Selasa, 22 Maret 2016

Nothing is impossible chapter 1

Hari ini cuaca langit nan biru terlihat cerah dengan awan tipis mengumpal di atas sana. Tidak seperti hatiku yang selalu mendung dan terhujani oleh tetesan air mata yang terus mengalir tanpa sebab.

Mungkin karena keberuntunganku kurang berpihak, atau malah aku yang kurang memihak sama keberuntunganku sendiri? Tidak taulah, tapi yang jelas aku merasa terkadang takdir hidup yang aku jalani terasa kurang adil untuk aku alami.

Perkenalkan namaku luna sasmita, atau teman-temanku biasa manggil aku luna. Usiaku sekarang baru genap 15 tahun setelah dua hari yang lalu, seharusnya aku habis merayakan kue ulang tahunku yang ke 15 di sebuah gedung mewah berbintang lima, mbak pesta para ratu istana. Tapi sayang itu hanyalah sebuah mimpi belaka, karena kehidupanku sekarang tidak lah jauh dari kata kurang cukup. Tidak seperti kehidupan ratu istana yang sering mamah dongengin ketika aku masih kecil dulu, yang mungkin bahkan sepertinya tidak akan pernah aku alami dalam hidupku.

Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adikku yang besar bernama Raffa, dan yang paling kecil bernama alex. Raffa masih kelas 5 SD, sedangkan Alex baru jalan 4 tahun.

"Lun, papah berangkat kerja dulu ya??" Ucap papahku sambil menyalakan motor bututnya.

Papahku bernama Prasetio wijaya, dan ia bekerja sebagai buruh pabrik berpenghasilan kecil yang membuat aku dan kedua adikku harus berusaha puas dengan apa yang kami miliki. Tapi, walaupun papah hanya buruh pabrik biasa, namun kami sangat bangga punya papah yang bekerja keras seperti papahku.

"Iya pah, hati2 ya." Jawabku sambil nenangin alex yang sedang rewel minta ikut ketempat kerja papah.

Hari ini hari minggu, tapi papahku tidak pernah merasakan yang namanya libur. Setiap hari papah harus banting tulang mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan kami. Aku selalu merasa kasihan melihat papah. Padahal dulu sebelum mamah meninggal, keadaan ekonomi keluarga kami tidak separah sekarang, bahkan bisa dibilang mewah.

***

Tapi takdir berkata lain setelah mamah menderita kanker paru dan butuh biaya banyak untuk berobat keluar negeri.
Bahkan yang lebih parahnya lagi ketika papah di tipu habis oleh kariawan kepercayaannya, karena telah mengambil alih semua aset perusahaan kami.

Waktu itu papah yang lagi fokus dengan penyakit mamah, begitu gampang dimanfaatkan oleh om prans yang sudah lama tergiur dengan kekayaan juga ke suksesan yang dimiliki papah.

Hidup memang keras, sehingga aku dan raffa harus kuat hidup tanpa perhatian dan kasih sayang mamah lagi.

Semenjak sudah tiga tahun kepergian mamah, meninggalkan kami, setelah beliau akirnya menyerah dari penyakit kanker paru stadium akhir yang dideritanya. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami.

Lima tahun yang lalu, aku masih bisa merasakan tertawa bersama mamah. Ketika sedang duduk dan bercanda bersama di taman belakang rumah dekat kolam renang sambil mendengarkan dongengan upik abu berubah jadi seorang putri cantik "cinderella."

"Mah, aku kangen sama mamah.."😢😢😢
***

Bersambung....

1 komentar: