Lanjut lagi ya....
sorry kalau cerpennya gajebo. Hehahaaa
******************************************
"Maksudnya Sisil apa ya?"
Gumal gue dalam hati yang bingung begitu mengingat perkataan Sisil di dalam toilet sekolah beberapa hari lalu.
Flasback on
"Lu mungkin gak bisa liat kalau Pahmi suka sama lu. Tapi, gua bisa tau kalau dia sudah jatuh cinta sama lu"
Flasback off
***
Sehabis kejadian yang gua alami di kantin beberapa hari yang lalu, gua mengajak Sisil ke tolilet sekolah buat meriksa keadaan rok gua.
Disana gua sangat kaget setelah mendengar ucapan Sisil yang menyatakan kalau Pahmi naksir sama gua.
Jujur, ini pertama kalinya gua merasa gerogi di depan cowok, dan kalau di liat2, pahmi itu kayaknya memang benar-benar tulus, beda sama cowok lain. Dan gue sejak awal sudah merasa nyaman sama dia.
"Apa mungkin gua sudah salah telah menganggap dia sebagai musuh gua. Padahalkan selama ini, dia sangat baik sama gue."
Sekarang gue jadi merasa bersalah karena selama ini gue kurang ramah ke Pahmi.
"Ya tuhan, kenapa jadi begini sih" Batinku
***
Sepulang sekolah, gua mencoba belajar sekedar mengulang pelajaran gue diayunan dekat kolam renang yang ada di bekalang rumah.
Mengingat tinggal seminggu lagi, ujian semester di sekolah akan segera dimulai.
Tapi entah kenapa, sudah kurang lebih 20 menit mengobrak abrik buku paket fisika gue, satu pun tidak ada yang menempel di otak gua ini.
"Kenapa sih gua susah banget konsentrasi?" Hujatku.
Jujur gua sangat benci dengan moment2 seperti yang gua alami beberapa minggu ini. Seperti dek dekanlah, senyum2 sendirilah, berbunga2 lah, jatuh cin..
"What..?? apa gua sedang jatuh cinta??"
"Tidak.! Ini tidak boleh terjadi." Tegasku.
***
Merasa takut stess sama apa yg gua alami akhir-akhir ini, gua pun langsung nelpon Sisil. Seperti biasa, walaupun Sisil terkadang nyebelin tapi dia selalu setia nemanin dan dengarin curhatan gua.
Kebetulan Sisil juga lagi gak ngapa2in, makanya sehabis telponan sama dia, kami pun langsung janjian di tempat biasa di sebuah mall daerah Jakarta selatan yang tidak terlalu ramai untuk sore hari seperti saat ini.
Tanpa pikir panjang, setibanya ditempat butik muslimah langganan gua. Gua pun langsung belanja busana muslim tebaru.
Biasanya kalau sudah shoping seperti ini, gua sedikit bisa hilangin suntuk yang mumet di otak gua. Bahkan saking semangatnya, gua jadi gak sadar udah milih banyak baju, dan mencobanya disalah satu kamar ganti. Harga baju per pasang sebenarnya tidak terlalu mahal, cuman karena gua masih pelajar, jadinya gua harus hemat.
Setelah gua coba semua baju yang gua pilih, gua merasa suka dan merasa pas di badan gua. lagi lagi bukannya senang, gua malah jadi bingung. Sebagai sahabat, Sisil ikut membantu gua memilih baju mana yang harus gua ambil. tapi entah kenapa gua gak setuju sama pilihan dia, sampai dia kesal sama gua.
"Udah, ah.! Gua gak tau lagi mau bilang apa, selain kata gua yang ini."
"Apa?"
"lu beli aja tuh semua baju."
"Ya, kali baju sebanyak ini gua beli. Nanti kalau mamah sama papah gua nanyain gimana? Mereka bisa marah besar sama gua."
"Terus mau gimana lagi Kalau gak kayak gitu. Lu mau kita sampai kapan di dalam butik ini. Sekarang udah hampir mau magrib lho Mit." Kata sisil geram sambil menoleh ke arloji miliknya.
Aku hanya bisa terdiam melihat Sisil mulai ceramah kayak mamah dedeh persi gagal.
Sampai akhirnya seseorang datang menghampiri kami.
"Perlu aku bantuin gak?" kata si empunya suara.
"Pahmi?" Bisik gua kaget yang merasa sudah pamiliar dengan suara itu.
Dia tengah berjalan mendekat ke arahku sambil mengecek beberapa baju yang ada di tanganku.
"Kok lu bisa ada disini?" Tanya Sisil yang sama2 kaget sepertiku.
"Emangnya kenapa? Bukannya mall ini tempat umum ya?" Jawab pahmi ketus.
"Bukan begitu Pahmi maksudnya Sisil, mungkin karena kebetulan aja kali ya, kita bisa ketemuan disini. Jadinya Sisil agak kaget gitu." Ucapku berusaha nengahin.
"Itu tadi karena aku habis bantu-bantu di restoran mamah aku di lantai 5. Dan ini tadi rencananya pengen pulang. eh, kebetulan aku lewat dan malah ngeliat kalian berdua lagi belanja. Yaudah, aku samparin aja deh."
"Ooh, gitu ya.! Jawabku dengan mulut berbentuk O.
Bersambung.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar