Jangan sampe bosan bacanya ya...
lanjut aja deh...
*****************************************
Setelah kejadian di kantin beberapa hari lalu, Mita menjadi lebih ramah samaku. Sebagai seorang pangeran yang sedang jatuh cinta terhadap seorang putri cantik, gua merasa sangat senang saat ini.
"Pahmi, bagaimana perkembangan soal si Mita? Apa lu udah bisa ngajak dia ngobrol? Setelah apa yang lu lakuin buat bantuin di di kantin kemaren?" Tanya kak Rama yang tiba2 duduk di sampingku.
Gua yang sedang asyik menonton TV,
"Eeeitsss, ralat. sebenarnya sih, gua gak konsen nonton, karena gua sedang ngebayangin cewek pujaan hati gua. Siapa lagi kalau bukan Mita."
Tapi, kesenangan gua harus terputus karena kedatangan kak Rama.
"Sekarang ini sih Mita sudah mulai baik sama aku kak, terus akhir-akhir ini juga aku sudah sering ngobrol sama dia." Jelasku menyakinkan.
"Bagus kalau gitu." Jawab kak rama singkat.
Nampak jelas ada rasa kepuasan tergores dimatanya.
Untung aja aku gak keceblosan ke kak Rama, kalau aku sebenarnya juga sudah jatuh cinta ke Mita. Kalau sampai kak Rama tahu, dia pasti bakalan marah besar.
Soalnya aku tahu, kalau kak rama pernah naksir dan pengen berubah menjadi anak baik demi Mita. Tapi karena Mita nolak dia, jadinya dia gak jadi tobat deh sampe sekarang. (Alias tetap jadi anak berandalan di sekolah.)
***
Saat ini aku sedang belajar di dalam kamar seorang diri. Gak tau kenapa, aku merasa susah banget buat menghapal buku yang aku baca. Tidak seperti biasanya.
"Ayo dong, otakku... jangan cuman mikirin Mita terusss.." gumamku.
Aku pun berbaring ke tempat tidur sambil memandang langit-langit kamarku. gak tau kenapa aku sangat berharap kalau Mita juga bisa merasakan apa yang yang gua pikirin saat ini.
Gua pun mengambil sebuah gitar kesayanganku yang berada di pojok kamarku.
Sambil mulai memetik senar gitar membentuk sebuah nada, tiba2 suara ponselku berdering.
"Sisil"
gumamku setelah membaca nama panggilan masuk di layar ponselku itu.
"Halo kenapa sil?" Jawabku kurang semangat begitu menangkat panggilan telpon darinya.
"Ihhh, kok kamu sekarang gak pernah balas bbm dari aku lagi sih?" Jawab penelpon di seberang sana dengan gaya sok imut.
Yang jelas, membanyangkannya saja, gua sampai mau muntah saat itu juga.
"Oh, sorry. Soalnya aku sedang sibuk akhir2 ini." bohongku.
Sementara di sebrang sana tetap bicara gak jelas.
"Kalau boleh tahu, kamu dapat nomor aku dari mana?" Kataku tude poin.
Karena gua paling gak gampang bagi nomor ke orang lain, merasa tidak pernah membagi nomorku ke siapa pun di sekolah kecuali pak kepala sekolah. Karena pak kepala sekolah beberapa hari lalu, meminta nomorku agar beliau bisa menelpon aku kalau lagi ada keperluan penting manyangkut perlombaan olimpiade yang akan di adakan bulan depan.
"Dari pak kepala sekolah." Jawab Sisil polos.
"Loh kok bisa?" Komenku kaget.
Sangging kagetnya gua hampir syok dan ngebayangin Sisil seorang gadis gila, sampai nekat minta nomor ke guru tertinggi di sekolahku itu. Hanya untuk bisa menelponku.
(Oh, lupakan pikiran ngaur itu.)
"Iya, soalnya kemaren kan pak kepsek manggil aku ke kantor buat ngomongin soal olimpiade bulan depan. Dan dia ngasih aku nomor kamu, katanya biar aku bisa gampang hubungin kamu kalau aku, Mita sama kamu pengen belajar bareng." Jawab Sisil panjang menjelaskan.
Sudah mirip seperti kereta api saja.
"Terus kalau gitu, sekarang kamu nelpon aku buat apa?"
"Karena aku kangen sama kamu" jawab disebrang sana.
"Lah, kan kita satu kelas. Ngapain juga kangen2nan. Lagian aku dah bilang sama kamu, kalau aku itu gak pernah suka sama kamu, karena sejak dulu memang aku sukanya cuman buat Mita doang." Jawabku jujur.
Di sebrang sana malah menangis membuat gua makin gak ngerti dengan apa yang dibicarakannya.
"Kalau gitu udah dulu ya Sil, gua ngantuk banget nih, pengen tidur."
"Tuuut...tuuut...tuttt.." Gua langsung memutus telpon setelah gak tahan lagi mendengar ocehan Sisil.
***
Beberapa hari ini, aku memang sengaja menghindar dari Sisil. Apalagi setelah aku terang-terangan menolak pengakuannya yang suka samaku. Sampai sekarang Sisil masih tidak terima, karena aku telah menolaknya. Kata dia baru kali ini ada cowok yang berani menolaknya seperti ini.
"Dasar cewek gila. Sampe segitunya apa buat dapatin aku" batinku kesal.
Bersambung....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar