Selasa, 10 Mei 2016

Kutunggu kau di palaminan nanti 4

Lanjut lagi ahh...

****************************************
Di Mall ini memang terdapat beberapa restoran untuk tempat pengunjung menikmati berbagai macam kuliner yang ada di lantai lima.

Makanya gua menganggap pertemuan kami memang cuman kebetulan. Tidak seperti Sisil yang ketakutan akan bayang2 cerita kanibal, pembunuh berdarah dingin yang sering kita tonton di DVD kamarku.

(Sisil Lebay😝😝)

"Kasihan si Sisil, kayaknya dia harus ketemu sama nyokap gua dulu deh, buat konsultasi masalah psikologinya itu."

Apa mungkin ini karena cinta Sisil yang bertepuk sebelah tangan terhadap Pahmi? Makanya sekarang berubah menjadi seorang hatters si
Pahmi dan menganggapnya seorang penjahat karena telah membuatnya broken heart untuk pertama kalinya?

"Gak tau lah. Biar Sisil, Pahmi dan tuhan aja yg tahu."

Tidak sepertiku yang sekarang ini, lebih sering mikirin Pahmi. Saat ini Hanya komitmen dan gengsi saja yang nguatin gua untuk tidak jatuh kepelukanya. Apalagi setelah gua tahu selera gua dan Pahmi itu banyak kesamaan.

Kemudian cara dia memuji gua sewaktu sedang memilihkan baju yang cocok buarku. Jujur membuatku seakan terbang, hingga langit ke tujuh pake baling2 bambunya doraemon.

(Doeaemon marah.. "woiiii.., kenapa nama gua dibawa2" 😈😈 upss..)

***

"Kakaaak.., banguuun!!" Teriak Raffa."
"Taii lu ya" kata gua kesal setelah telinga gua berhasil berdengung, dengan teriakan suara cemprengnya itu.

Bukannya minta maaf, tapi Raffa malah ketawa karena merasa puas sudah bisa membuatku marah.

"Dasar anak ini, selalu saja bikin gue kesal." batinku


Raffa adalah adik cowok gua satu-satunya. Saat ini dia sedang duduk di kelas dua SMP.

Aku dan Raffa hanya dua bersaudara. Sebagai anak sulung, gua sih sangat sayang sama dia. Tapi, sejak SMP ini sikap Raffa berubah jadi jail, tidak seperti waktu dia SD dulu yang terkenal sangat manis.

Nyokap sih bisa maklum dengan sikap Raffa, karena selain wataknya yang lembut, mamah juga seorang dokter spesialis jiwa.

Sementara papah. Setiap harinya kan sibuk ngurusin perusahaan, mana tau menahu akan hal itu. Apalagi Raffa anak cowok satu-satunya yg akan jadi penerusnya.

"Raffa, Raffa.! Mau jadi apa sih kamu dek, kok masih kecil aja sudah seperti ini" Gumamku setelah Raffa ninggalin gua kembali sendirian di dalam kamar.

***

Gua melirik ke arah jam wekker di atas meja lampu di samping tempat tidur gua. Ternyata saat ini sudah pukul 20.00 wib.

"Huuammm, masih ngantuk." Gumamku sambil menguap.

Akibat kecapean habis jalan ke Mall bersama sisil tadi siang, gua sampe ketiduran. Untung saja gua masih datang bulan, jadinya gua lagi gak sholat yang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang muslimah.

***

Gua bangun dari tempat tidurku, lalu mencuci muka di wastapel yang ada di samping pintu kamar mandiku. Setelah itu gua turun ke bawah menghampiri papah, mamah dan Raffa yang sedang asyik menonton acara ini talk show pavorit mereka.

Aku tahu, kalau mamah dan papah suka banget sama a'a sule dan kak andre kalau lagi tampil di TV. kata mereka, kak andre dan a'a sule, contoh salah satu pelawak yang cerdas.

***

"Kamu baru bangun nak?" Tanya papah lembut, penuh kebapaan setelah melihat gua sedang turun dari tangga.
"Iya pah," jawabku sekenanya.

Papahku bernama Herlambang Wijaya.
Dia seorang penghusaha sukses dan terkenal senusantara ini.

Papahku orangnya sangat baik, dan dia tipe lelaki romantis.

Gak salah memang, kalau mamah yang jadi primadona si kampusnya dulu, sampai terpikat dengan sosok papah yang pendiam dan super cuek.

"itu sih cerita mamah waktu itu."

Dan gua, gak pengen nyeritain itu semua ke kalian.
Jangan tanya kenapa. Soalnya gua juga gak tau kenapa.
Yang jelas gua malas, apalagi gak penting juga ngomongin masa pacaran orang tua dulu. bukannya kebapa ya, soalnya selain kalian takut ngiri nantiya, disini kan gua cuman mengangkat cerita tentang masa pacaran gua sama pahmi.

@author marah..

"Woiiii, ayo lanjutin.... kok malah curcol segala sih."

Oke lupakan soal yang gak jelas itu. Sekarang kita lanjutin aja lagi ceritanya.

Tapi sorry.. di pertemuan berikutnya tapi. Hehahahahahaaa....

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar