di masa SMA
Rabu, 11 Mei 2016
Kutunggu kau di pelaminanabnanti 10 C
Haiii guysss... gimana menurut kalian.. makin seru gak??
Lanjut lagi ya.....
Author prov..
Hari ini Rama senang banget mengingat bentar lagi MISInya bakalan berhasil. Nyatanya Pahmi sudah bisa mendekati Mita. Tepatnya setelah kejadian dikantin itu. Rama akuin cara Pahmi dekatin Mita waktu itu memang sangat pas. Mita saat itu pasti menganggap Pahmi sebagai super hero.
@ restoran
Tiba2 ponsel Rama berbunyi, dan ternyata ada pesan masuk di BBMnya. Pas dia buka, ternyata itu pesan dari pahmi yang memberitahukan kalau dia pengen ngajakin Mita dan Sisil main ke restoran keluarga mereka.
Rama yang juga ikut bantu2 disana, langsung panik dan buru2 ngumpet ke dapur. Dari sana dia mengintip Pahmi dengan manisnya melayani kedua cewek cantik itu.
"Wah, hebat juga ya si Pahmi, sampai bisa dekatin Mita." gumam Rama.
Sekitar 30 menit, akhirnya Mita dan Sisil pergi dari restoran. Mereka pamit kepada Pahmi.
Weisss hebat juga lu, udah bisa dekatin si Mita." Kata Rama setelah keluar dari tempat persembunyiannya.
Saat ini dia sudah duduk di samping Rama yang sedang malamun.
"Eh, kakak, baru nongol aja. Habis ngumpet dimana?" Jawab pahmi berusaha senyum.
Yah, sebuah senyum yang di paksakan.
"tadi gua ngumpet di dapur. Btw, lu kok bisa jalan ama mereka? Dua2nya lagi." Komen Rama seolah tidak mau tahi dengan apa yang di rasakan oleh sang adik.
"Itu tadi gua nyamperin mereka di butik muslimah, langganan mamah." Jawab pahmi memelas.
Melihat itu, Rama menjadi heran dengan sikap sang adik.
"Btw, kenapa lu, kok jadi malah gak bersemangat gitu. Bukannya lu senang bisa dekatin Mita, itu kan berarti MISI kita berhasil dong bro" kata gua begitu melihat Pahmi kurang bersemangat.
Akhir2 ini, gua merasa ada yang aneh sama pahmi.
"Gua takut kak, kalau sampe ketahuan sama Mita dan nyakitin hatinya." Jawab Pahmi sedih.
Tanpa sadar, ternyata Pahmi sudah bermain api sama Mita dan membuatnya mulai takut kehilangan gadis itu.
mendengar ucapan sang adik, jelas saja Rama tidak ingin Pahmi sakit hati, sama kayak dia dulu yang telah begitu jauh mencintai wanita yang jelas-jelas tidak mencintainya. Bahkan wanita itu tega bernesra-mesraan di depannya waktu itu.
Membayangkannya saja, membuat Rama merasa emosi.
Apalagi rama tahu jika Mita juga pasti tidak akan nerima Pahmi kalau sampe Pahmi ngajakin dia buat pacaran.
Bukan karena mita cewek yang jahat seperti laura, tapi karena Rama tahu tipa wanita yang tidak mau yang namanya pacaran. Melainkan dirinya hanya menginginkan seorang suami, yang halal di mata hukum dan agama.
Lantas, yang menjadi pertanyaan, apakah Mita mau menikah di usia mudah?
Tentu saja jawabannya tidak. Karena gadis itu tipikal yang menjunjung tinggi akan pentingnya pendidikan.
Saat ini Rama merasa dilema.
@Rumah..
Rama prov...
"Lu harus melupakan perasaan lu terhadap Mita" kataku terhadap pahmi.
"Memangnya kenapa kak? Apa karena kakak juga suka sama dia?"
"Bukan karena itu dek, tapi gua gak mau nanti lu sakit hati karena cinta lu nantinya bertepuk sebelah tangan."
"Kenapa kakak bisa seyakin itu Haaa!!"
"Karena gua tau kalau dia itu tipe cewek yang memegang komitmennya."
"Terus kalau sudah tahu seperti itu, kenapa kakak menyuruh aku buat dekatin dia? Apakah ini yang kakak mau? Kalau aku bisa jatuh cinta sama dia, tapi akhirnya biar merasakan sakit hati, seperti kakak dulu? Iya kan?"
Gua hanya diam, tidak bisa berkomentar apa lagi. Gua merasa sangat bodoh, karena telah menjerumusin adik kesayangan gua untuk sakit hati karena cinta.
Gua yakin, kalau pahmi benaran cinta pada Mita, bahkan gua bisa melihat ada butiran air mata keluar dari mata sayunya itu.
"Dek, gua minta maaf. Gua udah bikin lu jadi seperti ini, tapi gua janji kalau lu memang benar2 suka sama dia, gua bakalan bantuin lu buat dapatin Mita." Kataku padanya.
Yah, kali ini gua bakalan berusaha membuat Mita bisa di miliki Pahmi. Gimanapun caranya.
Bersambung.....
Bagian 13
Author prov..
Mita baru saja selesai sholat magrib, yang hanya dilakukan seorang diri di dalam kamarnya. Tidak seperti biasanya ketika mamah dan papahnya bisa ontime tiba di rumah seperti sekarang, dia pasti akan selalu melakukan sholat berjamaah di musholah pribadi di lantai dasar rumahnya itu, yg memang disediain untuk para tamu dan keluarga besar wijaya pastinya.
Itu semua karena kejadian siang tadi. Jadinya sekarang ini Mita kurang bersemangat menjalani aktivitasnya. Berbeda dari biasanya yang selalu hidup penuh keceriaan.
Mita kembali tersungkur di atas tempat tidurnya. dia seolah lupa, kalu ujian semester masih harus hadapinya. Sepertinya kagalauan yang ia rasakan membuat mita ingin segera bertemu pahmi, dan meminta penjelasan atas kejadian ini semua pada darinya.
"Pokoknya besok gua bakalan ngomong sama pahmi" gumam Mita geram.
Ketika mita sedang sibuk membayangkan hari esok, tiba2 seseorang mengetok pintu kamar mita.
"Non ini bibi bawain non makan malam" ternyata bi inem pembantunya sedang membawakan mita makanan.
"Iya bi, bentar" jawab mita memelas dengan suara serak khas orang habis nangis.
Pintu pun membuka pintu dan membiarkan bi Inem masuk ke dalam kamarnya.
"Non gak kenapa-napa kan?" Tanya bi inem khawatir.
Sejak kejadian siang tadi, bi inem tau kalau Mita bakalan malas buat turun ke bawah. Makanya bi inem berinisiatif mengantarkan makan malam untuknya.
"Inggak kok bi, cuman masih kesal aja soal tadi sore." Jawabku seadanya.
"Kalau boleh bibi tahu, memangnya cewek yang gak sopan itu siapa sih? Temannya non Mita?"
"Dia itu kakak kelas aku disekolah bi, aku juga gak tahu kenapa dia sampe tau rumah ini." Jelasku
"Terus kenapa dia bisa marah2 gitu sama non? Padahal kan non setahu aku gak pernah ada musuh kan selama ini."
"Katanya aku sudah dekatin cowok incarannya dia, padahal cowok itu sendiri gak pernah suka sama dia. Dan bibi tau gak siapa cowok yang di bilang ama dia itu?"
"Siapa memangnya non?"
"Si Pahmi, cowok yang waktu itu pernah main ke sini." Jawabku menjelaskan.
"Walah walah, kalau gitu sih, berarti memang dianya aja yang ngarap buat dapatin Pahmi yang sebebarnya cuman naksir non." Jawab bi Inem sok bijak.
"Bibi bisa aja." Responku kurang bersemangat.
Entah kenapa menyebut namanya saja, hati gua merasa sakit.
Bi Inem juga belum tau, kalau ternyata Pahmi yang sudah membuat Mita sakit saat ini.bapalagi mengingat dia jadi bahan taruhan. Mita belum siap menceritakan secara gamlang.
Biarpun mita sering curhat tentang semua masalahnya pada bi inem, karena bi inem sudah bekerja dirumahnya sejak ia masih kecil sampe ia sekarang menjadi besar. Mita gak mau kalau bi inem ikutan sedih dengan kabar yang telah di terimanya saat ini.
"Gua sampe gak habis fikir, kenapa Pahmi sampai tega mainin gua kayak gini, apalagi di jadiin bahan taruhan. Rasanya gua seperti barang murahan yang tidak berguna." Batin Mita.
Saat ini ia kembali di tinggal seorang diri, karena barusan mamah memanggil bi inem menuju dapur.
"Tapi buat apa? Dan dia taruhan sama siapa? Apa ini ada hubungannya sama kak Rama juga?" lagi-lagi otak mita masih belum terima atas yang diteminya. Belum lagi sikap Pahmi yang terlihat sangat tulus dengannya.
***
Pukul 06.00 wib, gua pun akhirnya telah siap2 pergi ke sekolah. Kali ini, gua gak berniat mengemudi mobil seorang diri, makanya gua minta tolong sama bang panji, supir pribadi papahku gua minta diantarin dia ke sekolah.
@ gerbang sekolah
"Selamat pagi non, tumben diantar?" Tanya pak wawan satpam sekolah.
"Iya nih pak, lagi kurang enak badan, Jadinya kurang nyaman kalau nyetir sendiri"
Pak wawan sudah kenal dengan keseharian mita yang selalu gembira, merasa aneh dengan tingkah laku gadis itu hari ini.
Tapi sebagai satpam, dia sama sekali tidak mengurusi akan hal itu. Jadinya pak wawan cuman diam dan gak berani berkomentar apa-apa lagi.
***
mita prov..
Setelah pukul 10.00 wib, di dalam kelas. sejak pagi tadi, gua sengaja gak ketemu pahmi. Begitu pun dengan kak Rama, gua sama sekali gak bicara denganya selama ujian berlangsung. sampai akhirnya gua merasa mantap untuk bertemu dengan pahmi dan meminta penjelasannya tentang kenapa dia sampai membuat gua jadi bahan taruhannya dan apa motivasinya sampai tega ngelakuin ini semua terhadap gua.
Sekarsng gua tengah menuju halaman belakang sekolah, dimana gua meminta pahmi menemuiku. Tadi gua mengabarinya lewat pesan singlat di BBM 10 menitan tadi.
Setibanya disana, gua melihat pahmi tengah berdiri sedirian. Gua lihat dia sedikit gelisa menunggu kedatangan gua yang sedang bersandar di tiang teras belakang sekolah itu.
"Ada apa mith, kok tumben tiba2 kamu minta ketemuan?" Kata pahmi penasaran dengan gadis cantik di depannya itu.
Walaupun matanya seperti sedikit sembab, tapi di mata pahmi gadis itu tetap terlihat sempurna.
Bersambung.....
***************************
Haiii... haiii... jangan lupa komentarnya ya.
Mita baru saja selesai sholat magrib, yang hanya dilakukan seorang diri di dalam kamarnya. Tidak seperti biasanya ketika mamah dan papahnya bisa ontime tiba di rumah seperti sekarang, dia pasti akan selalu melakukan sholat berjamaah di musholah pribadi di lantai dasar rumahnya itu, yg memang disediain untuk para tamu dan keluarga besar wijaya pastinya.
Itu semua karena kejadian siang tadi. Jadinya sekarang ini Mita kurang bersemangat menjalani aktivitasnya. Berbeda dari biasanya yang selalu hidup penuh keceriaan.
Mita kembali tersungkur di atas tempat tidurnya. dia seolah lupa, kalu ujian semester masih harus hadapinya. Sepertinya kagalauan yang ia rasakan membuat mita ingin segera bertemu pahmi, dan meminta penjelasan atas kejadian ini semua pada darinya.
"Pokoknya besok gua bakalan ngomong sama pahmi" gumam Mita geram.
Ketika mita sedang sibuk membayangkan hari esok, tiba2 seseorang mengetok pintu kamar mita.
"Non ini bibi bawain non makan malam" ternyata bi inem pembantunya sedang membawakan mita makanan.
"Iya bi, bentar" jawab mita memelas dengan suara serak khas orang habis nangis.
Pintu pun membuka pintu dan membiarkan bi Inem masuk ke dalam kamarnya.
"Non gak kenapa-napa kan?" Tanya bi inem khawatir.
Sejak kejadian siang tadi, bi inem tau kalau Mita bakalan malas buat turun ke bawah. Makanya bi inem berinisiatif mengantarkan makan malam untuknya.
"Inggak kok bi, cuman masih kesal aja soal tadi sore." Jawabku seadanya.
"Kalau boleh bibi tahu, memangnya cewek yang gak sopan itu siapa sih? Temannya non Mita?"
"Dia itu kakak kelas aku disekolah bi, aku juga gak tahu kenapa dia sampe tau rumah ini." Jelasku
"Terus kenapa dia bisa marah2 gitu sama non? Padahal kan non setahu aku gak pernah ada musuh kan selama ini."
"Katanya aku sudah dekatin cowok incarannya dia, padahal cowok itu sendiri gak pernah suka sama dia. Dan bibi tau gak siapa cowok yang di bilang ama dia itu?"
"Siapa memangnya non?"
"Si Pahmi, cowok yang waktu itu pernah main ke sini." Jawabku menjelaskan.
"Walah walah, kalau gitu sih, berarti memang dianya aja yang ngarap buat dapatin Pahmi yang sebebarnya cuman naksir non." Jawab bi Inem sok bijak.
"Bibi bisa aja." Responku kurang bersemangat.
Entah kenapa menyebut namanya saja, hati gua merasa sakit.
Bi Inem juga belum tau, kalau ternyata Pahmi yang sudah membuat Mita sakit saat ini.bapalagi mengingat dia jadi bahan taruhan. Mita belum siap menceritakan secara gamlang.
Biarpun mita sering curhat tentang semua masalahnya pada bi inem, karena bi inem sudah bekerja dirumahnya sejak ia masih kecil sampe ia sekarang menjadi besar. Mita gak mau kalau bi inem ikutan sedih dengan kabar yang telah di terimanya saat ini.
"Gua sampe gak habis fikir, kenapa Pahmi sampai tega mainin gua kayak gini, apalagi di jadiin bahan taruhan. Rasanya gua seperti barang murahan yang tidak berguna." Batin Mita.
Saat ini ia kembali di tinggal seorang diri, karena barusan mamah memanggil bi inem menuju dapur.
"Tapi buat apa? Dan dia taruhan sama siapa? Apa ini ada hubungannya sama kak Rama juga?" lagi-lagi otak mita masih belum terima atas yang diteminya. Belum lagi sikap Pahmi yang terlihat sangat tulus dengannya.
***
Pukul 06.00 wib, gua pun akhirnya telah siap2 pergi ke sekolah. Kali ini, gua gak berniat mengemudi mobil seorang diri, makanya gua minta tolong sama bang panji, supir pribadi papahku gua minta diantarin dia ke sekolah.
@ gerbang sekolah
"Selamat pagi non, tumben diantar?" Tanya pak wawan satpam sekolah.
"Iya nih pak, lagi kurang enak badan, Jadinya kurang nyaman kalau nyetir sendiri"
Pak wawan sudah kenal dengan keseharian mita yang selalu gembira, merasa aneh dengan tingkah laku gadis itu hari ini.
Tapi sebagai satpam, dia sama sekali tidak mengurusi akan hal itu. Jadinya pak wawan cuman diam dan gak berani berkomentar apa-apa lagi.
***
mita prov..
Setelah pukul 10.00 wib, di dalam kelas. sejak pagi tadi, gua sengaja gak ketemu pahmi. Begitu pun dengan kak Rama, gua sama sekali gak bicara denganya selama ujian berlangsung. sampai akhirnya gua merasa mantap untuk bertemu dengan pahmi dan meminta penjelasannya tentang kenapa dia sampai membuat gua jadi bahan taruhannya dan apa motivasinya sampai tega ngelakuin ini semua terhadap gua.
Sekarsng gua tengah menuju halaman belakang sekolah, dimana gua meminta pahmi menemuiku. Tadi gua mengabarinya lewat pesan singlat di BBM 10 menitan tadi.
Setibanya disana, gua melihat pahmi tengah berdiri sedirian. Gua lihat dia sedikit gelisa menunggu kedatangan gua yang sedang bersandar di tiang teras belakang sekolah itu.
"Ada apa mith, kok tumben tiba2 kamu minta ketemuan?" Kata pahmi penasaran dengan gadis cantik di depannya itu.
Walaupun matanya seperti sedikit sembab, tapi di mata pahmi gadis itu tetap terlihat sempurna.
Bersambung.....
***************************
Haiii... haiii... jangan lupa komentarnya ya.
Haiii... haiii... udah mendekatin ending nih.. gua harap jangan jadi pembaca misterius ya, soalnya gua butuh komenbkalian.
****************************************
Mita prov..
Tidak terasa sudah tiga hari ujian sekolah berlanjut. Isu yang mengganjal selama hari pertama ujian lenyap begitu saja. Seperti halnya kedekatan gua bersama kak Rama dan Pahmi yang semakin hari semakin akrab. Semenjak gua tahu kak rama itu kakaknya Pahmi, gua pun semakin menemukan kemiripan diantara mereka.
"Yah, Senyum devil yang menyeramkan itu" fikirku.
***
"Mit, lu habis dari mana?" Tanya Sisil.
"Habis dari kantin sama Pahmi dan kak Rama juga" jawabku datar.
"Lu gak ketemu sama pak kepala sekolah?."
"Memangnya ada apa? Ada kabar penting ya?."
"Iya. Tadi pak kepsek bilang ke gua, jika selesai jam ujian nanti, kita bertiga diminta buat menghadap beliau" jawab Sisil menjelaskan.
"Ooh, pasti mau ngomongin soal masalah olimpiade bulan depan ya??"
"Yupsssss.." jawab Sisil singkat.
***
Bulan depan kebetulan ada lomba olimpiade tingkat nasional, dan yang terpilih mewakili sekolah, diantaranya gua, Pahmi dan Sisil.
Sebagai murid baru, Pahmi yang terkenal cerdas memang diberi kesempatan untuk menggantikan Tiara yang menurut gua tidak ada apa2 sebagai juara dua umum di sekolah. Dan kebijakan ini karena kepala sekolah, yang mendapat laporan dari pak Sapto, selaku guru matematika, katanya Pahmi selalu mendapat nilai 100 di mata ajar matematika berhak mengikuti olimpiade tingkat nasional tahun ini.
***
Setelah ujian selesai, kami bertiga pun menuju ruangan kepsek.
@ruang kepsek.
"Assalamualaikum, pak.??." kami bertiga serentak menyapa pak kepsek dari depan pintu, sudah mirip paduan suara sekolah saja.
"Waalaikum salam, oh iya kalian sudah datang rupanya, ayo silahkan masuk." Jawab pak kepala sekolah ramah.
Di usianya yang sekitar 45 tahun pak Hariyanto masih terlihat gagah dan ganteng.
Gak salah memang kalau pak hariyanto di juluki teacher keep smile.
Biasanya kepala sekolah itu, terkenal galak, dan sangar. Tapi tidak dengan yang satu ini, namun walaupun seperti itu pak hariyanto juga guru yang bijaksana.
"Jadi persiapan kalian sudah sampai dimana?" Kata pak hariyanto memecahkan ketegangan kami disana.
"Masih nyampe di blok M pak, shoping." Jawabku ngasal.
"Kamu ini mit, taunya shoping mulu." Kritik pak hariyanto.
"Hehahaha.., iyalah pak, namanya juga cewek. Kalau ke ring rinjukan itu kerjaan cowok." Jawabku lagi.
Pak hariyanto cuman geleng-geleng kepala saja.
"Tapi, setidaknya bapak bangga juga sih sama perubahan kamu belakangan ini"
"Maksud bapak perubahan soal apa?" Tanyaku bingung
"Perubahan soal kalau kamu sudah gak pernah lagi telat ke sekolah. Seinggaknya itu laporan yang saya terima dari pak Wawan.
Sementara gua cuman menggarut kepala gua yang gak gatal setelah mendengar ucapan pak hariyanto barusan.
"Tapi ini gak ada hubungannya sama gosib yang beredar di luaran sana kan? Soal kedekatan pahmi dengan kamu??"
"Nyeeeet..."
Rasanya lebih baik gua di suru bersihin kandang kuda selama seminggu dari pada harus mati kutu di godain pak kepala sekolah yang ternyata juga raja gosib sekolah.
Gosibnya sih gak masalah, yang jadi masalah adalah kenapa harus ada Pahmi disamping gua. Pasti saat ini dia senang ngelihat gua gak bisa berkutik kayak gini.
"Eheeeemmm," Pahmi mengehem di samping gua.
Tuh kan, apa lagi maksudnya pahmi barusan. Keselak biji salak kali ya"
"Kenap lu? Keselak batu?"
"Uuummm, inggak juga. Cuman tenggorokan gua kerasa gatal aja." Balas pahmi.
"Btw, ada masalah apa ya pak, sampai kita dipanggil kesini?" Tiba2 Sisil memecahkan ke kakuan gua.
Untung ada lu Sil, kalau inggak mungkin gua terkena serangan jantung juga kali ya. Batinku.
"Oh, anu.! Jadi bapak manggil kalian kesini karena mau ngasih materi tambahan buat bekal kalian belajar bareng di waktu jam di luar sekolah. Dan tadi ibu rani nitipin ini ke bapak." Kata pak hariyanto sambil memberikan satu jilid materi tambahan.
"Satu lagi, kalau untuk sementara ini kalian akan dibimbing sama pak Sapto, karena berhubung bu Rani satu minggu kedepan akan ada pelatihan ke luar kota." Lanjutnya.
"Apa???" Respon kami serentak kaget.
"Memangnya kenapa? Kok kelihatannya kalian bertiga kurang senang sama pak sapto ya??" Kata pak hariyanto aneh.
Bersambung....
****************************************
Mita prov..
Tidak terasa sudah tiga hari ujian sekolah berlanjut. Isu yang mengganjal selama hari pertama ujian lenyap begitu saja. Seperti halnya kedekatan gua bersama kak Rama dan Pahmi yang semakin hari semakin akrab. Semenjak gua tahu kak rama itu kakaknya Pahmi, gua pun semakin menemukan kemiripan diantara mereka.
"Yah, Senyum devil yang menyeramkan itu" fikirku.
***
"Mit, lu habis dari mana?" Tanya Sisil.
"Habis dari kantin sama Pahmi dan kak Rama juga" jawabku datar.
"Lu gak ketemu sama pak kepala sekolah?."
"Memangnya ada apa? Ada kabar penting ya?."
"Iya. Tadi pak kepsek bilang ke gua, jika selesai jam ujian nanti, kita bertiga diminta buat menghadap beliau" jawab Sisil menjelaskan.
"Ooh, pasti mau ngomongin soal masalah olimpiade bulan depan ya??"
"Yupsssss.." jawab Sisil singkat.
***
Bulan depan kebetulan ada lomba olimpiade tingkat nasional, dan yang terpilih mewakili sekolah, diantaranya gua, Pahmi dan Sisil.
Sebagai murid baru, Pahmi yang terkenal cerdas memang diberi kesempatan untuk menggantikan Tiara yang menurut gua tidak ada apa2 sebagai juara dua umum di sekolah. Dan kebijakan ini karena kepala sekolah, yang mendapat laporan dari pak Sapto, selaku guru matematika, katanya Pahmi selalu mendapat nilai 100 di mata ajar matematika berhak mengikuti olimpiade tingkat nasional tahun ini.
***
Setelah ujian selesai, kami bertiga pun menuju ruangan kepsek.
@ruang kepsek.
"Assalamualaikum, pak.??." kami bertiga serentak menyapa pak kepsek dari depan pintu, sudah mirip paduan suara sekolah saja.
"Waalaikum salam, oh iya kalian sudah datang rupanya, ayo silahkan masuk." Jawab pak kepala sekolah ramah.
Di usianya yang sekitar 45 tahun pak Hariyanto masih terlihat gagah dan ganteng.
Gak salah memang kalau pak hariyanto di juluki teacher keep smile.
Biasanya kepala sekolah itu, terkenal galak, dan sangar. Tapi tidak dengan yang satu ini, namun walaupun seperti itu pak hariyanto juga guru yang bijaksana.
"Jadi persiapan kalian sudah sampai dimana?" Kata pak hariyanto memecahkan ketegangan kami disana.
"Masih nyampe di blok M pak, shoping." Jawabku ngasal.
"Kamu ini mit, taunya shoping mulu." Kritik pak hariyanto.
"Hehahaha.., iyalah pak, namanya juga cewek. Kalau ke ring rinjukan itu kerjaan cowok." Jawabku lagi.
Pak hariyanto cuman geleng-geleng kepala saja.
"Tapi, setidaknya bapak bangga juga sih sama perubahan kamu belakangan ini"
"Maksud bapak perubahan soal apa?" Tanyaku bingung
"Perubahan soal kalau kamu sudah gak pernah lagi telat ke sekolah. Seinggaknya itu laporan yang saya terima dari pak Wawan.
Sementara gua cuman menggarut kepala gua yang gak gatal setelah mendengar ucapan pak hariyanto barusan.
"Tapi ini gak ada hubungannya sama gosib yang beredar di luaran sana kan? Soal kedekatan pahmi dengan kamu??"
"Nyeeeet..."
Rasanya lebih baik gua di suru bersihin kandang kuda selama seminggu dari pada harus mati kutu di godain pak kepala sekolah yang ternyata juga raja gosib sekolah.
Gosibnya sih gak masalah, yang jadi masalah adalah kenapa harus ada Pahmi disamping gua. Pasti saat ini dia senang ngelihat gua gak bisa berkutik kayak gini.
"Eheeeemmm," Pahmi mengehem di samping gua.
Tuh kan, apa lagi maksudnya pahmi barusan. Keselak biji salak kali ya"
"Kenap lu? Keselak batu?"
"Uuummm, inggak juga. Cuman tenggorokan gua kerasa gatal aja." Balas pahmi.
"Btw, ada masalah apa ya pak, sampai kita dipanggil kesini?" Tiba2 Sisil memecahkan ke kakuan gua.
Untung ada lu Sil, kalau inggak mungkin gua terkena serangan jantung juga kali ya. Batinku.
"Oh, anu.! Jadi bapak manggil kalian kesini karena mau ngasih materi tambahan buat bekal kalian belajar bareng di waktu jam di luar sekolah. Dan tadi ibu rani nitipin ini ke bapak." Kata pak hariyanto sambil memberikan satu jilid materi tambahan.
"Satu lagi, kalau untuk sementara ini kalian akan dibimbing sama pak Sapto, karena berhubung bu Rani satu minggu kedepan akan ada pelatihan ke luar kota." Lanjutnya.
"Apa???" Respon kami serentak kaget.
"Memangnya kenapa? Kok kelihatannya kalian bertiga kurang senang sama pak sapto ya??" Kata pak hariyanto aneh.
Bersambung....
Kutunggu kau di pelaminan nanti 10 b
Jangan lupa komen ya guyyssss.. sorry buat cerpen gajebo ini. Hehahaaa
*****************************************
***
@Prov Rama***
Kebetulan masa tugas papah di jawa sudah habis, dan papah balik lagi ke jakarta untuk menetap bersama kami.
Tentu saja gua sangat senang karena dengan begitu, adik gua Pahmi tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di sana.
Tepat hari ini, Pahmi dan papah baru saja tiba di rumah.
"Weisssss, makin keren aja lu sekarang bro" respon gua begitu melihat adek gua satu-satunya yang saat ini sedang berdiri di dep.
Walaupun pahmi umurnya lebih mudah satu tahun dari gua, tapi postur badannya sama kayak gua.
Pahmi memang tumbuh sebagai pria yang tinggi, putih, ganteng, rapih, pintar dan juga jago main basket.
Secara keseluruhan gua dan dia hampir sama. Yang membedakan gua dengannya hanya:
1. pahmi anaknya taat beragama, sementara gua inggak terlalu.
2. Pahmi anak yang patuh sama keluarga, sementara gua tidak, dan
3. gua pernah terkena kasus hukum, dan gua harap Pahmi jangan sampe ngalamin hal itu, karena sebagai kakak, jelas saja gua sangat sayang sama dia.
Walaupun begitu, perbedaan tidak membuat gua untuk merasa iri, atau berusaha untuk berubah menjadi sepertinya kan? Begitu pun gua, yang tidak bakalan pernah memaksa Pahmi untuk menjadi orang lain. Lagian sejauh ini, kami sudah merasa cukup nyaman dengan sikap kami.
"gak salah memang bro, kalau di jawa lu terkenal sebagai cowok playboy." Candaku.
"Ah kakak bisa aja, lagian aku ganteng kan karena ngikutin papah sama kakak. Masa, kalian ganteng aku sendiri yang jelek. Gak mungkin kan?" Jawab Pahmi.
***
Mendengar guyonan Pahmi, aku mamah dan papah serentak tertawa.
Yah, beginilah keluarga kecil hermawan kalau sedang berkumpul. Terus terang, sudah lama gua gak merasakan seperti ini. Apalagi semenjak papah tugas di jawa, dan Pahmi memilih ikut dengan papah, jelas membuat gua kesepian selama ini.
@kamar Pahmi.
"Pahmi, lu tahu kan kalau kakak ini seperti sekarang karena siapa?"
"Iya aku tahu" jawab pami
"Terus kamu mau kan nerima taruhan kakak, buat si Mita yang kakak ceritain itu jatuh cinta sama lu?"
"Emng Mita itu orangnya gimana sih? Terus kenapa harus dia yang aku dekatin? Apa dia juga sudah jahat sama kakak?" tanya Pahmi beruntun.
"Bukan sudah pernah nyakitin, atau dia sudah jahat sama gua. Cuman dia pernah gua ajakin pacaran, tapi dia gak mau pacaran. Jadinya"
"Jadinya dia nolak kakak?" Potong Pahmi gak percaya.
Dia gak percaya kalau masih ada cewek yang berani nolak kakaknya yang terpopuler di SMAnya itu.
"Tapi intinya sih bukan itu. Karena walaupun gua di tolak sama dia, gua cukup terima asalannya. Dimana waktu itu dia gak mau pacaran karena dia masih pokus buat belajar." lanjut ku menjelaskan.
"Nah, tapi jangan salahkan gua, kalau alasannya barusan ternyata telah memancing nyali gua buat menggeser gelar juara umumnya itu." Ujar Rama lagi dengan seringai nakalnya.
"Gua pengen liat lu hancur dan sakit karena cinta lu akan di permainkan, Mita.! Dan saat itu, lu akan tau kalau cintamu itu lah yang telah merusaknya."
"Terus apa yang harus aku lakuin buat seorang cewek sehebat dia?" Tanya Pahmi kemudian.
"Lu cukup buat dia jatuh cinta sama lu." Jawabku puas dan singkat.
"Terus waktunya sampai kapan?"
"Gua kasih waktu sampai ujian semester depan. Karena saat itu, gua bisa lihat dia menangis karena gelar juaranya itu gak bisa dia pegang lagi, melainkan pindah ketangan lu. Hahahaheheha"
@Author prov
Rama kesenangan dengan rencana gilanya itu. Tanpa memikirkan dampak yang akan di rasakan sang adik yang disayanginya kedepan.
***
Rama prov..
Hari ini, Pahmi resmi sebagai murid baru disekolah gua. Ketampananya membuat dia banyak di taksir sama cewek2. Termasuk Laura mantan gua yang saat ini gua benci. Tapi Pahmi tidak tertarik dan kejebak dengan tampang sok alim yang dimiliki gadis sepertinya.
@ rumah
"Pahmi, gimana? Sudah ada perkembangan belum.!" Saat ini gua menemui pahmi sedang berayun di ayunan taman belakang rumahku.
"Belum kak, soalnya cewek yang kakak bilang itu memang beda sama cewek lainnya."
"Yah, masa cowok playboy kayak lu itu gak bisa dapatin dia?" Pancingku.
"Ya elah, sabar dulu dong kak, baru juga hari pertama sekolah?" Jawab Pahmi gak mau kalah.
Gua paling senang kalau melihat Pahmi seperti ini, apalagi dia itu tipe cowok yang gak suka di remehin sama siapa pun.
"Oke deh, kalau gitu gua tunggu kabar selanjutnya dari lu oke." Jawabku sambil pergi ninggalin Pahmi.
***
Gua semakin senang begitu melihat Pahmi telah mulai terbuai dan ikut kepermainan yang gua buat untuk ngejatuhin si Mita.
"Hehahaha, gua pengen lihat sampe berapa lama cewek sombong itu menolak Pahmi." Gumamku.
Bersambung....
*************
Jangan lupa komennya kakaaaaakkkkk.....
*****************************************
***
@Prov Rama***
Kebetulan masa tugas papah di jawa sudah habis, dan papah balik lagi ke jakarta untuk menetap bersama kami.
Tentu saja gua sangat senang karena dengan begitu, adik gua Pahmi tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di sana.
Tepat hari ini, Pahmi dan papah baru saja tiba di rumah.
"Weisssss, makin keren aja lu sekarang bro" respon gua begitu melihat adek gua satu-satunya yang saat ini sedang berdiri di dep.
Walaupun pahmi umurnya lebih mudah satu tahun dari gua, tapi postur badannya sama kayak gua.
Pahmi memang tumbuh sebagai pria yang tinggi, putih, ganteng, rapih, pintar dan juga jago main basket.
Secara keseluruhan gua dan dia hampir sama. Yang membedakan gua dengannya hanya:
1. pahmi anaknya taat beragama, sementara gua inggak terlalu.
2. Pahmi anak yang patuh sama keluarga, sementara gua tidak, dan
3. gua pernah terkena kasus hukum, dan gua harap Pahmi jangan sampe ngalamin hal itu, karena sebagai kakak, jelas saja gua sangat sayang sama dia.
Walaupun begitu, perbedaan tidak membuat gua untuk merasa iri, atau berusaha untuk berubah menjadi sepertinya kan? Begitu pun gua, yang tidak bakalan pernah memaksa Pahmi untuk menjadi orang lain. Lagian sejauh ini, kami sudah merasa cukup nyaman dengan sikap kami.
"gak salah memang bro, kalau di jawa lu terkenal sebagai cowok playboy." Candaku.
"Ah kakak bisa aja, lagian aku ganteng kan karena ngikutin papah sama kakak. Masa, kalian ganteng aku sendiri yang jelek. Gak mungkin kan?" Jawab Pahmi.
***
Mendengar guyonan Pahmi, aku mamah dan papah serentak tertawa.
Yah, beginilah keluarga kecil hermawan kalau sedang berkumpul. Terus terang, sudah lama gua gak merasakan seperti ini. Apalagi semenjak papah tugas di jawa, dan Pahmi memilih ikut dengan papah, jelas membuat gua kesepian selama ini.
@kamar Pahmi.
"Pahmi, lu tahu kan kalau kakak ini seperti sekarang karena siapa?"
"Iya aku tahu" jawab pami
"Terus kamu mau kan nerima taruhan kakak, buat si Mita yang kakak ceritain itu jatuh cinta sama lu?"
"Emng Mita itu orangnya gimana sih? Terus kenapa harus dia yang aku dekatin? Apa dia juga sudah jahat sama kakak?" tanya Pahmi beruntun.
"Bukan sudah pernah nyakitin, atau dia sudah jahat sama gua. Cuman dia pernah gua ajakin pacaran, tapi dia gak mau pacaran. Jadinya"
"Jadinya dia nolak kakak?" Potong Pahmi gak percaya.
Dia gak percaya kalau masih ada cewek yang berani nolak kakaknya yang terpopuler di SMAnya itu.
"Tapi intinya sih bukan itu. Karena walaupun gua di tolak sama dia, gua cukup terima asalannya. Dimana waktu itu dia gak mau pacaran karena dia masih pokus buat belajar." lanjut ku menjelaskan.
"Nah, tapi jangan salahkan gua, kalau alasannya barusan ternyata telah memancing nyali gua buat menggeser gelar juara umumnya itu." Ujar Rama lagi dengan seringai nakalnya.
"Gua pengen liat lu hancur dan sakit karena cinta lu akan di permainkan, Mita.! Dan saat itu, lu akan tau kalau cintamu itu lah yang telah merusaknya."
"Terus apa yang harus aku lakuin buat seorang cewek sehebat dia?" Tanya Pahmi kemudian.
"Lu cukup buat dia jatuh cinta sama lu." Jawabku puas dan singkat.
"Terus waktunya sampai kapan?"
"Gua kasih waktu sampai ujian semester depan. Karena saat itu, gua bisa lihat dia menangis karena gelar juaranya itu gak bisa dia pegang lagi, melainkan pindah ketangan lu. Hahahaheheha"
@Author prov
Rama kesenangan dengan rencana gilanya itu. Tanpa memikirkan dampak yang akan di rasakan sang adik yang disayanginya kedepan.
***
Rama prov..
Hari ini, Pahmi resmi sebagai murid baru disekolah gua. Ketampananya membuat dia banyak di taksir sama cewek2. Termasuk Laura mantan gua yang saat ini gua benci. Tapi Pahmi tidak tertarik dan kejebak dengan tampang sok alim yang dimiliki gadis sepertinya.
@ rumah
"Pahmi, gimana? Sudah ada perkembangan belum.!" Saat ini gua menemui pahmi sedang berayun di ayunan taman belakang rumahku.
"Belum kak, soalnya cewek yang kakak bilang itu memang beda sama cewek lainnya."
"Yah, masa cowok playboy kayak lu itu gak bisa dapatin dia?" Pancingku.
"Ya elah, sabar dulu dong kak, baru juga hari pertama sekolah?" Jawab Pahmi gak mau kalah.
Gua paling senang kalau melihat Pahmi seperti ini, apalagi dia itu tipe cowok yang gak suka di remehin sama siapa pun.
"Oke deh, kalau gitu gua tunggu kabar selanjutnya dari lu oke." Jawabku sambil pergi ninggalin Pahmi.
***
Gua semakin senang begitu melihat Pahmi telah mulai terbuai dan ikut kepermainan yang gua buat untuk ngejatuhin si Mita.
"Hehahaha, gua pengen lihat sampe berapa lama cewek sombong itu menolak Pahmi." Gumamku.
Bersambung....
*************
Jangan lupa komennya kakaaaaakkkkk.....
Kutunggu kau di pelaminan nanti 10 a
Jangan sampe bosan bacanya ya...
lanjut aja deh...
*****************************************
Setelah kejadian di kantin beberapa hari lalu, Mita menjadi lebih ramah samaku. Sebagai seorang pangeran yang sedang jatuh cinta terhadap seorang putri cantik, gua merasa sangat senang saat ini.
"Pahmi, bagaimana perkembangan soal si Mita? Apa lu udah bisa ngajak dia ngobrol? Setelah apa yang lu lakuin buat bantuin di di kantin kemaren?" Tanya kak Rama yang tiba2 duduk di sampingku.
Gua yang sedang asyik menonton TV,
"Eeeitsss, ralat. sebenarnya sih, gua gak konsen nonton, karena gua sedang ngebayangin cewek pujaan hati gua. Siapa lagi kalau bukan Mita."
Tapi, kesenangan gua harus terputus karena kedatangan kak Rama.
"Sekarang ini sih Mita sudah mulai baik sama aku kak, terus akhir-akhir ini juga aku sudah sering ngobrol sama dia." Jelasku menyakinkan.
"Bagus kalau gitu." Jawab kak rama singkat.
Nampak jelas ada rasa kepuasan tergores dimatanya.
Untung aja aku gak keceblosan ke kak Rama, kalau aku sebenarnya juga sudah jatuh cinta ke Mita. Kalau sampai kak Rama tahu, dia pasti bakalan marah besar.
Soalnya aku tahu, kalau kak rama pernah naksir dan pengen berubah menjadi anak baik demi Mita. Tapi karena Mita nolak dia, jadinya dia gak jadi tobat deh sampe sekarang. (Alias tetap jadi anak berandalan di sekolah.)
***
Saat ini aku sedang belajar di dalam kamar seorang diri. Gak tau kenapa, aku merasa susah banget buat menghapal buku yang aku baca. Tidak seperti biasanya.
"Ayo dong, otakku... jangan cuman mikirin Mita terusss.." gumamku.
Aku pun berbaring ke tempat tidur sambil memandang langit-langit kamarku. gak tau kenapa aku sangat berharap kalau Mita juga bisa merasakan apa yang yang gua pikirin saat ini.
Gua pun mengambil sebuah gitar kesayanganku yang berada di pojok kamarku.
Sambil mulai memetik senar gitar membentuk sebuah nada, tiba2 suara ponselku berdering.
"Sisil"
gumamku setelah membaca nama panggilan masuk di layar ponselku itu.
"Halo kenapa sil?" Jawabku kurang semangat begitu menangkat panggilan telpon darinya.
"Ihhh, kok kamu sekarang gak pernah balas bbm dari aku lagi sih?" Jawab penelpon di seberang sana dengan gaya sok imut.
Yang jelas, membanyangkannya saja, gua sampai mau muntah saat itu juga.
"Oh, sorry. Soalnya aku sedang sibuk akhir2 ini." bohongku.
Sementara di sebrang sana tetap bicara gak jelas.
"Kalau boleh tahu, kamu dapat nomor aku dari mana?" Kataku tude poin.
Karena gua paling gak gampang bagi nomor ke orang lain, merasa tidak pernah membagi nomorku ke siapa pun di sekolah kecuali pak kepala sekolah. Karena pak kepala sekolah beberapa hari lalu, meminta nomorku agar beliau bisa menelpon aku kalau lagi ada keperluan penting manyangkut perlombaan olimpiade yang akan di adakan bulan depan.
"Dari pak kepala sekolah." Jawab Sisil polos.
"Loh kok bisa?" Komenku kaget.
Sangging kagetnya gua hampir syok dan ngebayangin Sisil seorang gadis gila, sampai nekat minta nomor ke guru tertinggi di sekolahku itu. Hanya untuk bisa menelponku.
(Oh, lupakan pikiran ngaur itu.)
"Iya, soalnya kemaren kan pak kepsek manggil aku ke kantor buat ngomongin soal olimpiade bulan depan. Dan dia ngasih aku nomor kamu, katanya biar aku bisa gampang hubungin kamu kalau aku, Mita sama kamu pengen belajar bareng." Jawab Sisil panjang menjelaskan.
Sudah mirip seperti kereta api saja.
"Terus kalau gitu, sekarang kamu nelpon aku buat apa?"
"Karena aku kangen sama kamu" jawab disebrang sana.
"Lah, kan kita satu kelas. Ngapain juga kangen2nan. Lagian aku dah bilang sama kamu, kalau aku itu gak pernah suka sama kamu, karena sejak dulu memang aku sukanya cuman buat Mita doang." Jawabku jujur.
Di sebrang sana malah menangis membuat gua makin gak ngerti dengan apa yang dibicarakannya.
"Kalau gitu udah dulu ya Sil, gua ngantuk banget nih, pengen tidur."
"Tuuut...tuuut...tuttt.." Gua langsung memutus telpon setelah gak tahan lagi mendengar ocehan Sisil.
***
Beberapa hari ini, aku memang sengaja menghindar dari Sisil. Apalagi setelah aku terang-terangan menolak pengakuannya yang suka samaku. Sampai sekarang Sisil masih tidak terima, karena aku telah menolaknya. Kata dia baru kali ini ada cowok yang berani menolaknya seperti ini.
"Dasar cewek gila. Sampe segitunya apa buat dapatin aku" batinku kesal.
Bersambung....
lanjut aja deh...
*****************************************
Setelah kejadian di kantin beberapa hari lalu, Mita menjadi lebih ramah samaku. Sebagai seorang pangeran yang sedang jatuh cinta terhadap seorang putri cantik, gua merasa sangat senang saat ini.
"Pahmi, bagaimana perkembangan soal si Mita? Apa lu udah bisa ngajak dia ngobrol? Setelah apa yang lu lakuin buat bantuin di di kantin kemaren?" Tanya kak Rama yang tiba2 duduk di sampingku.
Gua yang sedang asyik menonton TV,
"Eeeitsss, ralat. sebenarnya sih, gua gak konsen nonton, karena gua sedang ngebayangin cewek pujaan hati gua. Siapa lagi kalau bukan Mita."
Tapi, kesenangan gua harus terputus karena kedatangan kak Rama.
"Sekarang ini sih Mita sudah mulai baik sama aku kak, terus akhir-akhir ini juga aku sudah sering ngobrol sama dia." Jelasku menyakinkan.
"Bagus kalau gitu." Jawab kak rama singkat.
Nampak jelas ada rasa kepuasan tergores dimatanya.
Untung aja aku gak keceblosan ke kak Rama, kalau aku sebenarnya juga sudah jatuh cinta ke Mita. Kalau sampai kak Rama tahu, dia pasti bakalan marah besar.
Soalnya aku tahu, kalau kak rama pernah naksir dan pengen berubah menjadi anak baik demi Mita. Tapi karena Mita nolak dia, jadinya dia gak jadi tobat deh sampe sekarang. (Alias tetap jadi anak berandalan di sekolah.)
***
Saat ini aku sedang belajar di dalam kamar seorang diri. Gak tau kenapa, aku merasa susah banget buat menghapal buku yang aku baca. Tidak seperti biasanya.
"Ayo dong, otakku... jangan cuman mikirin Mita terusss.." gumamku.
Aku pun berbaring ke tempat tidur sambil memandang langit-langit kamarku. gak tau kenapa aku sangat berharap kalau Mita juga bisa merasakan apa yang yang gua pikirin saat ini.
Gua pun mengambil sebuah gitar kesayanganku yang berada di pojok kamarku.
Sambil mulai memetik senar gitar membentuk sebuah nada, tiba2 suara ponselku berdering.
"Sisil"
gumamku setelah membaca nama panggilan masuk di layar ponselku itu.
"Halo kenapa sil?" Jawabku kurang semangat begitu menangkat panggilan telpon darinya.
"Ihhh, kok kamu sekarang gak pernah balas bbm dari aku lagi sih?" Jawab penelpon di seberang sana dengan gaya sok imut.
Yang jelas, membanyangkannya saja, gua sampai mau muntah saat itu juga.
"Oh, sorry. Soalnya aku sedang sibuk akhir2 ini." bohongku.
Sementara di sebrang sana tetap bicara gak jelas.
"Kalau boleh tahu, kamu dapat nomor aku dari mana?" Kataku tude poin.
Karena gua paling gak gampang bagi nomor ke orang lain, merasa tidak pernah membagi nomorku ke siapa pun di sekolah kecuali pak kepala sekolah. Karena pak kepala sekolah beberapa hari lalu, meminta nomorku agar beliau bisa menelpon aku kalau lagi ada keperluan penting manyangkut perlombaan olimpiade yang akan di adakan bulan depan.
"Dari pak kepala sekolah." Jawab Sisil polos.
"Loh kok bisa?" Komenku kaget.
Sangging kagetnya gua hampir syok dan ngebayangin Sisil seorang gadis gila, sampai nekat minta nomor ke guru tertinggi di sekolahku itu. Hanya untuk bisa menelponku.
(Oh, lupakan pikiran ngaur itu.)
"Iya, soalnya kemaren kan pak kepsek manggil aku ke kantor buat ngomongin soal olimpiade bulan depan. Dan dia ngasih aku nomor kamu, katanya biar aku bisa gampang hubungin kamu kalau aku, Mita sama kamu pengen belajar bareng." Jawab Sisil panjang menjelaskan.
Sudah mirip seperti kereta api saja.
"Terus kalau gitu, sekarang kamu nelpon aku buat apa?"
"Karena aku kangen sama kamu" jawab disebrang sana.
"Lah, kan kita satu kelas. Ngapain juga kangen2nan. Lagian aku dah bilang sama kamu, kalau aku itu gak pernah suka sama kamu, karena sejak dulu memang aku sukanya cuman buat Mita doang." Jawabku jujur.
Di sebrang sana malah menangis membuat gua makin gak ngerti dengan apa yang dibicarakannya.
"Kalau gitu udah dulu ya Sil, gua ngantuk banget nih, pengen tidur."
"Tuuut...tuuut...tuttt.." Gua langsung memutus telpon setelah gak tahan lagi mendengar ocehan Sisil.
***
Beberapa hari ini, aku memang sengaja menghindar dari Sisil. Apalagi setelah aku terang-terangan menolak pengakuannya yang suka samaku. Sampai sekarang Sisil masih tidak terima, karena aku telah menolaknya. Kata dia baru kali ini ada cowok yang berani menolaknya seperti ini.
"Dasar cewek gila. Sampe segitunya apa buat dapatin aku" batinku kesal.
Bersambung....
Kutunggu kau di palaminan nanti. 10
@Prov Pahmi
***
Semenjak aku ke jakarta rasanya hidup ku saat ini seperti berwarna. apalagi semenjak mengenal Luna Sasmita atau teman yang lain akrab memanggilnya Mita.
Dia adalah sosok wanita cantik, pintar, soleh namun sedikit aneh. Apalagi setelah aku membaca profil facebooknya yang diam2 aku buka lewat jejaring milik kak Rama yang tidak lain kakak kandungku sendiri.
Awalnya aku gak nyangka kalau akan menemukan sosok wanita seperti itu di jakarta. Bahkan di jawa di tempat sekolahku dulu pun bisa di bilang tidak ada cewek seperti itu.
Mita anak orang yang kaya abis. Tapi dia tidak sombong sama siapapun kecuali dengan cowok ganteng dan cowok populer.
"Aneh bukan??"
Kalau kata teman dekatnya bernama Sisil, dia itu tipe cewek yang anti cowok. Katanya sih biar bisa jadi miss jomblo dan ngalahin RICIS. Seorang wanita cantik yang lagi buming2nya di sebuah jejaring sosial, (Instagram.)
"Sumpah, aneh banget tuh cewek."
Selain itu, dia juga tidak mau pacaran bahkan belum pernah pacaran sama sekali. Soalnya, dia maunya langsung menikah seperti yang di perintahkan oleh allah SWT.
"Ini nih, yang gua cari selama ini. Kapan lagi bisa dapat cewek soleha seperti mita di dunia ini, cukup jarang bukan??"
***
Mita sosok cewek yang gak tau namanya "jaim." Tidak seperti cewek lain yang selalu berusaha sempurna di depan cowok ganteng seperti gua. Bahkan, Mita setiap hari selalu gua lihat tidak pernah pake make up, tapi dia tetap cantik dan manis.
Ketika pertama melihat mita, rasanya aku ingin sekali mengenal dia lebih dekat dari teman2 cewek lain yang ada di sekolah. Namun, setiap aku berusaha mendekatinya, dia malah selalu berusaha menghindar dariku.
***
"Dek, lu jangan lupa ya, buat Mita jatuh cinta sama lu." kata kak Rama terhadapku.
Yah, hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku. dan aku mendapat tantangan untuk dekatin Mita karena aku sedang taruhan sama kak Rama.
Aku hampir bingung harus bagaimana biar biasa mengenal Mita lebih dekat lagi sampai akhirnya Sisil sahabatnya yang sebenarnya tidak kalah cantik dengan Mita, juga mentaksirku, seolah memberikan solusi untukku.
"Emng gak heran sih, kalau cewek2 banyak yang mengejar aku, sampai mereka pengen banget jadi pacarku. Cuman tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuat aku balik untuk mencintai mereka.
***
Sampai akhirnya muncul ide gila untuk manfaatin sisil agar aku bisa dekat dengan Mita yang tidak lain adalah sahabatnya.
Sangat gampang memang untuk menakhlukkan wanita seperti Sisil, sampe ide gilaku pun berjalan mulus tanpa halangan sedikit pun.
Gak kayak kartu internetan yang sering aku pakai, yang lolanya minta ampun.
***
sekitar satu bulan lebih, aku modusin Sisil, dan berlahan aku bisa ngobrol dengan Mita.
"Walaupun masih jauh dari harapan sih"
Tapi jujur, aku semakin penasaran dan semakin tertarik untuk mengenal dia lebih dekat.
Setiap jam istirahat, aku selalu mencoba mengajak Mita ke kantin, dan setiap itu juga, ajakanku selalu di tolak olehnya.
"Lihat aja Mit, aku bakalan bisa buat dapatin kamu." Ancamku.
Aku semakin merasa senang dengan sikap cueknya itu. Dan entah kenapa perasaan aku semakin lama semakin sayang sama dia.
Memang sejak awal, ketika ketemu Mita, aku sudah melupakan taruhanku dengan kak Rama buat dekatin mita hanya semata-mata sebuah motor gede. Tapi saat ini, aku pengen dapatin dia karena aku baru sadar kalau aku telah jauh jatuh mencintainya.
@Tiga bulan berikutnya...
Akhirnya nasib baik berpihak padaku. Setelah kejadian di kantin yang menimpanya hari ini, aku memberikan jaket kesayanganku untuk menutupi roknya.
Saat melihat wajah lugunya, ketika sedang menahan malu. Ingin rasanya aku mencubit pipih mulusnya yang berubah menjadi merah mudah itu. Dan mencium bibirnya yang seksi dengan gemas.
Tapi tentu saja gua gak berani karena wanita yang ada di depanku saat ini adalah wanita spesial dihatiku.
Rasanya kali ini aku seakan tak berdaya di depan perempuan. dan baru Mita yang bikin gua bisa seperti saat ini, dimana gua bisa menghargai yang namanya perempuan selain orang tuaku.
Bersambung...
***
Semenjak aku ke jakarta rasanya hidup ku saat ini seperti berwarna. apalagi semenjak mengenal Luna Sasmita atau teman yang lain akrab memanggilnya Mita.
Dia adalah sosok wanita cantik, pintar, soleh namun sedikit aneh. Apalagi setelah aku membaca profil facebooknya yang diam2 aku buka lewat jejaring milik kak Rama yang tidak lain kakak kandungku sendiri.
Awalnya aku gak nyangka kalau akan menemukan sosok wanita seperti itu di jakarta. Bahkan di jawa di tempat sekolahku dulu pun bisa di bilang tidak ada cewek seperti itu.
Mita anak orang yang kaya abis. Tapi dia tidak sombong sama siapapun kecuali dengan cowok ganteng dan cowok populer.
"Aneh bukan??"
Kalau kata teman dekatnya bernama Sisil, dia itu tipe cewek yang anti cowok. Katanya sih biar bisa jadi miss jomblo dan ngalahin RICIS. Seorang wanita cantik yang lagi buming2nya di sebuah jejaring sosial, (Instagram.)
"Sumpah, aneh banget tuh cewek."
Selain itu, dia juga tidak mau pacaran bahkan belum pernah pacaran sama sekali. Soalnya, dia maunya langsung menikah seperti yang di perintahkan oleh allah SWT.
"Ini nih, yang gua cari selama ini. Kapan lagi bisa dapat cewek soleha seperti mita di dunia ini, cukup jarang bukan??"
***
Mita sosok cewek yang gak tau namanya "jaim." Tidak seperti cewek lain yang selalu berusaha sempurna di depan cowok ganteng seperti gua. Bahkan, Mita setiap hari selalu gua lihat tidak pernah pake make up, tapi dia tetap cantik dan manis.
Ketika pertama melihat mita, rasanya aku ingin sekali mengenal dia lebih dekat dari teman2 cewek lain yang ada di sekolah. Namun, setiap aku berusaha mendekatinya, dia malah selalu berusaha menghindar dariku.
***
"Dek, lu jangan lupa ya, buat Mita jatuh cinta sama lu." kata kak Rama terhadapku.
Yah, hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baruku. dan aku mendapat tantangan untuk dekatin Mita karena aku sedang taruhan sama kak Rama.
Aku hampir bingung harus bagaimana biar biasa mengenal Mita lebih dekat lagi sampai akhirnya Sisil sahabatnya yang sebenarnya tidak kalah cantik dengan Mita, juga mentaksirku, seolah memberikan solusi untukku.
"Emng gak heran sih, kalau cewek2 banyak yang mengejar aku, sampai mereka pengen banget jadi pacarku. Cuman tidak ada satupun dari mereka yang bisa membuat aku balik untuk mencintai mereka.
***
Sampai akhirnya muncul ide gila untuk manfaatin sisil agar aku bisa dekat dengan Mita yang tidak lain adalah sahabatnya.
Sangat gampang memang untuk menakhlukkan wanita seperti Sisil, sampe ide gilaku pun berjalan mulus tanpa halangan sedikit pun.
Gak kayak kartu internetan yang sering aku pakai, yang lolanya minta ampun.
***
sekitar satu bulan lebih, aku modusin Sisil, dan berlahan aku bisa ngobrol dengan Mita.
"Walaupun masih jauh dari harapan sih"
Tapi jujur, aku semakin penasaran dan semakin tertarik untuk mengenal dia lebih dekat.
Setiap jam istirahat, aku selalu mencoba mengajak Mita ke kantin, dan setiap itu juga, ajakanku selalu di tolak olehnya.
"Lihat aja Mit, aku bakalan bisa buat dapatin kamu." Ancamku.
Aku semakin merasa senang dengan sikap cueknya itu. Dan entah kenapa perasaan aku semakin lama semakin sayang sama dia.
Memang sejak awal, ketika ketemu Mita, aku sudah melupakan taruhanku dengan kak Rama buat dekatin mita hanya semata-mata sebuah motor gede. Tapi saat ini, aku pengen dapatin dia karena aku baru sadar kalau aku telah jauh jatuh mencintainya.
@Tiga bulan berikutnya...
Akhirnya nasib baik berpihak padaku. Setelah kejadian di kantin yang menimpanya hari ini, aku memberikan jaket kesayanganku untuk menutupi roknya.
Saat melihat wajah lugunya, ketika sedang menahan malu. Ingin rasanya aku mencubit pipih mulusnya yang berubah menjadi merah mudah itu. Dan mencium bibirnya yang seksi dengan gemas.
Tapi tentu saja gua gak berani karena wanita yang ada di depanku saat ini adalah wanita spesial dihatiku.
Rasanya kali ini aku seakan tak berdaya di depan perempuan. dan baru Mita yang bikin gua bisa seperti saat ini, dimana gua bisa menghargai yang namanya perempuan selain orang tuaku.
Bersambung...
Selasa, 10 Mei 2016
Kutunggu kau di palaminan nanti 9
Sorry.. kalau jelek... 😂😂😂😂
lanjut lagi ya...
****************************************
@mita prov**
Mungkin karena dia sudah kelas tiga kali ya, makanya dia lebih serius ngadapin ujian kali ini. Apalagi dia kan pintar, cuman malas aja belajar, dan lebih memilih ikut teman2 berandalan (satu gengnya) itu keluyuran gak jelas.
***
Sebelumnya, gua juga udah pernah dengar soal kak Rama yg pernah menghebohkan berita di kalangan anak remaja.
Flasback On..
Dua tahun lalu. Pemenang OSN fisika+matematika, yang tidak lain anak pejabat tinggi TNI, telah terjerat kasus hukum karena tertangkap sedang berpesta minuman keras dan mengkonsumsi obat2 tan terlarang di sebuah kost-kosan di jakarta.
Dengar2, jika bukan karena dia pernah banggain nama sekolah di tingkat nasional, sejak berita yang menimpanya itu, kak Rama pasti sudah dikeluarin pihak sekolah.
Tapi, nasib baik masih menolongnya, setelah kepsek bersedia membantu dia, walaupun dengan konsikuensi, dia gak boleh berada di kelas unggulan yang notabennya siswa berkebribadian baik, dan contoh teladan sekolah.
Dan yang lebih parahnya lagi, kata orang-orang, kak Rama berubah liar sampe terjerat hukum seperti itu karena cinta pertamanya bernama Laura, yang saat ini pemegang gelar juara umum diangkatannya itu telah memainkan perasannya.
Flasbak off..
***
"Laura?" Batinku
Dia wanita tercantik di kelas tiga, dan juga baik. tapi kenapa kak Laura berani ngecewain kak Rama?
"Woii.. ngelamun aja, kerjain tuh soal lu, bentar lagi waktu ujian mau habis lho?" Kata kak rama mengagetkanku.
"Udah selesai kali kak" jawabku santai.
"Nyeeet.. cepat amat lu kelarnya?" Kata kak rama terheran2. Gua hanya nyengir sambil nunjukkin wajah lugu gua.
Entah ada yang salah sama tingkah gua atau inggak, yang jelas kak Rama yang tadinya ikut senyum berubah murung dan diam.
"Lu kenapa kak??" Kataku mencoba bertanya sama kak Rama.
"Inggak kenapa-napa kok, cuman agak pusing aja ngerjain soal ini." Jawab kak Rama.
Gua yakin kalau kak rama saat ini sedang berbohong. soalnya dari tadi, dia terlihat sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun waktu menjawab soal ujiannya.
"Mitha, Rama, kalau kalian sudah selesai kalian boleh keluar sekarang" tiba2 guru pengawas bernama bu yanti menegor gua sama kak Rama.
***
Tak terasa ujian pun sudah selesai. Gua yang keluar duluan setelah di usir bu Yanti, (sebenarnya sih kak Rama juga.) sedang duduk dikursi taman sekolah seorang diri.
"Mit, aku mau ngomong sama kamu" kata Pahmi yang tengah berdiri di sampingku.
"Sebenarnya lu mau bicara apa sih, sampai gak sabaran seperti ini" ucapku heran.
Namun Pahmi gak menjawab pertanyaan gua sama sekali, dia hanya diam.
"tuh kan, orang gua nanya tapi lu malah diam. Kalau gitu gua gak mau ah. Apalagi kalau urusannya gak penting." Setelah itu, gua pun pergi ninggalin pahmi namun...
"Ini masalah yang di mading, dan buat aku itu masalah penting" kata Pahmi dengan wajah serius.
Mendengar itu, gua pun langsung menghentikan langkahku.
"Yaudah, kalau gitu gua mau deh ngomong sama lu."
***
Saat ini pahmi mengajak gua ke sebuah taman di belakang gedung sekolah yang terlihat sepi. Alasannya biar gak ada orang lain yang dengar soal yang di bicarakan Pahmi terhadapku.
Gua dan pahmi pun sedang duduk disebuah kursi di bawah pohon pelindung yang cukup rindang.
"Lu sebenarnya mau ngomong apa sih?" ulangku yang penasaran apa maksudnya sampai mengajak gua bicara berdua seperti ini.
"Sebelumnya aku mau minta maaf kalau usah buat kamu sakit hati. awalnya memang aku cuman diajak taruhan sama kak Rama, kakak kandungku sendiri."
Kata pahmi panjang lebar berusaha menjelaskan semua kejadian hari ini ke gua, yang sebenarnya gua gak tau apa2 pun jadi bingung.
"Maksud lu apa sih? Terus taruhan yang lu maksud itu apa?"
"Jadi kamu belum tau soal masalah di mading Itu?" Kata Pahmi merasa legah.
Yang gua jawab cuman gelengan kepala.
"Syukurlah kalau gitu" gumam Pahmi.
"Maksud lu?"
" gak kenapa2 kok, hehahaa.." jawab pahmi nyengir.
Gua pun diam memperhatikan tingkah aneh Pahmi.
"Tapi lu benaran kakak adek sama kak Rama?" Tanya gua kemudian.
"Iya, tapi gua mohon kamu jangan kasih tau siapa2 ya. Karena cuman kamu yang tau ini soal ini.
Bersambung....
lanjut lagi ya...
****************************************
@mita prov**
Mungkin karena dia sudah kelas tiga kali ya, makanya dia lebih serius ngadapin ujian kali ini. Apalagi dia kan pintar, cuman malas aja belajar, dan lebih memilih ikut teman2 berandalan (satu gengnya) itu keluyuran gak jelas.
***
Sebelumnya, gua juga udah pernah dengar soal kak Rama yg pernah menghebohkan berita di kalangan anak remaja.
Flasback On..
Dua tahun lalu. Pemenang OSN fisika+matematika, yang tidak lain anak pejabat tinggi TNI, telah terjerat kasus hukum karena tertangkap sedang berpesta minuman keras dan mengkonsumsi obat2 tan terlarang di sebuah kost-kosan di jakarta.
Dengar2, jika bukan karena dia pernah banggain nama sekolah di tingkat nasional, sejak berita yang menimpanya itu, kak Rama pasti sudah dikeluarin pihak sekolah.
Tapi, nasib baik masih menolongnya, setelah kepsek bersedia membantu dia, walaupun dengan konsikuensi, dia gak boleh berada di kelas unggulan yang notabennya siswa berkebribadian baik, dan contoh teladan sekolah.
Dan yang lebih parahnya lagi, kata orang-orang, kak Rama berubah liar sampe terjerat hukum seperti itu karena cinta pertamanya bernama Laura, yang saat ini pemegang gelar juara umum diangkatannya itu telah memainkan perasannya.
Flasbak off..
***
"Laura?" Batinku
Dia wanita tercantik di kelas tiga, dan juga baik. tapi kenapa kak Laura berani ngecewain kak Rama?
"Woii.. ngelamun aja, kerjain tuh soal lu, bentar lagi waktu ujian mau habis lho?" Kata kak rama mengagetkanku.
"Udah selesai kali kak" jawabku santai.
"Nyeeet.. cepat amat lu kelarnya?" Kata kak rama terheran2. Gua hanya nyengir sambil nunjukkin wajah lugu gua.
Entah ada yang salah sama tingkah gua atau inggak, yang jelas kak Rama yang tadinya ikut senyum berubah murung dan diam.
"Lu kenapa kak??" Kataku mencoba bertanya sama kak Rama.
"Inggak kenapa-napa kok, cuman agak pusing aja ngerjain soal ini." Jawab kak Rama.
Gua yakin kalau kak rama saat ini sedang berbohong. soalnya dari tadi, dia terlihat sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun waktu menjawab soal ujiannya.
"Mitha, Rama, kalau kalian sudah selesai kalian boleh keluar sekarang" tiba2 guru pengawas bernama bu yanti menegor gua sama kak Rama.
***
Tak terasa ujian pun sudah selesai. Gua yang keluar duluan setelah di usir bu Yanti, (sebenarnya sih kak Rama juga.) sedang duduk dikursi taman sekolah seorang diri.
"Mit, aku mau ngomong sama kamu" kata Pahmi yang tengah berdiri di sampingku.
"Sebenarnya lu mau bicara apa sih, sampai gak sabaran seperti ini" ucapku heran.
Namun Pahmi gak menjawab pertanyaan gua sama sekali, dia hanya diam.
"tuh kan, orang gua nanya tapi lu malah diam. Kalau gitu gua gak mau ah. Apalagi kalau urusannya gak penting." Setelah itu, gua pun pergi ninggalin pahmi namun...
"Ini masalah yang di mading, dan buat aku itu masalah penting" kata Pahmi dengan wajah serius.
Mendengar itu, gua pun langsung menghentikan langkahku.
"Yaudah, kalau gitu gua mau deh ngomong sama lu."
***
Saat ini pahmi mengajak gua ke sebuah taman di belakang gedung sekolah yang terlihat sepi. Alasannya biar gak ada orang lain yang dengar soal yang di bicarakan Pahmi terhadapku.
Gua dan pahmi pun sedang duduk disebuah kursi di bawah pohon pelindung yang cukup rindang.
"Lu sebenarnya mau ngomong apa sih?" ulangku yang penasaran apa maksudnya sampai mengajak gua bicara berdua seperti ini.
"Sebelumnya aku mau minta maaf kalau usah buat kamu sakit hati. awalnya memang aku cuman diajak taruhan sama kak Rama, kakak kandungku sendiri."
Kata pahmi panjang lebar berusaha menjelaskan semua kejadian hari ini ke gua, yang sebenarnya gua gak tau apa2 pun jadi bingung.
"Maksud lu apa sih? Terus taruhan yang lu maksud itu apa?"
"Jadi kamu belum tau soal masalah di mading Itu?" Kata Pahmi merasa legah.
Yang gua jawab cuman gelengan kepala.
"Syukurlah kalau gitu" gumam Pahmi.
"Maksud lu?"
" gak kenapa2 kok, hehahaa.." jawab pahmi nyengir.
Gua pun diam memperhatikan tingkah aneh Pahmi.
"Tapi lu benaran kakak adek sama kak Rama?" Tanya gua kemudian.
"Iya, tapi gua mohon kamu jangan kasih tau siapa2 ya. Karena cuman kamu yang tau ini soal ini.
Bersambung....
Langganan:
Komentar (Atom)