Selasa, 10 Mei 2016

Kutunggu kau di pelaminan nanti 8

Ahhhh.... lanjutttt...
Semangat kakaaaaaakkk hehahaa

*****************************************
@Mita prov**

Senin pagi sewaktu bell sekolah belum berbunyi, gua datang pagi2 seperti janjiku sabtu itu.
"Selamat pagi pak Wawan?" Sapaku menghampiri pak wawan yang sedang berjaga di postnya.
"Nah, gitu dong non, setiap hari selalu datang pagi."
"Iya pak, kali ini aku bakalan datang pagi terus, sekalian buktiin kalau aku juga anak yang disiplin" Kata gua sambil tersenyum.
Pak Wawan hanya bisa tertawa dan mangguk2 senang dengan perubahan sikapku.
"Yaudah pak, kalau gitu aku pamit dulu ya.!" paparku sambil meninggalkan pak Wawan yang lagi bertugas itu, menuju ruangan ujian sedikit berlari ala dora ketika sedang mencari harta karun.

(Berhasil, berhasil, iyeee.!)😁😁😁

***

Sebelum tiba di kelas, gua melewati mading sekolah. Disana anak2 sedang berkumpul dan heboh dengan gosib yang beredar pagi ini.

"Sungguh malangnya nasib siswa yang menimpa gosib sekolah yang tidak mengenakkan itu."

Tapi entah kenapa perasaan gua tiba2 berubah tidak enak. Belum lagi mereka yang serempak melirik ke arah gua prihatin.

Kok ngeliatin gua seperti itu sih? Gua sih tau, kalau gua itu cantik. Tapi biasa aja kali. (Persi narsis anak ABG.)

Tanpa mempedulikan mereka, gua pun terus berjalan melewati mading.

"Mit, lu belum liat mading kan hari ini?" Kata Sisil sambil menarik tangan gua menjauh dari kerumunan anak2 disana.
"Memangnya ada berita apaan sih, kok sepertinya lu khawatir banget kalau gua kesana." Protes gua sedikit curiga dengan perlakuan sisil yang beda.
"Inggak kenapa2 sih. Oh iya, gua baru ingat kalau gua belum belajar nih semalam. Gua mau lu ajarin gua dong rumus fisika yang di ajarin ibu leli minggu lalu." Lanjut sisil seolah ngalihin pembicaraan kami. 
"Lah tumben-tumbenan sisil mau minta diajarin sama gua, biasanya kalau masalah fisika kan, dia juga jago. Apalagi dia itu yang merupakan siswa terpintar ketiga di angkatanku, alias juara tiga umum. Gak mungkin banget" fikirku sedikit curiga. Tapi walaupun begitu, gua memilih untuk menurut saja dengannya. Soalnya gak lucu kan, pagi-pagi gini gua sama sisil sudah berantam.

***

Akhirnya kami pun menuju ruangan ujian kami. Kebetulan ruanganku dan sisil sama, cuman tempat duduk sisil sedikit terpisah jauh dariku, yang berada di belakang paling pojok ruangan. Tidak seperti tempat dudukku yang berada dibarisan kedua paling depan.

Gua sih gak masalah, selagi masih satu ruangan dengannya. Lagian walaupun dia dekat dengan gua, kita kan gak bakalan saling nyontek juga kok, walaupun yaaa, ngintip ecek2 bisa juga sih??? Hehahahahahaha...

"Inggak deng becanda"

Belum juga sekitar 10 menit gua dan sisil berada di dalam kelas, tiba2 Pahmi datang masuk keruangan kami.

"Mit, boleh aku ajak bicara sebantar?"

Baru juga pahmi ingin mengajakku keluar, bell tanda masuk sekolah pun sudah berbunyi.

"Aduh, udah bell nih, gimana kalau habis ujian saja." Saranku.
"Yaudah" jawabnya kecewa.

Sebenarnya ada apa hari ini? Mading, sikap sisil yang sedikit aneh, terus sama ajakan Pahmi yang terlihat lain dari biasanya. Apakah ini semua ada hubungannya dengan omongan kak Rama kemaren??

Gua teringat sama omongan kak Rama sabtu kemaren, yang membuat gua tanda tanya besar.

"Tapi apa???" Fikirku.

***

"pagi anak2, seperti biasa sebelum ...."

Lamunanku tersedar setalah seorang guru pengawas, seperti biasa memberikan aturan main sebelum ujian dimulai.

Dan kak Rama dengan cueknya baru saja masuk dan duduk disebelahku.

Sebelumnya dia memberikan sebuah senyuman nakal dan kata2 yang menurut gua gak penting untuk di ucapkan.

"Semangat ujian ya dedek cantik, semoga kamu jadi juara sekolah lagi."
Kata kak rama sok imut

"Yuuu, please deh. Ngomongnya jangan sok imut-imutin gitu. Gak malu apa sama muka." Batinku kesal.

***

Ujian pertama hari ini adalah ujian fisika. Ujian yang kebanyakan orang sangat susah untuk dipecahkan. Tapi tidak bagi gua, yang sangat menyukai pelajaran ini. Gua pun mulai menggores2 kan ujung pulpen gua, sambil mengingat rumus yang semalam gua pelajari.

Begitu pun dengan kak Rama, yang saat ini duduk di sampingku. Kali ini dia nampak serius dalam menjawab soal ujian yang ada di tangannya.

Bersambung.....

Tinggal dikit lagi nih....

Kutunggu kau di palaminan nanti 7

Yeeeeee.. lanjut lagi ya...

****************************************

"Apa? Pahmi suka sama bau parfum gue??"

***

Hari ini gua masih gak percaya kalau tadi sebelum gua ninggalin pahmi di koridor toilet sekolah, dia mengucapkan terima kasih karena jaket miliknya gua nyemprotin parfum kesukaan gue.

Rasanya senang banget dapat pujian kayak gitu darinya. Padahal tadinya, gua cuman iseng nyemprotin parfum gua ke jaketnya sebelum gua masukin tuh jaket ke dalam tas gua.

"Woiii, kenapa lu?? Kok senyum2 sendiri."
Kata Sisil mirip jelangkung yang tiba2 nongol di depan gua.
"Inggak kenapa2 kok, gua senang aja karena hari ini gua dapat uang tambahan dari nyokap" ucapku bohong.
"Yee, kirain ada apaan. Oh iya, lu dah tau belum kita satu ruangan sama kelas mana?" Lanjut Sisil.
"Belum, emangnya sama kelas apa?" Tanyaku sok antusias
"Sama kelas XII-IPA 5." Jawab Sisil memalas. Sama kayak gua yang gak bersemangat sama sekali setelah menerima kabar buruk itu.

***

Hari ini kebetulan adalah jadwal pembagian kelas untuk ujian semester di SMA gua. Dan kebetulan semester kali ini, kelas gua di satuin sama kelas XII-IPA 5 yang terkenal sangat buruk. Apalagi kelas tersebut adalah kelas yang motabennya dari anak2 kalangan atas (anak-anak orang kaya.) Jadinya kakak-kakak senior yang belajar di sana adalah siswa/i yang lebih mementingkan popularitas daripada pendidikan. Tidak salah kalau Miska salah satunya siswa yang derada di kelas itu.

Selain itu kelas XII-IPA 5 juga terkenal sebagai siswa pemegang rekor nilai rata2 terendah setelah XII-IPS 5, di angkatannya. Jadi tidak heran kalau gua waktu itu pernah di panggil bu leli sebagai pengajar mata ajar fisika buat membantu mereka untuk ngerjain soal yang menurut gua tidak terlalu susah dikalangan kelas tiga seperti mereka.

***

Sebenarnya ada satu siswa yang merupakan seorang mantan pemegang juara umum di angkatannya, karena perilakunya yang minim,  dia di pindahin ke kelas yang sangat di hindari oleh guru2 sekolah gua ini. Siapa lagi kalau bukan kak Rama.

Tapi saat itu kak Rama lebih memilih cabut untuk main basket dilapangan dari pada belajar di dalam kelas.

"Dasar kak Rama, sekolah sudah kayak miliknya aja. Untung gua gak mau jadi pacarnya dulu. Kalau sampe kejadian, ih, gak tau lagi deh nasib gua kayak apa."

Batinku, geli setelah mengingat ulah kak Rama satu tahun lalu yang selalu gangguin dan ngajakin gua pacaran.

***

Setibanya di ruang 7, (nama ruangan gua menjalani ujian.)
Gua pun menuju meja yang ada di barisan ke dua dari depan ruangan itu.

"Loh, kok kak Rama duduk di sebelah gua sih?". Gumamku bingung, begitu melihat photo kak Rama berada di pojok kanan meja ujian gua.
"Memangnya kenapa, Gak suka?" Jawab seseorang yang tak lain adalah kak Rama sendiri yang saat ini sedang berdiri di belakangku.
"Eh kak Rama, maaf kak, aku gak bermak."
"Gak apa2 kok, lagian wajar aja lagi, siswi secantik dan terkenal seperti lu itu gak tau nama asli gua. Makanya lu agak bingung gitu kan kalau nama lu yang dari L, bisa satu meja dengan gua yang lu taunya berinisial dari R" jawabnya setelah memutus omonganku. Dan saat ini kak Rama dengan senyuman devilnya.

Sebuah senyuman yang menurut gua kurang bersahabat, dan mengingatkanku pada senyum seseorang.

"Tapi siapa ya..." ucapku dalam hati, seolah mengingat2 senuman itu. Tapi apa boleh buat, karena gua tidak bisa mengingat sama sekali.

Sekarang ini dia tengah memandang gua dengan sedikit horor. Dan jujur, membuat gua sedikit risih dan takut.

"Lu gak usah takut gitu kali LUNA SASMITA. tapi, sebelumnya gua kasih tahu dulu kali ya nama lengkap gua biar kita sama2 adil."
"Nih, perkenalkan nama gua, Lingga Rama" Kata kak Rama yang seolah bisa membaca pikiranku. Dengan gaya sok kerennya yang memuakkan itu.

"Oh iya, lu sekarang dekat sama Pahmi ya, gak heran juga sih kalau seorang Pahmi yang gak jauh kerennya sama gua bisa nakhlukin cewek secantik kamu. Dan gua yakin, misi dia pasti berhasil."
"Misi? Maksud kakak misi apaan ya??" Tanyaku sedikit bingung dengan maksud kak Rama.

Manun kak rama hanya nyengir kuda. Sebuah senyuman yang tidak bisa gua tebak maksudnya apa, tapi yang jelas, senyumannya itu membuat gua merasa tidak nyaman sama sekali.

Tanpa mempedulikan kebingungan gua, kak Rama pun langsung pergi ninggalin gua, yang sedang terdiam seorang diri di dalam kelas.

Bersambung....

Kutunggu kamu di palaminan nanti 6

Lanjut lagiii....
Semangat mambaca ya....

******************************************

Hari yang cerah seiring udara dingin dibalik sang pacar mulai menampakkan senyumannya menyambut.

Aku masih saja menarik selimut tebalku, padahal AC di kamarku sudah kumatikan, namun dingin yang kurasakan seolah menusuk tulang yang dibaluti tubuh mungilku ini.
Mungkin ini akibat hujan tengah malam tadi. Jadi aku masih terbuai oleh kehangatan selimut dan kelembutan bantal yang menempel ditubuhku.

***

"Non, non Mitha, sudah pukul 06.00 pagi lho non. Non gak berangkat ke sekolah??" Panggil bi inem pembantu yang bekerja dirumahku.

Mendengar suara bu Inem, gua langsung terbangun dari tempat tidur dengan sempoyongan karena di kejar waktu.

Gua memang sering kesiangan atau bahkan telat nyampe ke sekolah. Tapi please tuhan tidak untuk kali ini, soalnya guru piket hari ini adalah pak Sapto. Sudah berapa kali gua telat di jam piketnya, bisa2 gua kena tegor dan mendapat surat pernyataan.

"Ooooh Noooo...!"

Tuh kan, lagi2 gua lebay.

***

Singkat cerita, ternyata tuhan sedang sibuk, jadinya gua pun telat juga sampai ke sekolah karena Saat ini gerbang sekolah sudah tergembok.

Lagi-lagi gua harus memakai jurus pemikat paling jitu untuk pak Wawan selaku satpam sekolah kami.


"Pak ganteng, tolong bukain pintu gerbangnya dong?"
"Aduh non, bukannya bapak gak mau buka, tapi kali ini bapak gak bisa" jawab pak Wawan memalas.
"Udahlah pak, please bantu aku, aku bakalan beliin bapak bakso deh, sebanyak yang bapak mau. Suer deh ✌" tawarku sedikit cengiran.

Kali ini, demi terhindar dari pak Sapto gak apa2 deh ngeluarin banyak uang jajan buat pak Wawan. Lagian dia kan sering bantuin gua kalau lagi telat.

"Gak usah repot2 buat beliin pak wawan bakso. Karena saya bakalan panggil orang tua kamu ke sini. Teriak suara macan (upps, sorry maksud gua suara pak Sapto). Tiba2 yang keluar dari dalam pos satpam.

"Nyeeet.." gua sampe menelan ludah begitu melihat pak Sapto dengan wajah sangarnya.

Apa gua bilang, guru yang satu ini memang niat banget kalau lagi kerja. Padahal ruginya apa coba cuman biarin gua masuk ke kelas. Toh, gua juga gak bakalan lapor ke kepsek juga kok.

Tapi ya sudahlah, mungkin sudah tabiat guru yang satu ini, senang melihat gua menderita. Tapi bukan sisil namanya jika tidak mencoba, karena gua masih belum kehilangan akal.

Seinggaknya kalau berekting sedih, pak Sapto bisa dibiarin gua lolos dari surat panggilan orang tua, yang sangat memalukan itu.

Dan al hasil tuhan masih saja sibuk. Jadinya gua harus menerima surat panggilan untuk orang tua gua setelah berbagai macam hukuman yang gua terima.

Setelah semuanya usai, gua diam2 kabur ke kelas. Sebelumnya gua ke toilet sekolah, membasuh tangan gua yang bau sampah ini.

"Mit, kamu dari mana aja kok bisa kesiangan ke sekolah?" Panggil Pahmi yang juga baru keluar dari dalam toilet.
"Anuuuu, gua tadi habis ada masalah sama mobil gua, makanya gua tumbenan banget telat."
"Oooh, gitu ya. Tapi bukannya memang kamu dah kebiasaan telat?"
Ucapannya barusan membuat gua mingkam.

Emang benar sih, dan yang lebih parahnya lagi, kalau dia sudah tau kalau gua ini sering telat ke sekolah.

"terus maksudnya apaan coba barusan? Apalagi dengan cara dia melihat gua tadi, seolah ngeremehin gua banget. Sumpah gak bisa terima. Dan mulai hari ini gua bakalan janji, dan buktiin ke dia kalau gua gak akan kesiangan lagi" janji Mita.

***

@author prov.

Saat ini, Mita Membeku ditempatnya. Sementara Pahmi meninggalkannya dengan senyum devil, seolah puas ngerjain gadis pujaannya itu.

Namun, sebelum pahmi menjauh dari Mita, gadis itu memanggilnya.

"Pahmi, tunggu!"
"Iya, kenapa?" Kata pahmi menoleh ke arah Mita.
"Gua.., gua cuman mau balikin jaket yang lu kasih pinjam ke gua. Nih" ucapnya lagi sambil ngulurin jaket berwana biru.
"Lu gak usah khawatir, soalnya jaket lu sudah gua cuci bersih kok, sebelumnya makasih ya." Lanjutnya.

Saat berduaan seperti ini, Mita berusaha tenang agar tidak terlihat kaku, didepannya.

Gak lucu kan kalau dia sampe tau jika Mita sedang gerogi saat ini.

Belum lagi detak jantung Mita, semakin gak karuan. Akhirnya gadis itu langsung buru2 pergi ninggalin Pahmi disana.

Bersambung...

Kutunggu kau di pelaminan nanti 5

Seturunnya dari kamarku barusan. Gua langsung ke dapur karena tenggorokan gua terara mulai retak kekeringan.

"Sawah kali ah..." hehahaaa

Dan sehabis dari dapur tadinya gua langsung kembali ke kamar untuk mengambil Iphone Milikku.

Sebelum itu, gua masih sempat melirik ruang tamu. Tampak jelas disana mamah dan papah lagi asyik bernesraan. Layaknya dua remaja sedang di landa cinta (alias bernostalgia gitu deh, mengingat masa2 pacaran mereka dulu.) Intinya gua merasa iri melihat mereka yang bermesra-mesraan seperti itu.

"Mereka gak mirikin aku apa, yang lagi menjomlo" batinku.

"Daripada gua terus terbawa emosi, mendingan gua menuju kamar untuk membuka aplikasi FB, twitter, BBM ataupun aplikasih lainnya. Daripada gua jadi kambing congek gini." Batin Mita lagi.

@Author prov*

Akhirnya Mita berlahan melangkahkan kakinya meniki tangga menuju kamarnya. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara, karena takut mengganggu mamah dan paphnya. Namun suara pria paru baya, terpaksa menghentikannya.

"Mit, kamu kesini dulu nak." Panggil papahnya.

Yah.., akhirnya saat ini Mita tengah duduk di tengah mamah dan papahnya. Tanpa Raffa disana.
Mingkin dia memilih untuk duluan masuk ke dalam kamarnya dan asyik bermain game online di komputer miliknya.
Dan gua rasa, alasan itu pasti membuat Raffa kenapa jam segini memilih untuk tidur pada saturday night hari ini, lebih cepat dari biasanya.

"ada apaan pah, mah" jawabku setelah duduk ditengah mamah dan papah.
"inggak kenapa2 kok nak, kita hanya kangen aja pengen ngobrol sama kamu. Lagian akhir2 ini papah sama mamah kan sering sibuk, sampe gak ada waktu banyak buat ngobrol sama kalian." Jawab papah.

Gua memang harus akuin apa yang di bilang papah barusan. Akhir2 ini papah dan mamah sedikit lebih sibuk dengan kerjaan mereka. Sampai gua dan Raffa merasa kurang di perhatiin seperti ini.

Gua sih masih bisa maklum, Tapi Raffa yang masih kecil seperti itu apakah mau mengerti dengan kondisi keluarga gue sekarang? Jawabannya hanya "maybe" Karena gua sendiri tidak tahu dengan perubahan sikap adik gua saat ini.

"Oh iya Mit, umur kamu kan sekarang sudah 16 tahun, kamu sudah punya pacar belum?"

Pertanyaan Mamah barusan membuat jantung gua kaget seketika.

"Apa maksud mamah menanyakan hal itu..? Fikirku.

Apakah mamah, bisa membaca perubahan sikap gua akhir2 ini ya? Batinku sedikit parno dan menganggap mamah musuh buyutnya mama lauren, yang bisa membanca jalan fikiran dan hidup seseorang. (Uuppsss sorry gua lebay.)

"Kok mamah nanya gitu?" Kataku mencoba tetap tenang.
"Karena tadi adik kamu cerita sama papah dan mamah, sewaktu dia lagi bangunin kamu, Katanya kamu lagi ngigo manggil2 namanya siapa tuh pah.."
"pahmi ma." Jelas papahku.
"Iya sih Pahmi. Kalau boleh tahu, Pahmi itu siapa sih nak?" Tanya mamah memperjelas.
"Tuhan... benar2 nih si Raffa, comelnya minta ampun. Gumalku dalam hati.

Sekarang gua benar2 merasa terjepit dengan pertanyaan yang keluar dari papah dan mamah. Mirip tersangka maling jemuran saja, yang sedang di introgasi sama pak polisi.

"Lah kok malah maling jemuran sih??"

Ya.., Mau maling apapun, tapi yang namanya penjahat kan kalau lagi di introgasi sama polisi tetap saja bikin bulu kuduk ini bangun.

"Pahmi? Oh itu sih, mah pah cuman teman sekolah aja kok pah mah." Jawabku sedikit gelagapan.

Rasanya wajah gua tiba2 memanas sangging gak tau mau ngomong apa lagi di depan bonyok gua.

"Papah sama mamah sih tidak melarang kamu buat dekat sama teman lelaki kamu, apalagi papah sama mamah juga dulu pernah muda. Asal kamu bisa jaga diri dan hijab yang kamu pakai aja. Dalam arti kalau wanita muslimah itu harus bisa menjaga batasannya antara mukhrim dan tidak mukhrimnya." Kata papahku dengan nasehat bijak persi beliau.

lagi-lagi gua hanya diam, namun sedikit legah setelah dengarin nasehat papah.
Setidaknya beliau inggak marah setelah mengetahui kalau gua habis mimpiin pahmi yang kedengarannya sangat tidak wajar untuk gua mimpikan karena dia bukan siapa2 gua.

"Ya, tuhan... apakah gua benar2 jatuh cinta sama pahmi yang seharusnya belum pantas aku cintai? Kalau benar, berdosahkah aku ini karena membuat allah cemburu??

Bersambung....

Kutunggu kau di palaminan nanti 4

Lanjut lagi ahh...

****************************************
Di Mall ini memang terdapat beberapa restoran untuk tempat pengunjung menikmati berbagai macam kuliner yang ada di lantai lima.

Makanya gua menganggap pertemuan kami memang cuman kebetulan. Tidak seperti Sisil yang ketakutan akan bayang2 cerita kanibal, pembunuh berdarah dingin yang sering kita tonton di DVD kamarku.

(Sisil Lebay😝😝)

"Kasihan si Sisil, kayaknya dia harus ketemu sama nyokap gua dulu deh, buat konsultasi masalah psikologinya itu."

Apa mungkin ini karena cinta Sisil yang bertepuk sebelah tangan terhadap Pahmi? Makanya sekarang berubah menjadi seorang hatters si
Pahmi dan menganggapnya seorang penjahat karena telah membuatnya broken heart untuk pertama kalinya?

"Gak tau lah. Biar Sisil, Pahmi dan tuhan aja yg tahu."

Tidak sepertiku yang sekarang ini, lebih sering mikirin Pahmi. Saat ini Hanya komitmen dan gengsi saja yang nguatin gua untuk tidak jatuh kepelukanya. Apalagi setelah gua tahu selera gua dan Pahmi itu banyak kesamaan.

Kemudian cara dia memuji gua sewaktu sedang memilihkan baju yang cocok buarku. Jujur membuatku seakan terbang, hingga langit ke tujuh pake baling2 bambunya doraemon.

(Doeaemon marah.. "woiiii.., kenapa nama gua dibawa2" 😈😈 upss..)

***

"Kakaaak.., banguuun!!" Teriak Raffa."
"Taii lu ya" kata gua kesal setelah telinga gua berhasil berdengung, dengan teriakan suara cemprengnya itu.

Bukannya minta maaf, tapi Raffa malah ketawa karena merasa puas sudah bisa membuatku marah.

"Dasar anak ini, selalu saja bikin gue kesal." batinku


Raffa adalah adik cowok gua satu-satunya. Saat ini dia sedang duduk di kelas dua SMP.

Aku dan Raffa hanya dua bersaudara. Sebagai anak sulung, gua sih sangat sayang sama dia. Tapi, sejak SMP ini sikap Raffa berubah jadi jail, tidak seperti waktu dia SD dulu yang terkenal sangat manis.

Nyokap sih bisa maklum dengan sikap Raffa, karena selain wataknya yang lembut, mamah juga seorang dokter spesialis jiwa.

Sementara papah. Setiap harinya kan sibuk ngurusin perusahaan, mana tau menahu akan hal itu. Apalagi Raffa anak cowok satu-satunya yg akan jadi penerusnya.

"Raffa, Raffa.! Mau jadi apa sih kamu dek, kok masih kecil aja sudah seperti ini" Gumamku setelah Raffa ninggalin gua kembali sendirian di dalam kamar.

***

Gua melirik ke arah jam wekker di atas meja lampu di samping tempat tidur gua. Ternyata saat ini sudah pukul 20.00 wib.

"Huuammm, masih ngantuk." Gumamku sambil menguap.

Akibat kecapean habis jalan ke Mall bersama sisil tadi siang, gua sampe ketiduran. Untung saja gua masih datang bulan, jadinya gua lagi gak sholat yang sudah menjadi kewajibanku sebagai seorang muslimah.

***

Gua bangun dari tempat tidurku, lalu mencuci muka di wastapel yang ada di samping pintu kamar mandiku. Setelah itu gua turun ke bawah menghampiri papah, mamah dan Raffa yang sedang asyik menonton acara ini talk show pavorit mereka.

Aku tahu, kalau mamah dan papah suka banget sama a'a sule dan kak andre kalau lagi tampil di TV. kata mereka, kak andre dan a'a sule, contoh salah satu pelawak yang cerdas.

***

"Kamu baru bangun nak?" Tanya papah lembut, penuh kebapaan setelah melihat gua sedang turun dari tangga.
"Iya pah," jawabku sekenanya.

Papahku bernama Herlambang Wijaya.
Dia seorang penghusaha sukses dan terkenal senusantara ini.

Papahku orangnya sangat baik, dan dia tipe lelaki romantis.

Gak salah memang, kalau mamah yang jadi primadona si kampusnya dulu, sampai terpikat dengan sosok papah yang pendiam dan super cuek.

"itu sih cerita mamah waktu itu."

Dan gua, gak pengen nyeritain itu semua ke kalian.
Jangan tanya kenapa. Soalnya gua juga gak tau kenapa.
Yang jelas gua malas, apalagi gak penting juga ngomongin masa pacaran orang tua dulu. bukannya kebapa ya, soalnya selain kalian takut ngiri nantiya, disini kan gua cuman mengangkat cerita tentang masa pacaran gua sama pahmi.

@author marah..

"Woiiii, ayo lanjutin.... kok malah curcol segala sih."

Oke lupakan soal yang gak jelas itu. Sekarang kita lanjutin aja lagi ceritanya.

Tapi sorry.. di pertemuan berikutnya tapi. Hehahahahahaaa....

Bersambung...

Kutunggu kau di pelaminan nanti 3

Lanjut lagi ya....
sorry kalau cerpennya gajebo. Hehahaaa
******************************************

"Maksudnya Sisil apa ya?"

Gumal gue dalam hati yang bingung begitu mengingat perkataan Sisil di dalam toilet sekolah beberapa hari lalu.

Flasback on

"Lu mungkin gak bisa liat kalau Pahmi suka sama lu. Tapi, gua bisa tau kalau dia sudah jatuh cinta sama lu"

Flasback off

***

Sehabis kejadian yang gua alami di kantin beberapa hari yang lalu, gua mengajak Sisil ke tolilet sekolah buat meriksa keadaan rok gua.

Disana gua sangat kaget setelah mendengar ucapan Sisil yang menyatakan kalau Pahmi naksir sama gua.

Jujur, ini pertama kalinya gua merasa gerogi di depan cowok, dan kalau di liat2, pahmi itu kayaknya memang benar-benar tulus, beda sama cowok lain. Dan gue sejak awal sudah merasa nyaman sama dia.

"Apa mungkin gua sudah salah telah menganggap dia sebagai musuh gua. Padahalkan selama ini, dia sangat baik sama gue."

Sekarang gue jadi merasa bersalah karena selama ini gue kurang ramah ke Pahmi.

"Ya tuhan, kenapa jadi begini sih" Batinku

***

Sepulang sekolah, gua mencoba belajar sekedar mengulang pelajaran gue diayunan dekat kolam renang yang ada di bekalang rumah.

Mengingat tinggal seminggu lagi, ujian semester di sekolah akan segera dimulai.

Tapi entah kenapa, sudah kurang lebih 20 menit mengobrak abrik buku paket fisika gue, satu pun tidak ada yang menempel di otak gua ini.

"Kenapa sih gua susah banget konsentrasi?" Hujatku.

Jujur gua sangat benci dengan moment2 seperti yang gua alami beberapa minggu ini. Seperti dek dekanlah, senyum2 sendirilah, berbunga2 lah, jatuh cin..

"What..?? apa gua sedang jatuh cinta??"
"Tidak.! Ini tidak boleh terjadi." Tegasku.

***

Merasa takut stess sama apa yg gua alami akhir-akhir ini, gua pun langsung nelpon Sisil. Seperti biasa, walaupun Sisil terkadang nyebelin tapi dia selalu setia nemanin dan dengarin curhatan gua.

Kebetulan Sisil juga lagi gak ngapa2in, makanya sehabis telponan sama dia, kami pun langsung janjian di tempat biasa di sebuah mall daerah Jakarta selatan yang tidak terlalu ramai untuk sore hari seperti saat ini.

Tanpa pikir panjang, setibanya ditempat butik muslimah langganan gua. Gua pun langsung belanja busana muslim tebaru.

Biasanya kalau sudah shoping seperti ini, gua sedikit bisa hilangin suntuk yang mumet di otak gua. Bahkan saking semangatnya, gua jadi gak sadar udah milih banyak baju, dan mencobanya disalah satu kamar ganti. Harga baju per pasang sebenarnya tidak terlalu mahal, cuman karena gua masih pelajar, jadinya gua harus hemat.

Setelah gua coba semua baju yang gua pilih, gua merasa suka dan merasa pas di badan gua. lagi lagi bukannya senang, gua malah jadi bingung. Sebagai sahabat, Sisil ikut membantu gua memilih baju mana yang harus gua ambil. tapi entah kenapa gua gak setuju sama pilihan dia, sampai dia kesal sama gua.

"Udah, ah.! Gua gak tau lagi mau bilang apa, selain kata gua yang ini."
"Apa?"
"lu beli aja tuh semua baju."
"Ya, kali baju sebanyak ini gua beli. Nanti kalau mamah sama papah gua nanyain gimana? Mereka bisa marah besar sama gua."
"Terus mau gimana lagi Kalau gak kayak gitu. Lu mau kita sampai kapan di dalam butik ini. Sekarang udah hampir mau magrib lho Mit." Kata sisil geram sambil menoleh ke arloji miliknya.

Aku hanya bisa terdiam melihat Sisil mulai ceramah kayak mamah dedeh persi gagal.

Sampai akhirnya seseorang datang menghampiri kami.

"Perlu aku bantuin gak?" kata si empunya suara.
"Pahmi?" Bisik gua kaget yang merasa sudah pamiliar dengan suara itu.

Dia tengah berjalan mendekat ke arahku sambil mengecek beberapa baju yang ada di tanganku.

"Kok lu bisa ada disini?" Tanya Sisil yang sama2 kaget sepertiku.
"Emangnya kenapa? Bukannya mall ini tempat umum ya?" Jawab pahmi ketus.
"Bukan begitu Pahmi maksudnya Sisil, mungkin karena kebetulan aja kali ya, kita bisa ketemuan disini. Jadinya Sisil agak kaget gitu." Ucapku berusaha nengahin.

"Itu tadi karena aku habis bantu-bantu di restoran mamah aku di lantai 5. Dan ini tadi rencananya pengen pulang. eh, kebetulan aku lewat dan malah ngeliat kalian berdua lagi belanja. Yaudah, aku samparin aja deh."
"Ooh, gitu ya.! Jawabku dengan mulut berbentuk O.

Bersambung.....

Senin, 25 April 2016

Kutunggu kau dipelaminan nanti 2

Bagian... dua.

Langsung aja deh....

******************************************
Pahmi berasal dari Solo, dan dia satu kelas denganku.

Memang semenjak Pahmi bergabung di kelasku, dia selalu saja merebut start, menjawab kuis dari guru yang mengajar di kelas kami sebagai kelas XI-IPA 1(kelas unggulan).

Dan entah kenapa gua merasa itu adalah ancaman buatku.

"Mit, lu kenapa sih? Kok akhir2 ini gua perhatiin, kok lu itu sering banget ngelamun?" Kata Sisil yang tiba-tiba ngagetin gua, karena dari tadi tengah duduk sambil termenung di sampingnya.

"Gua gak kenapa2 kok Sil, cuman malas aja ngapa-ngapain." Jawabku sekenanya.

"Ooh, tapi...."

Omongan Sisil tiba-tiba di potong oleh seorang cowok, yang sedang duduk di belakang kursi kami.

"Hay Mit, kamu dah makan belum? Kalau belum, ke kantin bareng aku yuk." Ajak Pahmi.

"Sorry deh Pahmi, gua masih kenyang nih, kalau mau kekantin, lu duluan aja deh" jawab gua datar.

***

Entah kenapa, setiap gua ketemu sama Pahmi akhir2 ini, gua merasa gak suka sama perlakuan dia yang sok akrab dan sok ramah itu.

Baru juga sekitar tiga bulan ini dia resmi sebagai siswa baru  di SMA gua, dia sudah terkenal sebagai cowok idola yang super cuek setelah kak Rama, yang merupakan salah satu kakak senior pembuat onar di SMA gua.

(Bagi gua, cowok idola itu semuanya playboy 😈😈😈.)

Apalagi gua merasa aneh aja sama tingkahnya, yang selalu saja berusaha kasih perhatian ke gua. Dia kan tahu, kalau gua itu paling anti sama yang namanya cowok, apalagi cowok yang suka modus seperti dia, menurut gua sih, mending kelaut aja.

***

"Mit, lu kenapa sih, cuek banget sama si Pahmi. Dia itu kan sudah ganteng, baik, pintar, jago main basket, ker......"
"Yayayaya.. whatever lu mau ngomong apa soal pangeran kodok lu si Pahmi itu." Jawabku memotong pembicaraan sisil yang semakin gak jalas itu.

"Lah, kok jadi pangeran gua sih.??" Bantah Sisil bingung.

"Ya iyalah pangeran lu. Memangnya gua gak tau apa, kalau lu itu naksir sama dia, sampe lu mau mutusin pacar-pacar lu buat dapatin dia kan?"
"Kok lu bisa tau."
"Ya taulah, apasih yang inggak gua tau dari lu Sisilia Wiryanda."

***

Dari pada gua terus berdebat sama Sisil soal cowok yang gak penting itu, mendingan gua langsung ajak Sisil ke kantin aja deh buat makan siang. Lagian dari tadi pagi gua juga kan sebenarnya belum sarapan. Dan terus terang, sekarang perut gua pun sudah mulai kerasa sakit. Belum lagi gua sedang PMS, jadinya dari pada gua emosi terus khilaf, (nelan Sisil hidup-hidup)

"Astaghfirullah.. πŸ˜‡πŸ˜‡ ibu peri kan gak boleh jahat" (sok imut.)


Akhirnya, gua sama Sisil pun sekarang berada di kantin.

***

Untung saja tadi pas kami tiba di kantin, ada dua siswa langsung pergi ninggalin kantin sekolah yang selalu ramai tiap harinya itu. Jadinya gua sama Sisil gak harus ribet buat nyari tempat duduk deh.

"Sil, lu tunggu di sini ya, gua mau mesan makanan dulu buat kita."
"Oke deh" jawab Sisi sambil ngacungin jempolnya.

Ketika gua bangkit dari kursi gua, tiba-tiba...

"Hay guys, kayaknya ada yang lagi bocor tuh, sampe merah-merah gitu" teriak Miska salah satu cewek narsir yang merasa idola dan selalu cari masalah di sekolah gua. Termasuk juga sama gua. Mungkin, dia mikirnya kalau gua ini saingannya kali ya.

Mendengar celotehan dari si Miska, gua yang sadar akan maksudnya itu pun panik dan duduk kembali ke kursi tempat gua tadi, ngediamin murid lain yang sibuk ngetawain gua.

"Aduh Sil, gimana nih? Gua gak sadar kalau rok gua tembus."
"Tenang dulu Mit, lu jangan panik dulu, kalau lu panik gitu, gua jadi gak bisa mikir nih." Jawab Sisil gugup.

Sedangkan gua merasa sangat malu, saking malunya gua hanya bisa nunduk nutupin muka gua dan gak sadar kalau pahmi sedang berdiri dibelakang gua.

"Kamu tutupin pake ini aja nih."

Pahmi yang dari tadi ternyata duduk tidak jauh dari tempat gua dan sisil, saat ini tengah nyodorin gua sebuah jaket biru.

"Kamu ikat aja jaket ini kepinggang kamu, buat nutupin rok kamu itu." Ulang pahmi begitu melihat gua cuman melotot dan wajah memerah menahan malu.

"Ya tuhan... habis mimpi apa sih gua semalam, sampai gua harus ngelewatin momen alakawar seperti ini. Bunuh saja gua tuhan" kutukku dalam hati.

Bersambung....