Selasa, 10 Mei 2016

Kutunggu kau di pelaminan nanti 8

Ahhhh.... lanjutttt...
Semangat kakaaaaaakkk hehahaa

*****************************************
@Mita prov**

Senin pagi sewaktu bell sekolah belum berbunyi, gua datang pagi2 seperti janjiku sabtu itu.
"Selamat pagi pak Wawan?" Sapaku menghampiri pak wawan yang sedang berjaga di postnya.
"Nah, gitu dong non, setiap hari selalu datang pagi."
"Iya pak, kali ini aku bakalan datang pagi terus, sekalian buktiin kalau aku juga anak yang disiplin" Kata gua sambil tersenyum.
Pak Wawan hanya bisa tertawa dan mangguk2 senang dengan perubahan sikapku.
"Yaudah pak, kalau gitu aku pamit dulu ya.!" paparku sambil meninggalkan pak Wawan yang lagi bertugas itu, menuju ruangan ujian sedikit berlari ala dora ketika sedang mencari harta karun.

(Berhasil, berhasil, iyeee.!)😁😁😁

***

Sebelum tiba di kelas, gua melewati mading sekolah. Disana anak2 sedang berkumpul dan heboh dengan gosib yang beredar pagi ini.

"Sungguh malangnya nasib siswa yang menimpa gosib sekolah yang tidak mengenakkan itu."

Tapi entah kenapa perasaan gua tiba2 berubah tidak enak. Belum lagi mereka yang serempak melirik ke arah gua prihatin.

Kok ngeliatin gua seperti itu sih? Gua sih tau, kalau gua itu cantik. Tapi biasa aja kali. (Persi narsis anak ABG.)

Tanpa mempedulikan mereka, gua pun terus berjalan melewati mading.

"Mit, lu belum liat mading kan hari ini?" Kata Sisil sambil menarik tangan gua menjauh dari kerumunan anak2 disana.
"Memangnya ada berita apaan sih, kok sepertinya lu khawatir banget kalau gua kesana." Protes gua sedikit curiga dengan perlakuan sisil yang beda.
"Inggak kenapa2 sih. Oh iya, gua baru ingat kalau gua belum belajar nih semalam. Gua mau lu ajarin gua dong rumus fisika yang di ajarin ibu leli minggu lalu." Lanjut sisil seolah ngalihin pembicaraan kami. 
"Lah tumben-tumbenan sisil mau minta diajarin sama gua, biasanya kalau masalah fisika kan, dia juga jago. Apalagi dia itu yang merupakan siswa terpintar ketiga di angkatanku, alias juara tiga umum. Gak mungkin banget" fikirku sedikit curiga. Tapi walaupun begitu, gua memilih untuk menurut saja dengannya. Soalnya gak lucu kan, pagi-pagi gini gua sama sisil sudah berantam.

***

Akhirnya kami pun menuju ruangan ujian kami. Kebetulan ruanganku dan sisil sama, cuman tempat duduk sisil sedikit terpisah jauh dariku, yang berada di belakang paling pojok ruangan. Tidak seperti tempat dudukku yang berada dibarisan kedua paling depan.

Gua sih gak masalah, selagi masih satu ruangan dengannya. Lagian walaupun dia dekat dengan gua, kita kan gak bakalan saling nyontek juga kok, walaupun yaaa, ngintip ecek2 bisa juga sih??? Hehahahahahaha...

"Inggak deng becanda"

Belum juga sekitar 10 menit gua dan sisil berada di dalam kelas, tiba2 Pahmi datang masuk keruangan kami.

"Mit, boleh aku ajak bicara sebantar?"

Baru juga pahmi ingin mengajakku keluar, bell tanda masuk sekolah pun sudah berbunyi.

"Aduh, udah bell nih, gimana kalau habis ujian saja." Saranku.
"Yaudah" jawabnya kecewa.

Sebenarnya ada apa hari ini? Mading, sikap sisil yang sedikit aneh, terus sama ajakan Pahmi yang terlihat lain dari biasanya. Apakah ini semua ada hubungannya dengan omongan kak Rama kemaren??

Gua teringat sama omongan kak Rama sabtu kemaren, yang membuat gua tanda tanya besar.

"Tapi apa???" Fikirku.

***

"pagi anak2, seperti biasa sebelum ...."

Lamunanku tersedar setalah seorang guru pengawas, seperti biasa memberikan aturan main sebelum ujian dimulai.

Dan kak Rama dengan cueknya baru saja masuk dan duduk disebelahku.

Sebelumnya dia memberikan sebuah senyuman nakal dan kata2 yang menurut gua gak penting untuk di ucapkan.

"Semangat ujian ya dedek cantik, semoga kamu jadi juara sekolah lagi."
Kata kak rama sok imut

"Yuuu, please deh. Ngomongnya jangan sok imut-imutin gitu. Gak malu apa sama muka." Batinku kesal.

***

Ujian pertama hari ini adalah ujian fisika. Ujian yang kebanyakan orang sangat susah untuk dipecahkan. Tapi tidak bagi gua, yang sangat menyukai pelajaran ini. Gua pun mulai menggores2 kan ujung pulpen gua, sambil mengingat rumus yang semalam gua pelajari.

Begitu pun dengan kak Rama, yang saat ini duduk di sampingku. Kali ini dia nampak serius dalam menjawab soal ujian yang ada di tangannya.

Bersambung.....

Tinggal dikit lagi nih....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar