Rabu, 23 Maret 2016

Nothing is impossible 3

Setelah pulang belanja dari warung "koko" pemilik warung sembago, yang ada di pinggir jalan raya sana. Luna saat ini sedang sibuk memotong tempe dan tahu untuk ia goreng sebagai lauk mereka hari ini.

Oh iya.. FYI, aja nih...

Alex adeknya luna saat ini sedang di asuh oleh bu leli. Tadi pas luna mau belanja, bu leli menahan alex untuk ia jaga di rumahnya, menunggu luna selesai melakukan pekerjaan rumah yang saat ini di lakoninya.

Apalagi kata bu leli, ia lagi gak ke butik. Alias lagi santai jalani hari libur, jadinya bu leli yang merasa gak tega dengan luna, ber 'inisiatif' buat meringankan beban luna pagi ini.

"Aduh, sudah jam 09.00 lagi, kok raffa belum pulang juga sih." Gumam luna sambil melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Ruangan kecil berfasilitas sofa yang sudah kusam.

"Assalmualaikum.."
Tiba-tiba teriakan seseorang terdengar di luaran sana. Luna yang mendengar suara yang tidak asing itu, langsung menjawab salam, sambil lanjut menggoreng tempe dan tahu yang tadi ia potong-potong itu.

"Kok kamu baru pulang sih dek?" Tanya luna kepada raffa yang sedang menghampirinya di dapur.
"Iya nih kak, tadi jualanannya laris manis, jadinya aku nambah pesanan lagi buat aku jual" jawab raffa bersemangat.

"Yaudah, kamu mandi gih, biar habis mandi kamu jemput alex di rumahnya bu leli. Gak enak, repotin beliau karena dari tadi harus jagain alex."

"Ya ela.., santai aja kali kak, lagian bu leli juga kan yang mau dengan senang hati buat jagain dek alex. Yaa.., hitung-hitung buat mengambil hati pa.."

"Raffaaa... gak boleh ngomong gitu. Gimana pun, kita gak bisa manfaatin orang lain seperti itu. Apalagi selama ini, bu leli udah banyak banget ngebantu keluarga kita. Kalau sampai papah dengar, kamu bisa di marahin papah, tau gk kamu." Jelas luna tegas, usai memotong pembicaraan raffa barusan.

"Oke deh, kakakku yang bawel." Balas Raffa santai sambil ngeluarain lidahnya.

"Dasar adik nakal, dikasih tahu malah meletin lidah gitu" protes luna gemas.
Sementara raffa hanya balas nyengir sambil berlari ke kamar mandi.

"Oh iya kak, hari ini aku dapat lumayan nih buat nambahin uang tabungan sama jajan kita besok." Teriak raffa dari kamar mandi.

"Simpan saja itu, buat kamu. Kakak masih punya simpanan dari hasil bayaran les privat dari teman2 kakak." Jawab luna datar.

***

Yah, begitulah keseharian luna dan Raffa, ketika libur, dan pulang sekolah. Raffa selalu bekerja sebagai penjual layangan di lapangan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sementara Luna bekerja sampingan sebagai pengajar les privat matematika dan fisika untuk teman-reman atau bahkan adek kelas di sekolahnya. Luna seorang anak yang paling cerdas di sekolah. Karena kecerdasannya, luna sampai sering kali menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade di tingkat provinsi maupun nasional. Dan alhamdulillah, sampai terakhir ia mengikuti olimpiade sekitar dua bulan yang lalu, ia pun selalu mendapat juara pertama.

Begitu pun dengan Raffa, walaupun usianya masih 9 tahun, Raffa sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Dan ia selalu mendapat juara satu di sekolahnya. Bahkan disatu angkatannya yang terdiri dari empat kelas, setiap angkatan. Raffa berhasil memperoleh nilai tertinggi. Atau kata lain, Raffa menjadi juara satu umum di sekolahnya.

Bersambung....

***
FYI : For you information

Sorry ya guys kalau kurang bagus, maklum nasih pemula. Hehahaaaa..! Gua tunggu komennannya ya.. 😄😄😄😄

1 komentar:

  1. Please, komen. Jangan cuman pembaca bisu doang.... paling malas sama orang kayak gitu.

    BalasHapus