Sisil yang sama2 kaget sepertiku.
"Emangnya kenapa? Bukannya mall ini tempat umum ya?" Jawab pahmi ketus.
"Bukan begitu Pahmi maksudnya Sisil, mungkin karena kebetulan aja kali ya, kita bisa ketemuan disini. Jadinya Sisil agak kaget gitu." Ucapku berusaha nengahin.
"Itu tadi karena aku habis bantu-bantu di restoran mamah aku di lantai 5. Dan ini tadi rencananya pengen pulang. eh, kebetulan aku lewat dan malah ngeliat kalian berdua lagi belanja. Yaudah, aku samparin aja deh."
"Ooh, gitu ya.! Jawabku dengan mulut berbentuk O.
Bersambung.....
Senin, 25 April 2016
Kutunggu kau dipelaminan nanti 2
Bagian... dua.
Langsung aja deh....
******************************************
Pahmi berasal dari Solo, dan dia satu kelas denganku.
Memang semenjak Pahmi bergabung di kelasku, dia selalu saja merebut start, menjawab kuis dari guru yang mengajar di kelas kami sebagai kelas XI-IPA 1(kelas unggulan).
Dan entah kenapa gua merasa itu adalah ancaman buatku.
"Mit, lu kenapa sih? Kok akhir2 ini gua perhatiin, kok lu itu sering banget ngelamun?" Kata Sisil yang tiba-tiba ngagetin gua, karena dari tadi tengah duduk sambil termenung di sampingnya.
"Gua gak kenapa2 kok Sil, cuman malas aja ngapa-ngapain." Jawabku sekenanya.
"Ooh, tapi...."
Omongan Sisil tiba-tiba di potong oleh seorang cowok, yang sedang duduk di belakang kursi kami.
"Hay Mit, kamu dah makan belum? Kalau belum, ke kantin bareng aku yuk." Ajak Pahmi.
"Sorry deh Pahmi, gua masih kenyang nih, kalau mau kekantin, lu duluan aja deh" jawab gua datar.
***
Entah kenapa, setiap gua ketemu sama Pahmi akhir2 ini, gua merasa gak suka sama perlakuan dia yang sok akrab dan sok ramah itu.
Baru juga sekitar tiga bulan ini dia resmi sebagai siswa baru di SMA gua, dia sudah terkenal sebagai cowok idola yang super cuek setelah kak Rama, yang merupakan salah satu kakak senior pembuat onar di SMA gua.
(Bagi gua, cowok idola itu semuanya playboy 😈😈😈.)
Apalagi gua merasa aneh aja sama tingkahnya, yang selalu saja berusaha kasih perhatian ke gua. Dia kan tahu, kalau gua itu paling anti sama yang namanya cowok, apalagi cowok yang suka modus seperti dia, menurut gua sih, mending kelaut aja.
***
"Mit, lu kenapa sih, cuek banget sama si Pahmi. Dia itu kan sudah ganteng, baik, pintar, jago main basket, ker......"
"Yayayaya.. whatever lu mau ngomong apa soal pangeran kodok lu si Pahmi itu." Jawabku memotong pembicaraan sisil yang semakin gak jalas itu.
"Lah, kok jadi pangeran gua sih.??" Bantah Sisil bingung.
"Ya iyalah pangeran lu. Memangnya gua gak tau apa, kalau lu itu naksir sama dia, sampe lu mau mutusin pacar-pacar lu buat dapatin dia kan?"
"Kok lu bisa tau."
"Ya taulah, apasih yang inggak gua tau dari lu Sisilia Wiryanda."
***
Dari pada gua terus berdebat sama Sisil soal cowok yang gak penting itu, mendingan gua langsung ajak Sisil ke kantin aja deh buat makan siang. Lagian dari tadi pagi gua juga kan sebenarnya belum sarapan. Dan terus terang, sekarang perut gua pun sudah mulai kerasa sakit. Belum lagi gua sedang PMS, jadinya dari pada gua emosi terus khilaf, (nelan Sisil hidup-hidup)
"Astaghfirullah.. 😇😇 ibu peri kan gak boleh jahat" (sok imut.)
Akhirnya, gua sama Sisil pun sekarang berada di kantin.
***
Untung saja tadi pas kami tiba di kantin, ada dua siswa langsung pergi ninggalin kantin sekolah yang selalu ramai tiap harinya itu. Jadinya gua sama Sisil gak harus ribet buat nyari tempat duduk deh.
"Sil, lu tunggu di sini ya, gua mau mesan makanan dulu buat kita."
"Oke deh" jawab Sisi sambil ngacungin jempolnya.
Ketika gua bangkit dari kursi gua, tiba-tiba...
"Hay guys, kayaknya ada yang lagi bocor tuh, sampe merah-merah gitu" teriak Miska salah satu cewek narsir yang merasa idola dan selalu cari masalah di sekolah gua. Termasuk juga sama gua. Mungkin, dia mikirnya kalau gua ini saingannya kali ya.
Mendengar celotehan dari si Miska, gua yang sadar akan maksudnya itu pun panik dan duduk kembali ke kursi tempat gua tadi, ngediamin murid lain yang sibuk ngetawain gua.
"Aduh Sil, gimana nih? Gua gak sadar kalau rok gua tembus."
"Tenang dulu Mit, lu jangan panik dulu, kalau lu panik gitu, gua jadi gak bisa mikir nih." Jawab Sisil gugup.
Sedangkan gua merasa sangat malu, saking malunya gua hanya bisa nunduk nutupin muka gua dan gak sadar kalau pahmi sedang berdiri dibelakang gua.
"Kamu tutupin pake ini aja nih."
Pahmi yang dari tadi ternyata duduk tidak jauh dari tempat gua dan sisil, saat ini tengah nyodorin gua sebuah jaket biru.
"Kamu ikat aja jaket ini kepinggang kamu, buat nutupin rok kamu itu." Ulang pahmi begitu melihat gua cuman melotot dan wajah memerah menahan malu.
"Ya tuhan... habis mimpi apa sih gua semalam, sampai gua harus ngelewatin momen alakawar seperti ini. Bunuh saja gua tuhan" kutukku dalam hati.
Bersambung....
Langsung aja deh....
******************************************
Pahmi berasal dari Solo, dan dia satu kelas denganku.
Memang semenjak Pahmi bergabung di kelasku, dia selalu saja merebut start, menjawab kuis dari guru yang mengajar di kelas kami sebagai kelas XI-IPA 1(kelas unggulan).
Dan entah kenapa gua merasa itu adalah ancaman buatku.
"Mit, lu kenapa sih? Kok akhir2 ini gua perhatiin, kok lu itu sering banget ngelamun?" Kata Sisil yang tiba-tiba ngagetin gua, karena dari tadi tengah duduk sambil termenung di sampingnya.
"Gua gak kenapa2 kok Sil, cuman malas aja ngapa-ngapain." Jawabku sekenanya.
"Ooh, tapi...."
Omongan Sisil tiba-tiba di potong oleh seorang cowok, yang sedang duduk di belakang kursi kami.
"Hay Mit, kamu dah makan belum? Kalau belum, ke kantin bareng aku yuk." Ajak Pahmi.
"Sorry deh Pahmi, gua masih kenyang nih, kalau mau kekantin, lu duluan aja deh" jawab gua datar.
***
Entah kenapa, setiap gua ketemu sama Pahmi akhir2 ini, gua merasa gak suka sama perlakuan dia yang sok akrab dan sok ramah itu.
Baru juga sekitar tiga bulan ini dia resmi sebagai siswa baru di SMA gua, dia sudah terkenal sebagai cowok idola yang super cuek setelah kak Rama, yang merupakan salah satu kakak senior pembuat onar di SMA gua.
(Bagi gua, cowok idola itu semuanya playboy 😈😈😈.)
Apalagi gua merasa aneh aja sama tingkahnya, yang selalu saja berusaha kasih perhatian ke gua. Dia kan tahu, kalau gua itu paling anti sama yang namanya cowok, apalagi cowok yang suka modus seperti dia, menurut gua sih, mending kelaut aja.
***
"Mit, lu kenapa sih, cuek banget sama si Pahmi. Dia itu kan sudah ganteng, baik, pintar, jago main basket, ker......"
"Yayayaya.. whatever lu mau ngomong apa soal pangeran kodok lu si Pahmi itu." Jawabku memotong pembicaraan sisil yang semakin gak jalas itu.
"Lah, kok jadi pangeran gua sih.??" Bantah Sisil bingung.
"Ya iyalah pangeran lu. Memangnya gua gak tau apa, kalau lu itu naksir sama dia, sampe lu mau mutusin pacar-pacar lu buat dapatin dia kan?"
"Kok lu bisa tau."
"Ya taulah, apasih yang inggak gua tau dari lu Sisilia Wiryanda."
***
Dari pada gua terus berdebat sama Sisil soal cowok yang gak penting itu, mendingan gua langsung ajak Sisil ke kantin aja deh buat makan siang. Lagian dari tadi pagi gua juga kan sebenarnya belum sarapan. Dan terus terang, sekarang perut gua pun sudah mulai kerasa sakit. Belum lagi gua sedang PMS, jadinya dari pada gua emosi terus khilaf, (nelan Sisil hidup-hidup)
"Astaghfirullah.. 😇😇 ibu peri kan gak boleh jahat" (sok imut.)
Akhirnya, gua sama Sisil pun sekarang berada di kantin.
***
Untung saja tadi pas kami tiba di kantin, ada dua siswa langsung pergi ninggalin kantin sekolah yang selalu ramai tiap harinya itu. Jadinya gua sama Sisil gak harus ribet buat nyari tempat duduk deh.
"Sil, lu tunggu di sini ya, gua mau mesan makanan dulu buat kita."
"Oke deh" jawab Sisi sambil ngacungin jempolnya.
Ketika gua bangkit dari kursi gua, tiba-tiba...
"Hay guys, kayaknya ada yang lagi bocor tuh, sampe merah-merah gitu" teriak Miska salah satu cewek narsir yang merasa idola dan selalu cari masalah di sekolah gua. Termasuk juga sama gua. Mungkin, dia mikirnya kalau gua ini saingannya kali ya.
Mendengar celotehan dari si Miska, gua yang sadar akan maksudnya itu pun panik dan duduk kembali ke kursi tempat gua tadi, ngediamin murid lain yang sibuk ngetawain gua.
"Aduh Sil, gimana nih? Gua gak sadar kalau rok gua tembus."
"Tenang dulu Mit, lu jangan panik dulu, kalau lu panik gitu, gua jadi gak bisa mikir nih." Jawab Sisil gugup.
Sedangkan gua merasa sangat malu, saking malunya gua hanya bisa nunduk nutupin muka gua dan gak sadar kalau pahmi sedang berdiri dibelakang gua.
"Kamu tutupin pake ini aja nih."
Pahmi yang dari tadi ternyata duduk tidak jauh dari tempat gua dan sisil, saat ini tengah nyodorin gua sebuah jaket biru.
"Kamu ikat aja jaket ini kepinggang kamu, buat nutupin rok kamu itu." Ulang pahmi begitu melihat gua cuman melotot dan wajah memerah menahan malu.
"Ya tuhan... habis mimpi apa sih gua semalam, sampai gua harus ngelewatin momen alakawar seperti ini. Bunuh saja gua tuhan" kutukku dalam hati.
Bersambung....
Ku tunggu kau dipelaminan nanti 1
Hai...haii....
Ini cerbung lama gua yang gua revisi. Ini sih cerita fiksi dan gua harap ceritanya seru. Dan sorry kalau jelek, soalnya masih pemula. Hehahahaa
Langsung aja yah, dibaca.
Cekidottttt....
******************************************
Nama gua sasmita putri, tapi teman gua di sekolah sering manggil gua mita. Saat ini usia gua masih 15 tahun, namun gua sudah duduk di bangku kelas dua SMA.
orang bilang gua ini cantik karena keturunan cina campuran arab dari papahku.
Apalagi di dukung dengan fisik gua yang tinggi ramping, kulit putih, mata tidak terlalu sipit, bibir tipis berwarna merah mudah tanpa sentuhan lipstik seperti cewek yang gila dandan.
Ya, gua memang salah satu cewek yang tidak suka dandan. soalnya menurut gua, perempuan cantik itu tidak harus cukur alislah, sulam bibirlah, totok wajahlah, atau gampar temboklah.
"Eeeiitsss, kok malah gampar tembok segala sih."
Teeeett... Uups, lanjut.!
Intinya adalah cantik itu tidak harus terlihat dari luarnya saja kan, namun bisa juga dari dalam. Dan gua lebih memilih untuk cantik dengan cara yang kedua hehahahaha...
Di sekolah gua memiliki banyak teman. mulai dari teman satu kelas, jurusan, angkatan, ternyata gua juga cukup dekat dengan adik2 kelas gua lho...
"Ya iyalah.... secara gua ini kan termasuk siswa yang berprestasi, dan aktif juga di organisasi sekolah (OSIS). Jadinya tidak heran jugakan kalau gua itu termasuk siswi yang populer di sekolah..? 😃😃😃"
Namun, itu semua tidak membuat hidup gua berjalan mulus. Soalnya sampai sekarang, gua si anak manja yang selalu di bangga-banggain orang tua ini, masih aja menjomblo.
"Eeeuuuh, dasar manusia jomblo.! Kayak Ricis aja nih gua jadinya, ngakunya cantik dan manis namun kenyataannya jomlo tulen."
Tapi yaaa sudahlah, toh jomblo bukan akhir segalanya juga kan.
***
Dua bulan lagi adalah ulang tahun gua ke 16. Pertanyaan yang hampir sama pun selalu datang membisik di telinga gua.
"Jadi mirip pasien Halusinasi saja nih gue jadinya 😢😢😢."
Belum lagi tuh omongan sahabat gua yang sejak kecil bernama sisil. (Begitu gua memanggilnya). Mentang2 dia banyak mantan dan terkenal suka mainin hati para cowok bego dengan muka polosnya itu. (Sorry sil, lu jangan marah ya.. 😯😯😯!!!)
Dia itu selalu bilang gini ke gua :
"Mita kapan lu punya pacar, kapan lu kasih kue pertama lu buat pacar lu, kapan lu...!"
"Cukuuuup," ingin rasanya gua berteriak dan menyumpal mulutnya dengan kaos kaki busuk milik gua ini.
Untung aja gua masih sayang nyawa, jadinya lain kali aja deh.
Kalian gak tau sih, Sisil itu kayak apa, kalau tau pasti juga mikir 2x kayak gua sekarang ini buat ngerjain sahabat si pembuat onar yang satu itu.
***
Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. "Lahhhh, kenapa gua jadi mikirin waktu seperti ini? Apa gua saking prustasinya kali ya sama omongan Sisil?"
"Ckckckck" Ini gak boleh terjadi. Masa predikat jomblo sejati gua berhasil di kalahin sama RICIS???
"OH.. NOOOO..!"😈😈😈
Lagian siapa bilang masa pacaran itu cuman indah di waktu SMA. nanti kali kalau udah nikah, baru namanya pacaran itu indah. Halal dalam ngelakuin apapun hehahaha..
***
Tidak terasa, dua bulan sudah lewat gua jalanin, dan ketakutan gua mengenai omongan Sisil ternyata tidak sehoror ketika harus lewatin ujian kenaikan kelas di tahun ini.
Gimana gak takut, setelah tau kalau gua pemegang gelar juara umum sekolah tiap tahunnya, harus nerima kenyataan pahit sama rumor yang beredar di sekolah gua.
***
Tiga bulan yg lalu, di sekolah gua ada siswa pindahan dari luar kota bernama Pahmi. Dia orangnya ganteng, keren, tinggi putih, pokoknya kece deh.
Apalagi yg bikin gua suka dari dia itu karena dia tipe cowok super cuek, pertama yang gua kenal. Kecuali sama gua. "TITIK"
"Eheeem, bukannya gua bermaksud G-R ya, tapi emang kenyataannya gitu kok."✌
Jujur, gua sih senang banget dapat perhatian sama cowok ganteng kayak Pahmi yang baik, soleh, pintar dan suka olah raga.
Jika bukan karena prinsip gua sebagai "Jomblo sejati." Sejak ketemu dia, gua juga ikutan gila kali ya, kayak cewek-cewek rempong sekolahan yang ngejar2 si Pahmi.
***
Pahmi pindah ke ke kota ini dengan alasan papahnya yang seorang TNI baru saja di pindah tugaskan ke jakarta. Dan dia memilih SMA gue buat tempat dia belajar karena sekolah kami ini termasuk sekolah terbaik dan terpavorit di Jakarta.
Ini cerbung lama gua yang gua revisi. Ini sih cerita fiksi dan gua harap ceritanya seru. Dan sorry kalau jelek, soalnya masih pemula. Hehahahaa
Langsung aja yah, dibaca.
Cekidottttt....
******************************************
Nama gua sasmita putri, tapi teman gua di sekolah sering manggil gua mita. Saat ini usia gua masih 15 tahun, namun gua sudah duduk di bangku kelas dua SMA.
orang bilang gua ini cantik karena keturunan cina campuran arab dari papahku.
Apalagi di dukung dengan fisik gua yang tinggi ramping, kulit putih, mata tidak terlalu sipit, bibir tipis berwarna merah mudah tanpa sentuhan lipstik seperti cewek yang gila dandan.
Ya, gua memang salah satu cewek yang tidak suka dandan. soalnya menurut gua, perempuan cantik itu tidak harus cukur alislah, sulam bibirlah, totok wajahlah, atau gampar temboklah.
"Eeeiitsss, kok malah gampar tembok segala sih."
Teeeett... Uups, lanjut.!
Intinya adalah cantik itu tidak harus terlihat dari luarnya saja kan, namun bisa juga dari dalam. Dan gua lebih memilih untuk cantik dengan cara yang kedua hehahahaha...
Di sekolah gua memiliki banyak teman. mulai dari teman satu kelas, jurusan, angkatan, ternyata gua juga cukup dekat dengan adik2 kelas gua lho...
"Ya iyalah.... secara gua ini kan termasuk siswa yang berprestasi, dan aktif juga di organisasi sekolah (OSIS). Jadinya tidak heran jugakan kalau gua itu termasuk siswi yang populer di sekolah..? 😃😃😃"
Namun, itu semua tidak membuat hidup gua berjalan mulus. Soalnya sampai sekarang, gua si anak manja yang selalu di bangga-banggain orang tua ini, masih aja menjomblo.
"Eeeuuuh, dasar manusia jomblo.! Kayak Ricis aja nih gua jadinya, ngakunya cantik dan manis namun kenyataannya jomlo tulen."
Tapi yaaa sudahlah, toh jomblo bukan akhir segalanya juga kan.
***
Dua bulan lagi adalah ulang tahun gua ke 16. Pertanyaan yang hampir sama pun selalu datang membisik di telinga gua.
"Jadi mirip pasien Halusinasi saja nih gue jadinya 😢😢😢."
Belum lagi tuh omongan sahabat gua yang sejak kecil bernama sisil. (Begitu gua memanggilnya). Mentang2 dia banyak mantan dan terkenal suka mainin hati para cowok bego dengan muka polosnya itu. (Sorry sil, lu jangan marah ya.. 😯😯😯!!!)
Dia itu selalu bilang gini ke gua :
"Mita kapan lu punya pacar, kapan lu kasih kue pertama lu buat pacar lu, kapan lu...!"
"Cukuuuup," ingin rasanya gua berteriak dan menyumpal mulutnya dengan kaos kaki busuk milik gua ini.
Untung aja gua masih sayang nyawa, jadinya lain kali aja deh.
Kalian gak tau sih, Sisil itu kayak apa, kalau tau pasti juga mikir 2x kayak gua sekarang ini buat ngerjain sahabat si pembuat onar yang satu itu.
***
Setiap detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. "Lahhhh, kenapa gua jadi mikirin waktu seperti ini? Apa gua saking prustasinya kali ya sama omongan Sisil?"
"Ckckckck" Ini gak boleh terjadi. Masa predikat jomblo sejati gua berhasil di kalahin sama RICIS???
"OH.. NOOOO..!"😈😈😈
Lagian siapa bilang masa pacaran itu cuman indah di waktu SMA. nanti kali kalau udah nikah, baru namanya pacaran itu indah. Halal dalam ngelakuin apapun hehahaha..
***
Tidak terasa, dua bulan sudah lewat gua jalanin, dan ketakutan gua mengenai omongan Sisil ternyata tidak sehoror ketika harus lewatin ujian kenaikan kelas di tahun ini.
Gimana gak takut, setelah tau kalau gua pemegang gelar juara umum sekolah tiap tahunnya, harus nerima kenyataan pahit sama rumor yang beredar di sekolah gua.
***
Tiga bulan yg lalu, di sekolah gua ada siswa pindahan dari luar kota bernama Pahmi. Dia orangnya ganteng, keren, tinggi putih, pokoknya kece deh.
Apalagi yg bikin gua suka dari dia itu karena dia tipe cowok super cuek, pertama yang gua kenal. Kecuali sama gua. "TITIK"
"Eheeem, bukannya gua bermaksud G-R ya, tapi emang kenyataannya gitu kok."✌
Jujur, gua sih senang banget dapat perhatian sama cowok ganteng kayak Pahmi yang baik, soleh, pintar dan suka olah raga.
Jika bukan karena prinsip gua sebagai "Jomblo sejati." Sejak ketemu dia, gua juga ikutan gila kali ya, kayak cewek-cewek rempong sekolahan yang ngejar2 si Pahmi.
***
Pahmi pindah ke ke kota ini dengan alasan papahnya yang seorang TNI baru saja di pindah tugaskan ke jakarta. Dan dia memilih SMA gue buat tempat dia belajar karena sekolah kami ini termasuk sekolah terbaik dan terpavorit di Jakarta.
Sabtu, 26 Maret 2016
Nothing is impossible 4
*14.30 wib*
Prasetyo memarkirkan motor butut, keluaran tahun lama di depan teras rumahnya.
Sore ini, bapak tiga anak itu pulang lebih cepat dari hari biasa dia bekerja sebagai buruh pabrik penghasil pakaian terbesar itu. Tidak harus menunggu sang mentari berlalu menenggelamkan cahayanya di celah gumpalan awan tebal berwarna jingga di ufuk barat sana.
***
Wajahnya yang tampan penuh kasih sayangpun selalu menebarkan sebuah senyum kedamaian. Apalagi Sosoknya yang kebapaan, seakan mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk ketiga anaknya itu.
"Hoyeeee bapak udah pulang kelja." Sambut alex girang setelah melihat prasetyo sedang berdiri di ambang pintu dengan cara bicaranya yang cadel seperti anak 4 tahun pada umumnya.
"Hehaha, kamu nih ya, semangat amat kalau udah nungguin bapak. Pasti bapak tahu nih, kalau sudah begini kamu ada yang mau diincar kan?" Komen prasetyo tertawa sambil mengangkat alex ke gendongannya.
"Iya tuh pak, dari tadi alex ngeluh terus gak sabaran buat nunggu donat kesukaannya itu tuh" timpal Raffa memanyunkan bibir merahnya dengan maksud menggoda alex yang tengah malu karena ketahuan oleh papahnya.
Alex menang sangat suka makan donat rasa stoberry. Setiap pulang dari tempat Prasetiyo bekerja, ia selalu membeli donat pesanan anaknya itu. Alih-alih sebagai oleh2 agar Alex yang merengek minta ikut ketempat kerjanya bisa ditinggal di rumah.
Melihat tingkah Alex yang lugu dan masih polos (yaiyalah, namanya juga anak kecil 😀😀) sontrak membuat Luna, Raffa dan Prasetyo yang melihatnya tiba2 ketawa bersama.
Hening sejenak...
"Yaudah gih, bapak mandi dulu, soalnya badan bapak udah bau asem tuh" kali ini Luna yang angkat bicara untuk meminta sang papah segera mandi, karena dia sendiri akan menyiapkan makanan buat bapaknya itu.
"Sip deh neng bapak yang paling cantik." jawab prasetyo sambil mencubit pipih tembam Luna dengan gemas, setelah itu berlalu menuju kamar untuk mengambil handuknya.
Sementara Raffa sedang asyik mengganggu Alex yang sedang lahapnya memakan donat di tangannya. Mulutnya yang kecil belepotan + pipi menggembung karena mengunyah donat menambah kesan lucu dan polos.
"Oh iya lun, gimana persiapan kamu buat UN nanti. Terus kamu dah mantapin niat kamu belum buat lanjut sekolah kemana?" Kata Prasetyo setelah keluar dari dalam kamar mandi.
Sebagai orang tua, yang tahu sebentar lagi Luna akan lulus SMP, lagi2 mengingatkan putri nya itu untuk memilih sekolah yang tepat sesuai dengan pilihan sang anak.
"Belum tahu nih pak, soalnya Luna bingung antara pengen masuk SMA apa SMK, soalnya Luna dapat beasiswa dari keduanya."
"Lah, kenapa harus bingung? Memangnya dari dulu itu, kamu pengen sekolah dimana?"
"Pengennya sih SMA, tapi kalau Luna pikir, apa luna SMK aja biar nanti pas lulus langaung kerja aja." Jelas Luna sedikit ragu.
"Kok kamu malah mikirin kerja? Memangnya habis lulus SMA, kamu gak mau kuliah apa? Kamu bukannya punya cita2 setidaknya jadi sarjana toh?" Timpal prasetyo mengingatkan.
"ya jelas adalah pak, cuman Luna gak mau aja kalau harus repotin bapak. Luna pengen nanti kuliah pas Luna sudah kerja, biar Luna bisa biayain kuliah luna, dan gak ngerepotin bapak."
"Lun.., lun.! Kamu ini mikirin apa sih? Memangnya bapakmu ini gak bisa kerja buat menuhin biaya sekolah kamu apa? Yo wes, hidup kita memang susah dan kita tinggal di kontrakan yang sempit seperti ini. Tapi ingat, bapak itu gak akan tinggal diam buat nyekolahin kalian kalau boleh Sampai gelar sarjana.
Bapak gak mau jika pendidikan kalian sampai ada yang di bawah bapak. Lagian kamu ini kan pintar, kalau memang kamu ada niat buat gak repotin bapak, kamu tinggal belajar yang rajin buat perjuangin beasiswa kamu sampai ke perguruan tinggi negeri. Selebihnya biar bapak yang urus." Jawab Prasetyo sedikit emosi.
Sebagai lulusan sarjana dari PTN ternama, jelas saja Prasetyo tidak ingin melihat ketiga anaknya hanya sampai lulus SMA.
Bersambung.....
Sorry ya guys, kalau jelek.😢 dan jangan lupa komentarnya ya..☺😊
Prasetyo memarkirkan motor butut, keluaran tahun lama di depan teras rumahnya.
Sore ini, bapak tiga anak itu pulang lebih cepat dari hari biasa dia bekerja sebagai buruh pabrik penghasil pakaian terbesar itu. Tidak harus menunggu sang mentari berlalu menenggelamkan cahayanya di celah gumpalan awan tebal berwarna jingga di ufuk barat sana.
***
Wajahnya yang tampan penuh kasih sayangpun selalu menebarkan sebuah senyum kedamaian. Apalagi Sosoknya yang kebapaan, seakan mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk ketiga anaknya itu.
"Hoyeeee bapak udah pulang kelja." Sambut alex girang setelah melihat prasetyo sedang berdiri di ambang pintu dengan cara bicaranya yang cadel seperti anak 4 tahun pada umumnya.
"Hehaha, kamu nih ya, semangat amat kalau udah nungguin bapak. Pasti bapak tahu nih, kalau sudah begini kamu ada yang mau diincar kan?" Komen prasetyo tertawa sambil mengangkat alex ke gendongannya.
"Iya tuh pak, dari tadi alex ngeluh terus gak sabaran buat nunggu donat kesukaannya itu tuh" timpal Raffa memanyunkan bibir merahnya dengan maksud menggoda alex yang tengah malu karena ketahuan oleh papahnya.
Alex menang sangat suka makan donat rasa stoberry. Setiap pulang dari tempat Prasetiyo bekerja, ia selalu membeli donat pesanan anaknya itu. Alih-alih sebagai oleh2 agar Alex yang merengek minta ikut ketempat kerjanya bisa ditinggal di rumah.
Melihat tingkah Alex yang lugu dan masih polos (yaiyalah, namanya juga anak kecil 😀😀) sontrak membuat Luna, Raffa dan Prasetyo yang melihatnya tiba2 ketawa bersama.
Hening sejenak...
"Yaudah gih, bapak mandi dulu, soalnya badan bapak udah bau asem tuh" kali ini Luna yang angkat bicara untuk meminta sang papah segera mandi, karena dia sendiri akan menyiapkan makanan buat bapaknya itu.
"Sip deh neng bapak yang paling cantik." jawab prasetyo sambil mencubit pipih tembam Luna dengan gemas, setelah itu berlalu menuju kamar untuk mengambil handuknya.
Sementara Raffa sedang asyik mengganggu Alex yang sedang lahapnya memakan donat di tangannya. Mulutnya yang kecil belepotan + pipi menggembung karena mengunyah donat menambah kesan lucu dan polos.
"Oh iya lun, gimana persiapan kamu buat UN nanti. Terus kamu dah mantapin niat kamu belum buat lanjut sekolah kemana?" Kata Prasetyo setelah keluar dari dalam kamar mandi.
Sebagai orang tua, yang tahu sebentar lagi Luna akan lulus SMP, lagi2 mengingatkan putri nya itu untuk memilih sekolah yang tepat sesuai dengan pilihan sang anak.
"Belum tahu nih pak, soalnya Luna bingung antara pengen masuk SMA apa SMK, soalnya Luna dapat beasiswa dari keduanya."
"Lah, kenapa harus bingung? Memangnya dari dulu itu, kamu pengen sekolah dimana?"
"Pengennya sih SMA, tapi kalau Luna pikir, apa luna SMK aja biar nanti pas lulus langaung kerja aja." Jelas Luna sedikit ragu.
"Kok kamu malah mikirin kerja? Memangnya habis lulus SMA, kamu gak mau kuliah apa? Kamu bukannya punya cita2 setidaknya jadi sarjana toh?" Timpal prasetyo mengingatkan.
"ya jelas adalah pak, cuman Luna gak mau aja kalau harus repotin bapak. Luna pengen nanti kuliah pas Luna sudah kerja, biar Luna bisa biayain kuliah luna, dan gak ngerepotin bapak."
"Lun.., lun.! Kamu ini mikirin apa sih? Memangnya bapakmu ini gak bisa kerja buat menuhin biaya sekolah kamu apa? Yo wes, hidup kita memang susah dan kita tinggal di kontrakan yang sempit seperti ini. Tapi ingat, bapak itu gak akan tinggal diam buat nyekolahin kalian kalau boleh Sampai gelar sarjana.
Bapak gak mau jika pendidikan kalian sampai ada yang di bawah bapak. Lagian kamu ini kan pintar, kalau memang kamu ada niat buat gak repotin bapak, kamu tinggal belajar yang rajin buat perjuangin beasiswa kamu sampai ke perguruan tinggi negeri. Selebihnya biar bapak yang urus." Jawab Prasetyo sedikit emosi.
Sebagai lulusan sarjana dari PTN ternama, jelas saja Prasetyo tidak ingin melihat ketiga anaknya hanya sampai lulus SMA.
Bersambung.....
Sorry ya guys, kalau jelek.😢 dan jangan lupa komentarnya ya..☺😊
Rabu, 23 Maret 2016
Nothing is impossible 3
Setelah pulang belanja dari warung "koko" pemilik warung sembago, yang ada di pinggir jalan raya sana. Luna saat ini sedang sibuk memotong tempe dan tahu untuk ia goreng sebagai lauk mereka hari ini.
Oh iya.. FYI, aja nih...
Alex adeknya luna saat ini sedang di asuh oleh bu leli. Tadi pas luna mau belanja, bu leli menahan alex untuk ia jaga di rumahnya, menunggu luna selesai melakukan pekerjaan rumah yang saat ini di lakoninya.
Apalagi kata bu leli, ia lagi gak ke butik. Alias lagi santai jalani hari libur, jadinya bu leli yang merasa gak tega dengan luna, ber 'inisiatif' buat meringankan beban luna pagi ini.
"Aduh, sudah jam 09.00 lagi, kok raffa belum pulang juga sih." Gumam luna sambil melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Ruangan kecil berfasilitas sofa yang sudah kusam.
"Assalmualaikum.."
Tiba-tiba teriakan seseorang terdengar di luaran sana. Luna yang mendengar suara yang tidak asing itu, langsung menjawab salam, sambil lanjut menggoreng tempe dan tahu yang tadi ia potong-potong itu.
"Kok kamu baru pulang sih dek?" Tanya luna kepada raffa yang sedang menghampirinya di dapur.
"Iya nih kak, tadi jualanannya laris manis, jadinya aku nambah pesanan lagi buat aku jual" jawab raffa bersemangat.
"Yaudah, kamu mandi gih, biar habis mandi kamu jemput alex di rumahnya bu leli. Gak enak, repotin beliau karena dari tadi harus jagain alex."
"Ya ela.., santai aja kali kak, lagian bu leli juga kan yang mau dengan senang hati buat jagain dek alex. Yaa.., hitung-hitung buat mengambil hati pa.."
"Raffaaa... gak boleh ngomong gitu. Gimana pun, kita gak bisa manfaatin orang lain seperti itu. Apalagi selama ini, bu leli udah banyak banget ngebantu keluarga kita. Kalau sampai papah dengar, kamu bisa di marahin papah, tau gk kamu." Jelas luna tegas, usai memotong pembicaraan raffa barusan.
"Oke deh, kakakku yang bawel." Balas Raffa santai sambil ngeluarain lidahnya.
"Dasar adik nakal, dikasih tahu malah meletin lidah gitu" protes luna gemas.
Sementara raffa hanya balas nyengir sambil berlari ke kamar mandi.
"Oh iya kak, hari ini aku dapat lumayan nih buat nambahin uang tabungan sama jajan kita besok." Teriak raffa dari kamar mandi.
"Simpan saja itu, buat kamu. Kakak masih punya simpanan dari hasil bayaran les privat dari teman2 kakak." Jawab luna datar.
***
Yah, begitulah keseharian luna dan Raffa, ketika libur, dan pulang sekolah. Raffa selalu bekerja sebagai penjual layangan di lapangan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sementara Luna bekerja sampingan sebagai pengajar les privat matematika dan fisika untuk teman-reman atau bahkan adek kelas di sekolahnya. Luna seorang anak yang paling cerdas di sekolah. Karena kecerdasannya, luna sampai sering kali menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade di tingkat provinsi maupun nasional. Dan alhamdulillah, sampai terakhir ia mengikuti olimpiade sekitar dua bulan yang lalu, ia pun selalu mendapat juara pertama.
Begitu pun dengan Raffa, walaupun usianya masih 9 tahun, Raffa sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Dan ia selalu mendapat juara satu di sekolahnya. Bahkan disatu angkatannya yang terdiri dari empat kelas, setiap angkatan. Raffa berhasil memperoleh nilai tertinggi. Atau kata lain, Raffa menjadi juara satu umum di sekolahnya.
Bersambung....
***
FYI : For you information
Sorry ya guys kalau kurang bagus, maklum nasih pemula. Hehahaaaa..! Gua tunggu komennannya ya.. 😄😄😄😄
Oh iya.. FYI, aja nih...
Alex adeknya luna saat ini sedang di asuh oleh bu leli. Tadi pas luna mau belanja, bu leli menahan alex untuk ia jaga di rumahnya, menunggu luna selesai melakukan pekerjaan rumah yang saat ini di lakoninya.
Apalagi kata bu leli, ia lagi gak ke butik. Alias lagi santai jalani hari libur, jadinya bu leli yang merasa gak tega dengan luna, ber 'inisiatif' buat meringankan beban luna pagi ini.
"Aduh, sudah jam 09.00 lagi, kok raffa belum pulang juga sih." Gumam luna sambil melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Ruangan kecil berfasilitas sofa yang sudah kusam.
"Assalmualaikum.."
Tiba-tiba teriakan seseorang terdengar di luaran sana. Luna yang mendengar suara yang tidak asing itu, langsung menjawab salam, sambil lanjut menggoreng tempe dan tahu yang tadi ia potong-potong itu.
"Kok kamu baru pulang sih dek?" Tanya luna kepada raffa yang sedang menghampirinya di dapur.
"Iya nih kak, tadi jualanannya laris manis, jadinya aku nambah pesanan lagi buat aku jual" jawab raffa bersemangat.
"Yaudah, kamu mandi gih, biar habis mandi kamu jemput alex di rumahnya bu leli. Gak enak, repotin beliau karena dari tadi harus jagain alex."
"Ya ela.., santai aja kali kak, lagian bu leli juga kan yang mau dengan senang hati buat jagain dek alex. Yaa.., hitung-hitung buat mengambil hati pa.."
"Raffaaa... gak boleh ngomong gitu. Gimana pun, kita gak bisa manfaatin orang lain seperti itu. Apalagi selama ini, bu leli udah banyak banget ngebantu keluarga kita. Kalau sampai papah dengar, kamu bisa di marahin papah, tau gk kamu." Jelas luna tegas, usai memotong pembicaraan raffa barusan.
"Oke deh, kakakku yang bawel." Balas Raffa santai sambil ngeluarain lidahnya.
"Dasar adik nakal, dikasih tahu malah meletin lidah gitu" protes luna gemas.
Sementara raffa hanya balas nyengir sambil berlari ke kamar mandi.
"Oh iya kak, hari ini aku dapat lumayan nih buat nambahin uang tabungan sama jajan kita besok." Teriak raffa dari kamar mandi.
"Simpan saja itu, buat kamu. Kakak masih punya simpanan dari hasil bayaran les privat dari teman2 kakak." Jawab luna datar.
***
Yah, begitulah keseharian luna dan Raffa, ketika libur, dan pulang sekolah. Raffa selalu bekerja sebagai penjual layangan di lapangan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sementara Luna bekerja sampingan sebagai pengajar les privat matematika dan fisika untuk teman-reman atau bahkan adek kelas di sekolahnya. Luna seorang anak yang paling cerdas di sekolah. Karena kecerdasannya, luna sampai sering kali menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade di tingkat provinsi maupun nasional. Dan alhamdulillah, sampai terakhir ia mengikuti olimpiade sekitar dua bulan yang lalu, ia pun selalu mendapat juara pertama.
Begitu pun dengan Raffa, walaupun usianya masih 9 tahun, Raffa sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Dan ia selalu mendapat juara satu di sekolahnya. Bahkan disatu angkatannya yang terdiri dari empat kelas, setiap angkatan. Raffa berhasil memperoleh nilai tertinggi. Atau kata lain, Raffa menjadi juara satu umum di sekolahnya.
Bersambung....
***
FYI : For you information
Sorry ya guys kalau kurang bagus, maklum nasih pemula. Hehahaaaa..! Gua tunggu komennannya ya.. 😄😄😄😄
Nothing is impossible 2
Guyss... sorry kalau jelek.. lanjut lagi nih ya...
***
"Mah, aku kangen sama mamah.."😢😢😢
ucap luna lirih, disaat ia terkadang merasa cape dan tidak kuat untuk menjalani hari-harinya sebagai pengganti ibu untuk kedua adiknya.
***
Luna bukan perempuan yang lemah. Dia bukan cewek yang cengeng seperti gadis remaja yang manja pada umumnya.
Setiap hari luna belajar banyak untuk selalu kuat dalam menjalani hidup yang mandiri, dan tanpa membebani orang lain.
"Tidak...! Aku gak boleh terus mengeluh karena gak ada mamah di sampingku ku." Batin luna.
***
Sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya, ia pun berjalan keluar rumah kontrakan yang sudah sekitar dua tahun ini mereka tempati, dan menggendong raffa yang sudah berhenti menangis dari tadi.
"Luna, kamu mau pergi kemana pagi-pagi begini?" Panggil seorang ibu berpenampilan modis, tengah duduk bersantai di sebuah sofa, yang ada di depan teras rumahnya.
"Mau ke warung koko, dulu nih bu. Mau beli beras sama bahan2 dapur buat masak di rumah." Jawab luna berusaha sopan. Sementara Ibu modis dan cantik yang biasa luna panggil "bu leli" itu pun hanya meng "o" sambil memberikan senyuman ramah padanya.
Begitu pun dengan luna, yang terkenal sebagai remaja cantik, pintar, sopan dan mandiri, hanya membalas senyuman "bu leli" dengan senyuman tulus yang ia miliki.
***
Bu leli adalah seorang janda cantik yang kebetulan juragan kontrakan yang salah satu mereka tempati. Ibu leli terkenal sangat baik dan juga ramah. Usia ibu leli juga masih tergolong muda yaitu sama seperti papahnya sekitar 34 tahun.
Bu leli menjada setelah ia bercerai dari suaminya sekitar tiga tahun yang lalu, karena suami yang di cintainya itu telah selingkuh di belakangnya.
Meburut cerita bu leli, suaminya itu tidak pernah tulus kepadanya. Bahkan selain tukang selingkuh, suami bu leli juga tukang minum, pemabuk, dan juga suka main judi.
Sebagai wanita yang terlahir dari keluarga berada dan berpendidikan. Bu leli yang juga pemilik usaha butik itu, tadinya tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan suaminya itu.
Bahkan alm. Papah bu leli, membantah habis-habisan pernikahan sirih yang mereka jalani dulu.
"CINTA BISA MERUSAK SEGALANYA"
begitulah yang di rasakan oleh bu leli saat itu. Makanya sampai sekarangpun, bu leli belum ada niat untuk menikah lagi.
Alasannya sih, "masih trauma sama pernikahannya dulu."
***
Bersambung....
******************************************
Hay.... hay.. gimana ceritanya. Seru gak??? Tolong komentarnya ya guys... gua tunggu lho.😄😄😄
***
"Mah, aku kangen sama mamah.."😢😢😢
ucap luna lirih, disaat ia terkadang merasa cape dan tidak kuat untuk menjalani hari-harinya sebagai pengganti ibu untuk kedua adiknya.
***
Luna bukan perempuan yang lemah. Dia bukan cewek yang cengeng seperti gadis remaja yang manja pada umumnya.
Setiap hari luna belajar banyak untuk selalu kuat dalam menjalani hidup yang mandiri, dan tanpa membebani orang lain.
"Tidak...! Aku gak boleh terus mengeluh karena gak ada mamah di sampingku ku." Batin luna.
***
Sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya, ia pun berjalan keluar rumah kontrakan yang sudah sekitar dua tahun ini mereka tempati, dan menggendong raffa yang sudah berhenti menangis dari tadi.
"Luna, kamu mau pergi kemana pagi-pagi begini?" Panggil seorang ibu berpenampilan modis, tengah duduk bersantai di sebuah sofa, yang ada di depan teras rumahnya.
"Mau ke warung koko, dulu nih bu. Mau beli beras sama bahan2 dapur buat masak di rumah." Jawab luna berusaha sopan. Sementara Ibu modis dan cantik yang biasa luna panggil "bu leli" itu pun hanya meng "o" sambil memberikan senyuman ramah padanya.
Begitu pun dengan luna, yang terkenal sebagai remaja cantik, pintar, sopan dan mandiri, hanya membalas senyuman "bu leli" dengan senyuman tulus yang ia miliki.
***
Bu leli adalah seorang janda cantik yang kebetulan juragan kontrakan yang salah satu mereka tempati. Ibu leli terkenal sangat baik dan juga ramah. Usia ibu leli juga masih tergolong muda yaitu sama seperti papahnya sekitar 34 tahun.
Bu leli menjada setelah ia bercerai dari suaminya sekitar tiga tahun yang lalu, karena suami yang di cintainya itu telah selingkuh di belakangnya.
Meburut cerita bu leli, suaminya itu tidak pernah tulus kepadanya. Bahkan selain tukang selingkuh, suami bu leli juga tukang minum, pemabuk, dan juga suka main judi.
Sebagai wanita yang terlahir dari keluarga berada dan berpendidikan. Bu leli yang juga pemilik usaha butik itu, tadinya tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan suaminya itu.
Bahkan alm. Papah bu leli, membantah habis-habisan pernikahan sirih yang mereka jalani dulu.
"CINTA BISA MERUSAK SEGALANYA"
begitulah yang di rasakan oleh bu leli saat itu. Makanya sampai sekarangpun, bu leli belum ada niat untuk menikah lagi.
Alasannya sih, "masih trauma sama pernikahannya dulu."
***
Bersambung....
******************************************
Hay.... hay.. gimana ceritanya. Seru gak??? Tolong komentarnya ya guys... gua tunggu lho.😄😄😄
Selasa, 22 Maret 2016
Nothing is impossible chapter 1
Hari ini cuaca langit nan biru terlihat cerah dengan awan tipis mengumpal di atas sana. Tidak seperti hatiku yang selalu mendung dan terhujani oleh tetesan air mata yang terus mengalir tanpa sebab.
Mungkin karena keberuntunganku kurang berpihak, atau malah aku yang kurang memihak sama keberuntunganku sendiri? Tidak taulah, tapi yang jelas aku merasa terkadang takdir hidup yang aku jalani terasa kurang adil untuk aku alami.
Perkenalkan namaku luna sasmita, atau teman-temanku biasa manggil aku luna. Usiaku sekarang baru genap 15 tahun setelah dua hari yang lalu, seharusnya aku habis merayakan kue ulang tahunku yang ke 15 di sebuah gedung mewah berbintang lima, mbak pesta para ratu istana. Tapi sayang itu hanyalah sebuah mimpi belaka, karena kehidupanku sekarang tidak lah jauh dari kata kurang cukup. Tidak seperti kehidupan ratu istana yang sering mamah dongengin ketika aku masih kecil dulu, yang mungkin bahkan sepertinya tidak akan pernah aku alami dalam hidupku.
Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adikku yang besar bernama Raffa, dan yang paling kecil bernama alex. Raffa masih kelas 5 SD, sedangkan Alex baru jalan 4 tahun.
"Lun, papah berangkat kerja dulu ya??" Ucap papahku sambil menyalakan motor bututnya.
Papahku bernama Prasetio wijaya, dan ia bekerja sebagai buruh pabrik berpenghasilan kecil yang membuat aku dan kedua adikku harus berusaha puas dengan apa yang kami miliki. Tapi, walaupun papah hanya buruh pabrik biasa, namun kami sangat bangga punya papah yang bekerja keras seperti papahku.
"Iya pah, hati2 ya." Jawabku sambil nenangin alex yang sedang rewel minta ikut ketempat kerja papah.
Hari ini hari minggu, tapi papahku tidak pernah merasakan yang namanya libur. Setiap hari papah harus banting tulang mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan kami. Aku selalu merasa kasihan melihat papah. Padahal dulu sebelum mamah meninggal, keadaan ekonomi keluarga kami tidak separah sekarang, bahkan bisa dibilang mewah.
***
Tapi takdir berkata lain setelah mamah menderita kanker paru dan butuh biaya banyak untuk berobat keluar negeri.
Bahkan yang lebih parahnya lagi ketika papah di tipu habis oleh kariawan kepercayaannya, karena telah mengambil alih semua aset perusahaan kami.
Waktu itu papah yang lagi fokus dengan penyakit mamah, begitu gampang dimanfaatkan oleh om prans yang sudah lama tergiur dengan kekayaan juga ke suksesan yang dimiliki papah.
Hidup memang keras, sehingga aku dan raffa harus kuat hidup tanpa perhatian dan kasih sayang mamah lagi.
Semenjak sudah tiga tahun kepergian mamah, meninggalkan kami, setelah beliau akirnya menyerah dari penyakit kanker paru stadium akhir yang dideritanya. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami.
Lima tahun yang lalu, aku masih bisa merasakan tertawa bersama mamah. Ketika sedang duduk dan bercanda bersama di taman belakang rumah dekat kolam renang sambil mendengarkan dongengan upik abu berubah jadi seorang putri cantik "cinderella."
"Mah, aku kangen sama mamah.."😢😢😢
***
Bersambung....
Mungkin karena keberuntunganku kurang berpihak, atau malah aku yang kurang memihak sama keberuntunganku sendiri? Tidak taulah, tapi yang jelas aku merasa terkadang takdir hidup yang aku jalani terasa kurang adil untuk aku alami.
Perkenalkan namaku luna sasmita, atau teman-temanku biasa manggil aku luna. Usiaku sekarang baru genap 15 tahun setelah dua hari yang lalu, seharusnya aku habis merayakan kue ulang tahunku yang ke 15 di sebuah gedung mewah berbintang lima, mbak pesta para ratu istana. Tapi sayang itu hanyalah sebuah mimpi belaka, karena kehidupanku sekarang tidak lah jauh dari kata kurang cukup. Tidak seperti kehidupan ratu istana yang sering mamah dongengin ketika aku masih kecil dulu, yang mungkin bahkan sepertinya tidak akan pernah aku alami dalam hidupku.
Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adikku yang besar bernama Raffa, dan yang paling kecil bernama alex. Raffa masih kelas 5 SD, sedangkan Alex baru jalan 4 tahun.
"Lun, papah berangkat kerja dulu ya??" Ucap papahku sambil menyalakan motor bututnya.
Papahku bernama Prasetio wijaya, dan ia bekerja sebagai buruh pabrik berpenghasilan kecil yang membuat aku dan kedua adikku harus berusaha puas dengan apa yang kami miliki. Tapi, walaupun papah hanya buruh pabrik biasa, namun kami sangat bangga punya papah yang bekerja keras seperti papahku.
"Iya pah, hati2 ya." Jawabku sambil nenangin alex yang sedang rewel minta ikut ketempat kerja papah.
Hari ini hari minggu, tapi papahku tidak pernah merasakan yang namanya libur. Setiap hari papah harus banting tulang mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan kami. Aku selalu merasa kasihan melihat papah. Padahal dulu sebelum mamah meninggal, keadaan ekonomi keluarga kami tidak separah sekarang, bahkan bisa dibilang mewah.
***
Tapi takdir berkata lain setelah mamah menderita kanker paru dan butuh biaya banyak untuk berobat keluar negeri.
Bahkan yang lebih parahnya lagi ketika papah di tipu habis oleh kariawan kepercayaannya, karena telah mengambil alih semua aset perusahaan kami.
Waktu itu papah yang lagi fokus dengan penyakit mamah, begitu gampang dimanfaatkan oleh om prans yang sudah lama tergiur dengan kekayaan juga ke suksesan yang dimiliki papah.
Hidup memang keras, sehingga aku dan raffa harus kuat hidup tanpa perhatian dan kasih sayang mamah lagi.
Semenjak sudah tiga tahun kepergian mamah, meninggalkan kami, setelah beliau akirnya menyerah dari penyakit kanker paru stadium akhir yang dideritanya. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami.
Lima tahun yang lalu, aku masih bisa merasakan tertawa bersama mamah. Ketika sedang duduk dan bercanda bersama di taman belakang rumah dekat kolam renang sambil mendengarkan dongengan upik abu berubah jadi seorang putri cantik "cinderella."
"Mah, aku kangen sama mamah.."😢😢😢
***
Bersambung....
Langganan:
Komentar (Atom)