Yeeeeee.. lanjut lagi ya...
****************************************
"Apa? Pahmi suka sama bau parfum gue??"
***
Hari ini gua masih gak percaya kalau tadi sebelum gua ninggalin pahmi di koridor toilet sekolah, dia mengucapkan terima kasih karena jaket miliknya gua nyemprotin parfum kesukaan gue.
Rasanya senang banget dapat pujian kayak gitu darinya. Padahal tadinya, gua cuman iseng nyemprotin parfum gua ke jaketnya sebelum gua masukin tuh jaket ke dalam tas gua.
"Woiii, kenapa lu?? Kok senyum2 sendiri."
Kata Sisil mirip jelangkung yang tiba2 nongol di depan gua.
"Inggak kenapa2 kok, gua senang aja karena hari ini gua dapat uang tambahan dari nyokap" ucapku bohong.
"Yee, kirain ada apaan. Oh iya, lu dah tau belum kita satu ruangan sama kelas mana?" Lanjut Sisil.
"Belum, emangnya sama kelas apa?" Tanyaku sok antusias
"Sama kelas XII-IPA 5." Jawab Sisil memalas. Sama kayak gua yang gak bersemangat sama sekali setelah menerima kabar buruk itu.
***
Hari ini kebetulan adalah jadwal pembagian kelas untuk ujian semester di SMA gua. Dan kebetulan semester kali ini, kelas gua di satuin sama kelas XII-IPA 5 yang terkenal sangat buruk. Apalagi kelas tersebut adalah kelas yang motabennya dari anak2 kalangan atas (anak-anak orang kaya.) Jadinya kakak-kakak senior yang belajar di sana adalah siswa/i yang lebih mementingkan popularitas daripada pendidikan. Tidak salah kalau Miska salah satunya siswa yang derada di kelas itu.
Selain itu kelas XII-IPA 5 juga terkenal sebagai siswa pemegang rekor nilai rata2 terendah setelah XII-IPS 5, di angkatannya. Jadi tidak heran kalau gua waktu itu pernah di panggil bu leli sebagai pengajar mata ajar fisika buat membantu mereka untuk ngerjain soal yang menurut gua tidak terlalu susah dikalangan kelas tiga seperti mereka.
***
Sebenarnya ada satu siswa yang merupakan seorang mantan pemegang juara umum di angkatannya, karena perilakunya yang minim, dia di pindahin ke kelas yang sangat di hindari oleh guru2 sekolah gua ini. Siapa lagi kalau bukan kak Rama.
Tapi saat itu kak Rama lebih memilih cabut untuk main basket dilapangan dari pada belajar di dalam kelas.
"Dasar kak Rama, sekolah sudah kayak miliknya aja. Untung gua gak mau jadi pacarnya dulu. Kalau sampe kejadian, ih, gak tau lagi deh nasib gua kayak apa."
Batinku, geli setelah mengingat ulah kak Rama satu tahun lalu yang selalu gangguin dan ngajakin gua pacaran.
***
Setibanya di ruang 7, (nama ruangan gua menjalani ujian.)
Gua pun menuju meja yang ada di barisan ke dua dari depan ruangan itu.
"Loh, kok kak Rama duduk di sebelah gua sih?". Gumamku bingung, begitu melihat photo kak Rama berada di pojok kanan meja ujian gua.
"Memangnya kenapa, Gak suka?" Jawab seseorang yang tak lain adalah kak Rama sendiri yang saat ini sedang berdiri di belakangku.
"Eh kak Rama, maaf kak, aku gak bermak."
"Gak apa2 kok, lagian wajar aja lagi, siswi secantik dan terkenal seperti lu itu gak tau nama asli gua. Makanya lu agak bingung gitu kan kalau nama lu yang dari L, bisa satu meja dengan gua yang lu taunya berinisial dari R" jawabnya setelah memutus omonganku. Dan saat ini kak Rama dengan senyuman devilnya.
Sebuah senyuman yang menurut gua kurang bersahabat, dan mengingatkanku pada senyum seseorang.
"Tapi siapa ya..." ucapku dalam hati, seolah mengingat2 senuman itu. Tapi apa boleh buat, karena gua tidak bisa mengingat sama sekali.
Sekarang ini dia tengah memandang gua dengan sedikit horor. Dan jujur, membuat gua sedikit risih dan takut.
"Lu gak usah takut gitu kali LUNA SASMITA. tapi, sebelumnya gua kasih tahu dulu kali ya nama lengkap gua biar kita sama2 adil."
"Nih, perkenalkan nama gua, Lingga Rama" Kata kak Rama yang seolah bisa membaca pikiranku. Dengan gaya sok kerennya yang memuakkan itu.
"Oh iya, lu sekarang dekat sama Pahmi ya, gak heran juga sih kalau seorang Pahmi yang gak jauh kerennya sama gua bisa nakhlukin cewek secantik kamu. Dan gua yakin, misi dia pasti berhasil."
"Misi? Maksud kakak misi apaan ya??" Tanyaku sedikit bingung dengan maksud kak Rama.
Manun kak rama hanya nyengir kuda. Sebuah senyuman yang tidak bisa gua tebak maksudnya apa, tapi yang jelas, senyumannya itu membuat gua merasa tidak nyaman sama sekali.
Tanpa mempedulikan kebingungan gua, kak Rama pun langsung pergi ninggalin gua, yang sedang terdiam seorang diri di dalam kelas.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar