*14.30 wib*
Prasetyo memarkirkan motor butut, keluaran tahun lama di depan teras rumahnya.
Sore ini, bapak tiga anak itu pulang lebih cepat dari hari biasa dia bekerja sebagai buruh pabrik penghasil pakaian terbesar itu. Tidak harus menunggu sang mentari berlalu menenggelamkan cahayanya di celah gumpalan awan tebal berwarna jingga di ufuk barat sana.
***
Wajahnya yang tampan penuh kasih sayangpun selalu menebarkan sebuah senyum kedamaian. Apalagi Sosoknya yang kebapaan, seakan mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk ketiga anaknya itu.
"Hoyeeee bapak udah pulang kelja." Sambut alex girang setelah melihat prasetyo sedang berdiri di ambang pintu dengan cara bicaranya yang cadel seperti anak 4 tahun pada umumnya.
"Hehaha, kamu nih ya, semangat amat kalau udah nungguin bapak. Pasti bapak tahu nih, kalau sudah begini kamu ada yang mau diincar kan?" Komen prasetyo tertawa sambil mengangkat alex ke gendongannya.
"Iya tuh pak, dari tadi alex ngeluh terus gak sabaran buat nunggu donat kesukaannya itu tuh" timpal Raffa memanyunkan bibir merahnya dengan maksud menggoda alex yang tengah malu karena ketahuan oleh papahnya.
Alex menang sangat suka makan donat rasa stoberry. Setiap pulang dari tempat Prasetiyo bekerja, ia selalu membeli donat pesanan anaknya itu. Alih-alih sebagai oleh2 agar Alex yang merengek minta ikut ketempat kerjanya bisa ditinggal di rumah.
Melihat tingkah Alex yang lugu dan masih polos (yaiyalah, namanya juga anak kecil 😀😀) sontrak membuat Luna, Raffa dan Prasetyo yang melihatnya tiba2 ketawa bersama.
Hening sejenak...
"Yaudah gih, bapak mandi dulu, soalnya badan bapak udah bau asem tuh" kali ini Luna yang angkat bicara untuk meminta sang papah segera mandi, karena dia sendiri akan menyiapkan makanan buat bapaknya itu.
"Sip deh neng bapak yang paling cantik." jawab prasetyo sambil mencubit pipih tembam Luna dengan gemas, setelah itu berlalu menuju kamar untuk mengambil handuknya.
Sementara Raffa sedang asyik mengganggu Alex yang sedang lahapnya memakan donat di tangannya. Mulutnya yang kecil belepotan + pipi menggembung karena mengunyah donat menambah kesan lucu dan polos.
"Oh iya lun, gimana persiapan kamu buat UN nanti. Terus kamu dah mantapin niat kamu belum buat lanjut sekolah kemana?" Kata Prasetyo setelah keluar dari dalam kamar mandi.
Sebagai orang tua, yang tahu sebentar lagi Luna akan lulus SMP, lagi2 mengingatkan putri nya itu untuk memilih sekolah yang tepat sesuai dengan pilihan sang anak.
"Belum tahu nih pak, soalnya Luna bingung antara pengen masuk SMA apa SMK, soalnya Luna dapat beasiswa dari keduanya."
"Lah, kenapa harus bingung? Memangnya dari dulu itu, kamu pengen sekolah dimana?"
"Pengennya sih SMA, tapi kalau Luna pikir, apa luna SMK aja biar nanti pas lulus langaung kerja aja." Jelas Luna sedikit ragu.
"Kok kamu malah mikirin kerja? Memangnya habis lulus SMA, kamu gak mau kuliah apa? Kamu bukannya punya cita2 setidaknya jadi sarjana toh?" Timpal prasetyo mengingatkan.
"ya jelas adalah pak, cuman Luna gak mau aja kalau harus repotin bapak. Luna pengen nanti kuliah pas Luna sudah kerja, biar Luna bisa biayain kuliah luna, dan gak ngerepotin bapak."
"Lun.., lun.! Kamu ini mikirin apa sih? Memangnya bapakmu ini gak bisa kerja buat menuhin biaya sekolah kamu apa? Yo wes, hidup kita memang susah dan kita tinggal di kontrakan yang sempit seperti ini. Tapi ingat, bapak itu gak akan tinggal diam buat nyekolahin kalian kalau boleh Sampai gelar sarjana.
Bapak gak mau jika pendidikan kalian sampai ada yang di bawah bapak. Lagian kamu ini kan pintar, kalau memang kamu ada niat buat gak repotin bapak, kamu tinggal belajar yang rajin buat perjuangin beasiswa kamu sampai ke perguruan tinggi negeri. Selebihnya biar bapak yang urus." Jawab Prasetyo sedikit emosi.
Sebagai lulusan sarjana dari PTN ternama, jelas saja Prasetyo tidak ingin melihat ketiga anaknya hanya sampai lulus SMA.
Bersambung.....
Sorry ya guys, kalau jelek.😢 dan jangan lupa komentarnya ya..☺😊
Malas lanjutinnya, kalau di cuekin gini. Gak ada yang nyempatin waktu buat komen.
BalasHapus