Rabu, 11 Mei 2016

Haiii... haiii... udah mendekatin ending nih.. gua harap jangan jadi pembaca misterius ya, soalnya gua butuh komenbkalian.

****************************************
Mita prov..

Tidak terasa sudah tiga hari ujian sekolah  berlanjut. Isu yang mengganjal selama hari pertama ujian lenyap begitu saja. Seperti halnya kedekatan gua bersama kak Rama dan Pahmi yang semakin hari semakin akrab. Semenjak gua tahu kak rama itu kakaknya Pahmi, gua pun semakin menemukan kemiripan diantara mereka.

"Yah, Senyum devil yang menyeramkan itu" fikirku.

***

"Mit, lu habis dari mana?" Tanya Sisil.
"Habis dari kantin sama Pahmi dan kak Rama juga" jawabku datar.
"Lu gak ketemu sama pak kepala sekolah?."
"Memangnya ada apa? Ada kabar penting ya?."
"Iya. Tadi pak kepsek bilang ke gua, jika selesai jam ujian nanti, kita bertiga diminta buat menghadap beliau" jawab Sisil menjelaskan.
"Ooh, pasti mau ngomongin soal masalah olimpiade bulan depan ya??"
"Yupsssss.." jawab Sisil singkat.

***

Bulan depan kebetulan ada lomba olimpiade tingkat nasional, dan yang terpilih mewakili sekolah, diantaranya gua, Pahmi dan Sisil.

Sebagai murid baru, Pahmi yang terkenal cerdas memang diberi kesempatan untuk menggantikan Tiara yang menurut gua tidak ada apa2 sebagai juara dua umum di sekolah. Dan kebijakan ini karena kepala sekolah, yang mendapat laporan dari pak Sapto, selaku guru matematika, katanya Pahmi selalu mendapat nilai 100 di mata ajar matematika berhak mengikuti olimpiade tingkat nasional tahun ini.

***

Setelah ujian selesai, kami bertiga pun menuju ruangan kepsek.

@ruang kepsek.

"Assalamualaikum, pak.??." kami bertiga serentak menyapa pak kepsek dari depan pintu, sudah mirip paduan suara sekolah saja.
"Waalaikum salam, oh iya kalian sudah datang rupanya, ayo silahkan masuk." Jawab pak kepala sekolah ramah.

Di usianya yang sekitar 45 tahun pak Hariyanto masih terlihat gagah dan ganteng.

Gak salah memang kalau pak hariyanto di juluki teacher keep smile.

Biasanya kepala sekolah itu, terkenal galak, dan sangar. Tapi tidak dengan yang satu ini, namun walaupun seperti itu pak hariyanto juga guru yang bijaksana.

"Jadi persiapan kalian sudah sampai dimana?" Kata pak hariyanto memecahkan ketegangan kami disana.
"Masih nyampe di blok M pak, shoping." Jawabku ngasal.
"Kamu ini mit, taunya shoping mulu." Kritik pak hariyanto.
"Hehahaha.., iyalah pak, namanya juga cewek. Kalau ke ring rinjukan itu kerjaan cowok." Jawabku lagi.

Pak hariyanto cuman geleng-geleng kepala saja.

"Tapi, setidaknya bapak bangga juga sih sama perubahan kamu belakangan ini"
"Maksud bapak perubahan soal apa?" Tanyaku bingung
"Perubahan soal kalau kamu sudah gak pernah lagi telat ke sekolah. Seinggaknya itu laporan yang saya terima dari pak Wawan.

Sementara gua cuman menggarut kepala gua yang gak gatal setelah mendengar ucapan pak hariyanto barusan.

"Tapi ini gak ada hubungannya sama gosib yang beredar di luaran sana kan? Soal kedekatan pahmi dengan kamu??"
"Nyeeeet..."

Rasanya lebih baik gua di suru bersihin kandang kuda selama seminggu dari pada harus mati kutu di godain pak kepala sekolah yang ternyata juga raja gosib sekolah.

Gosibnya sih gak masalah, yang jadi masalah adalah kenapa harus ada Pahmi disamping gua. Pasti saat ini dia senang ngelihat gua gak bisa berkutik kayak gini.

"Eheeeemmm," Pahmi mengehem di samping gua.

Tuh kan, apa lagi maksudnya pahmi barusan. Keselak biji salak kali ya"

"Kenap lu? Keselak batu?"
"Uuummm, inggak juga. Cuman tenggorokan gua kerasa gatal aja." Balas pahmi.
"Btw, ada masalah apa ya pak, sampai kita dipanggil kesini?" Tiba2 Sisil memecahkan ke kakuan gua.

Untung ada lu Sil, kalau inggak mungkin gua terkena serangan jantung juga kali ya. Batinku.

"Oh, anu.! Jadi bapak manggil kalian kesini karena mau ngasih materi tambahan buat bekal kalian belajar bareng di waktu jam di luar sekolah. Dan tadi ibu rani nitipin ini ke bapak." Kata pak hariyanto sambil memberikan satu jilid materi tambahan.

"Satu lagi, kalau untuk sementara ini kalian akan dibimbing sama pak Sapto, karena berhubung bu Rani satu minggu kedepan akan ada pelatihan ke luar kota." Lanjutnya.
"Apa???" Respon kami serentak kaget.
"Memangnya kenapa? Kok kelihatannya kalian bertiga kurang senang sama pak sapto ya??" Kata pak hariyanto aneh.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar