Sabtu, 26 Maret 2016

Nothing is impossible 4

*14.30 wib*

Prasetyo memarkirkan motor butut, keluaran tahun lama di depan teras rumahnya.

Sore ini, bapak tiga anak itu pulang lebih cepat dari hari biasa dia bekerja sebagai buruh pabrik penghasil pakaian terbesar itu. Tidak harus menunggu sang mentari berlalu menenggelamkan cahayanya di celah gumpalan awan tebal berwarna jingga di ufuk barat sana.

***

Wajahnya yang tampan penuh kasih sayangpun selalu menebarkan sebuah senyum kedamaian. Apalagi Sosoknya yang kebapaan, seakan mendatangkan kebahagiaan tersendiri untuk ketiga anaknya itu.

"Hoyeeee bapak udah pulang kelja." Sambut alex girang setelah melihat prasetyo sedang berdiri di ambang pintu dengan cara bicaranya yang cadel seperti anak 4 tahun pada umumnya.
"Hehaha, kamu nih ya, semangat amat kalau udah nungguin bapak. Pasti bapak tahu nih, kalau sudah begini kamu ada yang mau diincar kan?" Komen prasetyo tertawa sambil mengangkat alex ke gendongannya.
"Iya tuh pak, dari tadi alex ngeluh terus gak sabaran buat nunggu donat kesukaannya itu tuh" timpal Raffa memanyunkan bibir merahnya dengan maksud menggoda alex yang tengah malu karena ketahuan oleh papahnya.

Alex menang sangat suka makan donat rasa stoberry. Setiap pulang dari tempat Prasetiyo bekerja, ia selalu membeli donat pesanan anaknya itu. Alih-alih sebagai oleh2 agar Alex yang merengek minta ikut ketempat kerjanya bisa ditinggal di rumah.

Melihat tingkah Alex yang lugu dan masih polos (yaiyalah, namanya juga anak kecil 😀😀) sontrak membuat Luna, Raffa dan Prasetyo yang melihatnya tiba2 ketawa bersama.

Hening sejenak...

"Yaudah gih, bapak mandi dulu, soalnya badan bapak udah bau asem tuh" kali ini Luna yang angkat bicara untuk meminta sang papah segera mandi, karena dia sendiri akan menyiapkan makanan buat bapaknya itu.

"Sip deh neng bapak yang paling cantik." jawab prasetyo sambil mencubit pipih tembam Luna dengan gemas, setelah itu berlalu menuju kamar untuk mengambil handuknya.

Sementara Raffa sedang asyik mengganggu Alex yang sedang lahapnya memakan donat di tangannya. Mulutnya yang kecil belepotan + pipi menggembung karena mengunyah donat menambah kesan lucu dan polos.

"Oh iya lun, gimana persiapan kamu buat UN nanti. Terus kamu dah mantapin niat kamu belum buat lanjut sekolah kemana?" Kata Prasetyo setelah keluar dari dalam kamar mandi.

Sebagai orang tua, yang tahu sebentar lagi Luna akan lulus SMP, lagi2 mengingatkan putri nya itu untuk memilih sekolah yang tepat sesuai dengan pilihan sang anak.

"Belum tahu nih pak, soalnya Luna bingung antara pengen masuk SMA apa SMK, soalnya Luna dapat beasiswa dari keduanya."
"Lah, kenapa harus bingung? Memangnya dari dulu itu, kamu pengen sekolah dimana?"
"Pengennya sih SMA, tapi kalau Luna pikir, apa luna SMK aja biar nanti pas lulus langaung kerja aja." Jelas Luna sedikit ragu.
"Kok kamu malah mikirin kerja? Memangnya habis lulus SMA, kamu gak mau kuliah apa? Kamu bukannya punya cita2 setidaknya jadi sarjana toh?" Timpal prasetyo mengingatkan.
"ya jelas adalah pak, cuman Luna gak mau aja kalau harus repotin bapak. Luna pengen nanti kuliah pas Luna sudah kerja, biar Luna bisa biayain kuliah luna, dan gak ngerepotin bapak."
"Lun.., lun.! Kamu ini mikirin apa sih? Memangnya bapakmu ini gak bisa kerja buat menuhin biaya sekolah kamu apa? Yo wes, hidup kita memang susah dan kita tinggal di kontrakan yang sempit seperti ini. Tapi ingat, bapak itu gak akan tinggal diam buat nyekolahin kalian kalau boleh Sampai gelar sarjana.
Bapak gak mau jika pendidikan kalian sampai ada yang di bawah bapak. Lagian kamu ini kan pintar, kalau memang kamu ada niat buat gak repotin bapak, kamu tinggal belajar yang rajin buat perjuangin beasiswa kamu sampai ke perguruan tinggi negeri. Selebihnya biar bapak yang urus." Jawab Prasetyo sedikit emosi.

Sebagai lulusan sarjana dari PTN ternama, jelas saja Prasetyo tidak ingin melihat ketiga anaknya hanya sampai lulus SMA.

Bersambung.....

Sorry ya guys, kalau jelek.😢 dan jangan lupa komentarnya ya..☺😊

Rabu, 23 Maret 2016

Nothing is impossible 3

Setelah pulang belanja dari warung "koko" pemilik warung sembago, yang ada di pinggir jalan raya sana. Luna saat ini sedang sibuk memotong tempe dan tahu untuk ia goreng sebagai lauk mereka hari ini.

Oh iya.. FYI, aja nih...

Alex adeknya luna saat ini sedang di asuh oleh bu leli. Tadi pas luna mau belanja, bu leli menahan alex untuk ia jaga di rumahnya, menunggu luna selesai melakukan pekerjaan rumah yang saat ini di lakoninya.

Apalagi kata bu leli, ia lagi gak ke butik. Alias lagi santai jalani hari libur, jadinya bu leli yang merasa gak tega dengan luna, ber 'inisiatif' buat meringankan beban luna pagi ini.

"Aduh, sudah jam 09.00 lagi, kok raffa belum pulang juga sih." Gumam luna sambil melirik jam dinding yang ada di ruang tamu. Ruangan kecil berfasilitas sofa yang sudah kusam.

"Assalmualaikum.."
Tiba-tiba teriakan seseorang terdengar di luaran sana. Luna yang mendengar suara yang tidak asing itu, langsung menjawab salam, sambil lanjut menggoreng tempe dan tahu yang tadi ia potong-potong itu.

"Kok kamu baru pulang sih dek?" Tanya luna kepada raffa yang sedang menghampirinya di dapur.
"Iya nih kak, tadi jualanannya laris manis, jadinya aku nambah pesanan lagi buat aku jual" jawab raffa bersemangat.

"Yaudah, kamu mandi gih, biar habis mandi kamu jemput alex di rumahnya bu leli. Gak enak, repotin beliau karena dari tadi harus jagain alex."

"Ya ela.., santai aja kali kak, lagian bu leli juga kan yang mau dengan senang hati buat jagain dek alex. Yaa.., hitung-hitung buat mengambil hati pa.."

"Raffaaa... gak boleh ngomong gitu. Gimana pun, kita gak bisa manfaatin orang lain seperti itu. Apalagi selama ini, bu leli udah banyak banget ngebantu keluarga kita. Kalau sampai papah dengar, kamu bisa di marahin papah, tau gk kamu." Jelas luna tegas, usai memotong pembicaraan raffa barusan.

"Oke deh, kakakku yang bawel." Balas Raffa santai sambil ngeluarain lidahnya.

"Dasar adik nakal, dikasih tahu malah meletin lidah gitu" protes luna gemas.
Sementara raffa hanya balas nyengir sambil berlari ke kamar mandi.

"Oh iya kak, hari ini aku dapat lumayan nih buat nambahin uang tabungan sama jajan kita besok." Teriak raffa dari kamar mandi.

"Simpan saja itu, buat kamu. Kakak masih punya simpanan dari hasil bayaran les privat dari teman2 kakak." Jawab luna datar.

***

Yah, begitulah keseharian luna dan Raffa, ketika libur, dan pulang sekolah. Raffa selalu bekerja sebagai penjual layangan di lapangan yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sementara Luna bekerja sampingan sebagai pengajar les privat matematika dan fisika untuk teman-reman atau bahkan adek kelas di sekolahnya. Luna seorang anak yang paling cerdas di sekolah. Karena kecerdasannya, luna sampai sering kali menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti olimpiade di tingkat provinsi maupun nasional. Dan alhamdulillah, sampai terakhir ia mengikuti olimpiade sekitar dua bulan yang lalu, ia pun selalu mendapat juara pertama.

Begitu pun dengan Raffa, walaupun usianya masih 9 tahun, Raffa sudah duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Dan ia selalu mendapat juara satu di sekolahnya. Bahkan disatu angkatannya yang terdiri dari empat kelas, setiap angkatan. Raffa berhasil memperoleh nilai tertinggi. Atau kata lain, Raffa menjadi juara satu umum di sekolahnya.

Bersambung....

***
FYI : For you information

Sorry ya guys kalau kurang bagus, maklum nasih pemula. Hehahaaaa..! Gua tunggu komennannya ya.. 😄😄😄😄

Nothing is impossible 2

Guyss... sorry kalau jelek.. lanjut lagi nih ya...

***

"Mah, aku kangen sama mamah.."😢😢😢

ucap luna lirih, disaat ia terkadang merasa cape dan tidak kuat untuk menjalani hari-harinya sebagai pengganti ibu untuk kedua adiknya.

***
Luna bukan perempuan yang lemah. Dia bukan cewek yang cengeng seperti gadis remaja yang manja pada umumnya.

Setiap hari luna belajar banyak untuk selalu kuat dalam menjalani hidup yang mandiri, dan tanpa membebani orang lain.

"Tidak...! Aku gak boleh terus mengeluh karena gak ada mamah di sampingku ku." Batin luna.

***
Sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya, ia pun berjalan keluar rumah kontrakan yang sudah sekitar dua tahun ini mereka tempati, dan menggendong raffa yang sudah berhenti menangis dari tadi.

"Luna, kamu mau pergi kemana pagi-pagi begini?" Panggil seorang ibu berpenampilan modis, tengah duduk bersantai di sebuah sofa, yang ada di depan teras rumahnya.

"Mau ke warung koko, dulu nih bu. Mau beli beras sama bahan2 dapur buat masak di rumah." Jawab luna berusaha sopan. Sementara Ibu modis dan cantik  yang biasa luna panggil "bu leli" itu pun hanya meng "o" sambil memberikan senyuman ramah padanya.

Begitu pun dengan luna, yang terkenal sebagai remaja cantik, pintar, sopan dan mandiri, hanya membalas senyuman "bu leli" dengan senyuman tulus yang ia miliki.

***
Bu leli adalah seorang janda cantik yang kebetulan juragan kontrakan yang salah satu mereka tempati. Ibu leli terkenal sangat baik dan juga ramah. Usia ibu leli juga masih tergolong muda yaitu sama seperti papahnya sekitar 34 tahun.

Bu leli menjada setelah ia bercerai dari suaminya sekitar tiga tahun yang lalu, karena suami yang di cintainya itu telah selingkuh di belakangnya.

Meburut cerita bu leli, suaminya itu tidak pernah tulus kepadanya. Bahkan selain tukang selingkuh, suami bu leli juga tukang minum, pemabuk, dan juga suka main judi.

Sebagai wanita yang terlahir dari keluarga berada dan berpendidikan. Bu leli yang juga pemilik usaha butik itu, tadinya tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan suaminya itu.

Bahkan alm. Papah bu leli, membantah habis-habisan pernikahan sirih yang mereka jalani dulu.

"CINTA BISA MERUSAK SEGALANYA"

begitulah yang di rasakan oleh bu leli saat itu. Makanya sampai sekarangpun, bu leli belum ada niat untuk menikah lagi.
Alasannya sih, "masih trauma sama pernikahannya dulu."

***

Bersambung....
******************************************

Hay.... hay.. gimana ceritanya. Seru gak??? Tolong komentarnya ya guys... gua tunggu lho.😄😄😄

Selasa, 22 Maret 2016

Nothing is impossible chapter 1

Hari ini cuaca langit nan biru terlihat cerah dengan awan tipis mengumpal di atas sana. Tidak seperti hatiku yang selalu mendung dan terhujani oleh tetesan air mata yang terus mengalir tanpa sebab.

Mungkin karena keberuntunganku kurang berpihak, atau malah aku yang kurang memihak sama keberuntunganku sendiri? Tidak taulah, tapi yang jelas aku merasa terkadang takdir hidup yang aku jalani terasa kurang adil untuk aku alami.

Perkenalkan namaku luna sasmita, atau teman-temanku biasa manggil aku luna. Usiaku sekarang baru genap 15 tahun setelah dua hari yang lalu, seharusnya aku habis merayakan kue ulang tahunku yang ke 15 di sebuah gedung mewah berbintang lima, mbak pesta para ratu istana. Tapi sayang itu hanyalah sebuah mimpi belaka, karena kehidupanku sekarang tidak lah jauh dari kata kurang cukup. Tidak seperti kehidupan ratu istana yang sering mamah dongengin ketika aku masih kecil dulu, yang mungkin bahkan sepertinya tidak akan pernah aku alami dalam hidupku.

Aku anak sulung dari tiga bersaudara. Adikku yang besar bernama Raffa, dan yang paling kecil bernama alex. Raffa masih kelas 5 SD, sedangkan Alex baru jalan 4 tahun.

"Lun, papah berangkat kerja dulu ya??" Ucap papahku sambil menyalakan motor bututnya.

Papahku bernama Prasetio wijaya, dan ia bekerja sebagai buruh pabrik berpenghasilan kecil yang membuat aku dan kedua adikku harus berusaha puas dengan apa yang kami miliki. Tapi, walaupun papah hanya buruh pabrik biasa, namun kami sangat bangga punya papah yang bekerja keras seperti papahku.

"Iya pah, hati2 ya." Jawabku sambil nenangin alex yang sedang rewel minta ikut ketempat kerja papah.

Hari ini hari minggu, tapi papahku tidak pernah merasakan yang namanya libur. Setiap hari papah harus banting tulang mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan kami. Aku selalu merasa kasihan melihat papah. Padahal dulu sebelum mamah meninggal, keadaan ekonomi keluarga kami tidak separah sekarang, bahkan bisa dibilang mewah.

***

Tapi takdir berkata lain setelah mamah menderita kanker paru dan butuh biaya banyak untuk berobat keluar negeri.
Bahkan yang lebih parahnya lagi ketika papah di tipu habis oleh kariawan kepercayaannya, karena telah mengambil alih semua aset perusahaan kami.

Waktu itu papah yang lagi fokus dengan penyakit mamah, begitu gampang dimanfaatkan oleh om prans yang sudah lama tergiur dengan kekayaan juga ke suksesan yang dimiliki papah.

Hidup memang keras, sehingga aku dan raffa harus kuat hidup tanpa perhatian dan kasih sayang mamah lagi.

Semenjak sudah tiga tahun kepergian mamah, meninggalkan kami, setelah beliau akirnya menyerah dari penyakit kanker paru stadium akhir yang dideritanya. Jujur, sampai sekarang aku masih tidak percaya dengan apa yang aku alami.

Lima tahun yang lalu, aku masih bisa merasakan tertawa bersama mamah. Ketika sedang duduk dan bercanda bersama di taman belakang rumah dekat kolam renang sambil mendengarkan dongengan upik abu berubah jadi seorang putri cantik "cinderella."

"Mah, aku kangen sama mamah.."😢😢😢
***

Bersambung....