Selasa, 10 Mei 2016

Kutunggu kau di pelaminan nanti 5

Seturunnya dari kamarku barusan. Gua langsung ke dapur karena tenggorokan gua terara mulai retak kekeringan.

"Sawah kali ah..." hehahaaa

Dan sehabis dari dapur tadinya gua langsung kembali ke kamar untuk mengambil Iphone Milikku.

Sebelum itu, gua masih sempat melirik ruang tamu. Tampak jelas disana mamah dan papah lagi asyik bernesraan. Layaknya dua remaja sedang di landa cinta (alias bernostalgia gitu deh, mengingat masa2 pacaran mereka dulu.) Intinya gua merasa iri melihat mereka yang bermesra-mesraan seperti itu.

"Mereka gak mirikin aku apa, yang lagi menjomlo" batinku.

"Daripada gua terus terbawa emosi, mendingan gua menuju kamar untuk membuka aplikasi FB, twitter, BBM ataupun aplikasih lainnya. Daripada gua jadi kambing congek gini." Batin Mita lagi.

@Author prov*

Akhirnya Mita berlahan melangkahkan kakinya meniki tangga menuju kamarnya. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara, karena takut mengganggu mamah dan paphnya. Namun suara pria paru baya, terpaksa menghentikannya.

"Mit, kamu kesini dulu nak." Panggil papahnya.

Yah.., akhirnya saat ini Mita tengah duduk di tengah mamah dan papahnya. Tanpa Raffa disana.
Mingkin dia memilih untuk duluan masuk ke dalam kamarnya dan asyik bermain game online di komputer miliknya.
Dan gua rasa, alasan itu pasti membuat Raffa kenapa jam segini memilih untuk tidur pada saturday night hari ini, lebih cepat dari biasanya.

"ada apaan pah, mah" jawabku setelah duduk ditengah mamah dan papah.
"inggak kenapa2 kok nak, kita hanya kangen aja pengen ngobrol sama kamu. Lagian akhir2 ini papah sama mamah kan sering sibuk, sampe gak ada waktu banyak buat ngobrol sama kalian." Jawab papah.

Gua memang harus akuin apa yang di bilang papah barusan. Akhir2 ini papah dan mamah sedikit lebih sibuk dengan kerjaan mereka. Sampai gua dan Raffa merasa kurang di perhatiin seperti ini.

Gua sih masih bisa maklum, Tapi Raffa yang masih kecil seperti itu apakah mau mengerti dengan kondisi keluarga gue sekarang? Jawabannya hanya "maybe" Karena gua sendiri tidak tahu dengan perubahan sikap adik gua saat ini.

"Oh iya Mit, umur kamu kan sekarang sudah 16 tahun, kamu sudah punya pacar belum?"

Pertanyaan Mamah barusan membuat jantung gua kaget seketika.

"Apa maksud mamah menanyakan hal itu..? Fikirku.

Apakah mamah, bisa membaca perubahan sikap gua akhir2 ini ya? Batinku sedikit parno dan menganggap mamah musuh buyutnya mama lauren, yang bisa membanca jalan fikiran dan hidup seseorang. (Uuppsss sorry gua lebay.)

"Kok mamah nanya gitu?" Kataku mencoba tetap tenang.
"Karena tadi adik kamu cerita sama papah dan mamah, sewaktu dia lagi bangunin kamu, Katanya kamu lagi ngigo manggil2 namanya siapa tuh pah.."
"pahmi ma." Jelas papahku.
"Iya sih Pahmi. Kalau boleh tahu, Pahmi itu siapa sih nak?" Tanya mamah memperjelas.
"Tuhan... benar2 nih si Raffa, comelnya minta ampun. Gumalku dalam hati.

Sekarang gua benar2 merasa terjepit dengan pertanyaan yang keluar dari papah dan mamah. Mirip tersangka maling jemuran saja, yang sedang di introgasi sama pak polisi.

"Lah kok malah maling jemuran sih??"

Ya.., Mau maling apapun, tapi yang namanya penjahat kan kalau lagi di introgasi sama polisi tetap saja bikin bulu kuduk ini bangun.

"Pahmi? Oh itu sih, mah pah cuman teman sekolah aja kok pah mah." Jawabku sedikit gelagapan.

Rasanya wajah gua tiba2 memanas sangging gak tau mau ngomong apa lagi di depan bonyok gua.

"Papah sama mamah sih tidak melarang kamu buat dekat sama teman lelaki kamu, apalagi papah sama mamah juga dulu pernah muda. Asal kamu bisa jaga diri dan hijab yang kamu pakai aja. Dalam arti kalau wanita muslimah itu harus bisa menjaga batasannya antara mukhrim dan tidak mukhrimnya." Kata papahku dengan nasehat bijak persi beliau.

lagi-lagi gua hanya diam, namun sedikit legah setelah dengarin nasehat papah.
Setidaknya beliau inggak marah setelah mengetahui kalau gua habis mimpiin pahmi yang kedengarannya sangat tidak wajar untuk gua mimpikan karena dia bukan siapa2 gua.

"Ya, tuhan... apakah gua benar2 jatuh cinta sama pahmi yang seharusnya belum pantas aku cintai? Kalau benar, berdosahkah aku ini karena membuat allah cemburu??

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar